Belajar Kebersamaan; Ala Mira Lesmana & Riri Riza

Kontributor : Teks: Selvianna Carolusia / Foto2: Ist

Satukan Perbedaan

Jakarta, Kabarindo- Sineas Mira Lesmana dan Riri Reza ternyata memiliki perbedaan.

Mulai dari makanan, pilihan jenis kopi dan topping bubur. Lalu jenis musik, jenis permainan, disiplin waktu, hingga hal yang menjadi passion film.

Mira menyukai film-film umum seperti ET dan Star Wars, sedangkan Riri menyukai jenis film yang lebih “dalam”, seperti Alice in the Cities, yang membahas mengenai filosofi, pemikiran manusia, dan kekhawatiran-kekhawatiran dalam batin manusia.

“Kami sangat berbeda, tapi kami telah membuat sekian banyak film bersama. Sampai tiga berita terakhir Laskar Pelangi, Sang Pemimpin, dan Atambua 39 Derajat Celcius,” ujarnya pada acara TEDx Ultima yang mengusung tema “Dynamic Duo” di Universitas Multimedia Nusantara (UMN), Serpong, Tangerang, akhir pekan kemarin seperti dilansir dari laman beritasatu.

Diakui, keduanya bisa bersinergi karena passion terhadap film yang tidak mungkin dikalahkan oleh apapun. Passion ini pula yang mempertemukan keduanya dan membuat mereka tetap bertahan dalam krisis ekonomi dan persaingan dengan film-film luar.

Krisis ekonomi tahun 1998 tidak memberi banyak peluang dan waktu untuk berkarya. Riri dan Mira pun memutuskan untuk melakukan analisis swot terhadap perfilman Indonesia.

Akhirnya, segmentasi yang spesifik menjadi pilihan mereka, mengantarkan keduanya untuk membuat film kolaborasi pertama Petualangan Sherina. Film yang ditujukan bagi keluarga dan anak-anak ini mendapat sambutan hangat dari masyarakat Indonesia, bahkan dari orang-orang yang selama ini belum pernah menonton bioskop sekalipun.

”Banyak diantara mereka yang membawa uang cash ingin langsung masuk studio, bahkan bawa rantang makanan segala," tutur Mira, yang disusul gelak tawa penonton.

Film yang ditujukan pada sebuah segmen yang sangat spesifik dan dibuat dengan kesungguhan serta kualitas yang baik akan mencapai pasarnya.

“Melalui film, kita bisa berbicara dengan orang dewasa, remaja, atau permasalahan politik. Setiap film, menurut kami, punya misi untuk disampaikan dan wajah Indonesia harus terlihat. Kuncinya adalah fokus ke target tertentu,” tambah Riri.

Passion ini yang dijalankan dan membuahkan hasil. Baginya, cinema is about experience. Film mendorongnya masuk kedalam pengalaman batin tertentu. Riri dan Reza dibawa oleh filmnya ke berbagai belahan dunia. Film membawa mereka kedalam sebuah putaran.

”Dari film kami melihat dan sampai ke hal-hal yang luar biasa, hal-hal baru yang kami nikmati. Dari hal-hal baru, hari-hari yang kami nikmati itu, kami membawanya kembali ke film. Ini adalah suatu siklus, yang terus berulang, menjadi passion kami. Contohnya kekaguman kami pada keindahan Pulau Komodo akhirnya menelurkan karya Atambua, 39 Derajat Celcius,” ungkap Mira.

“So, what’s next?”, tanya Mira.

Lalu ia pun mengambil kutipan dari Master Yoda, Star Wars: Difficult to see, always in motion is the future.

“Jadi, kita lebih baik minum kopi saja”, tutupnya.




Berita Lainnya
Indonesia 2015; Siap Punya Radar Untuk Kawasan Maritim

Jakarta, Kabarindo- Pelaku industri radar kemaritiman berpendapat Indonesia masih memerlukan banyak radar untuk mendukung kegiatan di kawasan maritim.

"Kita butuh macam-macam radar untuk awasi kemaritiman, untuk


Kartu Indonesia Pintar 2015; Siap Bidik 19 Juta Siswa

Jambi, Kabarindo- Kartu Indonesia Pintar (KIP) tahun 2015 membidik 19 juta siswa usia sekolah di seluruh Indonesia.

Hal itu dipapar lugas oleh Menteri Sosial Khofifah Indar


Bandara Supadio Sambut Libur Natal; Buka Posko Natal Sistem Online

Sungai Raya, Kalbar, Kabarindo- General Manager PT Angkasa Pura II cabang Bandara Supadio Pontianak, Candra Dista.

Ia mengatakan saat ini tengah mempersiapkan posko Natal dan Tahun


Industri Nasional 2015; Butuh Banyak Tenaga Kerja

Jakarta, Kabarindo- Pembangunan industri nasional memerlukan dukungan sumber daya manusia (SDM) industri yang kompeten, khususnya tenaga kerja sektor industri.

Hal ini diamanatkan dalam Undang-Undang (UU)