09-June-2011-20:34:30

Generasi Digital


Generasi kini terutama yang lahir setelah tahun 1995 disebut dengan generasi Milenial yang terlahir dengan teknologi serba digital, mulai dari musik digital kemudian akan hadir video digital, buku digital dan serba digital lainnya. Generasi ini sangat berbeda dengan pendahulunya yang begitu lahir langsung mahir memainkan tombol-tombol remote televisi, iphone dan ipad tanpa mencari buku manual. 

Anak yang sudah terbiasa dengan teknologi layar sentuh dari Apple beranggapan semua layar adalah layar sentuh. Memang tak lama lagi tentunya semua layar akan menjadi layar sentuh seperti yang kita lihat di film-film Barat yang menampilkan kecanggihan teknologi masa depan.

Era digital yang terjadi saat ini  mampu merubah norma-norma yang ada di masyarakat. Dulu, generasi muda senang bicara berlama-lama di telepon, generasi kini lebih senang berlama-lama di layar mulai dari layar smartphone, laptop, tablet, ipad dll. Ada berbagai pilihan aplikasi dan konten yang menarik minat mereka seperti sosial media facebook dan twitter ataupun konten games, musik, edukasi ataupun You Tube.

Generasi kini kemana-mana membawa HP, Blackberry ataupun tabletnya ke tempat tidur, bahkan ke  toilet sekalipun jemari tetap lincah mengupdate status maupun berkomunikasi dengan teman di social media. Ketika pagi hari terbangun dan tidak mendapati satupun pesan baru, mereka akan merasa kesepian bahkan merasa tidak eksis. Hal ini menjadikan olahraga jemari terutama jempol menjadi olahraga paling favorit saat ini.

Bahkan televisipun kini juga menjelma menjadi TV Digital. Teknologi IPTV bahkan memungkinkan penonton menonton siaran televisi tidak hanya di TV tapi juga di HP, IPhone, Ipad yang dikenal dengan teknologi Triple Screen seperti yang diperkenalkan oleh Telkom melalui layanan Groovia. Anak-anak generasi ini tanpa manual book mampu mengoperasikan remote IPTV ini tanpa perlu mendapatkan pelatihan menggunakan remote.

Era dengan digital yang dibarengi dengan kemudahan sosial media membawa berbagai dampak positif maupun negatif tergantung bagaimana menyikapinya. Dampak negatif memungkinkan penggunanya khususnya gereasi muda kecanduan games online yang bias berakita putus sekolah ataupun menghabiskan dana atauun uang saku dari orang tuanya. Disisi lain era digital dan social media membuka peluang dan profesi baru menjadi Digitalpreneur bagi generai muda yang kreatif. Bukan tidak mungkin kelak dari Indonesia akan hadir digitalpreneur sekelas Zuckerberg punggawa Facebook yang mendunia itu.

( Sri Safitri )