AFI Harus Dipertahankan; Semiloka Pedoman AFI Di Gelar

AFI Harus Dipertahankan; Semiloka Pedoman AFI Di Gelar

Quorum Room, Hotel Alila, Pecenongan, Jakarta, Kabarindo- AFI dalam konteks kebudayaan menurut Romo Mudji Sutrisno yang sudah guru besar terbilang sebagai pengagas Apresiasi Film Indonesia bahwa AFI itu adalah apresiasi dari film-film yang bermuatan kultural, tradisi dan kearifan lokal jadi kebudayaan adalah ruang hidup bagi film-film tertentu.

"Sederhana sekali melihat film itu berbudaya atau tidak, bisa ditilik dari apakah film tersebut humanis atau tidak humanis saja," jelas Romo yang memang mengakui menjadi dua periode sebagai anggota Badan Sensor Film.

Jelas saja apabila ada dikotomi dari AFI atai FFI maka untuk yang tidak mempersoalkan hal-hal yang berbau teknis, pragmatis atau bersumbu pendek saja itulah AFI sementara FFI jelas komersil dan berbicara dengan pemilik modal alias materialistis, bukan ?

Terakhir adalah Film sebagai bahasa medium harus punya muatan kultural, humanis dan sejarah sehingga nilai Apresiasi itu lebih dari sekedar Festival.

"Apa itu Apresiasi, memberi panggung atawa berbagi panggung sehingga kepentingan jelas pada kebudayaan tidak sekedar Festival saja, AFI harus tetap ada," jelasnya semangat bahwa AFI menyelamatkan talenta sineas yang spesifik dan khas berkenaan ke-Indonesiaan.

Berlanjut dengan Nunus Supardi yang pernah menjabat di LSF dan pengamat perfilman menegaskan lagi bahwa AFI eksis dari diskusi intens perihal film-film berkonten kultural dan memang rata-rata kalau diproduksi pasti flop.

"Film yang memiliki nilai kultural raih apresiasi di AFI sebagai bahan ajar sejak 2012 dan jelas ini beda dengan FFI yang sudah eksis 1955 seperti dijelaskan oleh Romo tadi sebelumnya. Jadi eksistensinya tidak bermaksud menyaingi FFI, jadi menurut saya AFI tetap penting untuk digelar" paparnya mengenang awal berdirinya AFI dari bincang serius bersama Johan Tjasmadi dan Pak Ari Wibowo yang prihatin film-film kultural edukatif selalu merugi dan sepi penonton.

Selain Romo dan Nunus Supardi hadir juga beberapa pihak dalam rangka membuat Pedoman AFI dan menegaskan eksistensinya sehingga beda dengan FFI seperti dijelaskan oleh Wina Armada sebagai Ketua Tim Perumus atau Pokja yang menjalankan program Pusbang Kemendikbud RI.

Nanti sore ada Zairin Zain-PPFI, Deborah Gabinetti - Direktur Bali Film Center. Selain itu ada juga Angga D Sasongko, Niniek L Karim, Hardo Sukoyo, Prof. Ibnu Hamad bersama Kapusbang Film tentu saja, DR. Maman Widjaja.

Menarik, pak Nunus mengingatkan eksistensi lahirnya AFI itu dari banyak komunitas film di daerah bersama dengan aktivitas nobarnya yang memang marak dari dulu sampai sekarang.

Anda tentu tahu Istirahatlah Kata-Kata, Turah, atau film seperti Ziarah pun sudah mulai diterima oleh para masyarakat termasuk film urban horror dengan huruf lontara Bugis Makassar berjudul Parakang dan Surau & Silek dari ranah Minang menjadi potensi masa depan dari AFI yang mengapresiasi jadi beda dengan FFI.

Semiloka ini diikuti oleh banyak pihak mulai hari ini sampai Kamis mendatang.

 

AFI tetap harus eksis......!