Adwindo Sambut 2015; Siap Giatkan Promosi Pariwisata Berbasis Digital

Adwindo Sambut 2015; Siap Giatkan Promosi Pariwisata Berbasis Digital

Jakarta, Kabarindo- Sambut tahun 2015, Asosiasi Duta Wisata Indonesia (Adwindo) optimis pariwisata Indonesia akan semakin bertumbuh.

Adwindo berpendapat, promosi destinasi wisata secara digital dan pengembangan kapasitas (capacity building) para duta wisata menjadi hal utama yang perlu diperhatikan oleh segenap stakeholders.

Pengembangan Pariwisata di Indonesia saat ini dirasa semakin membutuhkan banyak praktisi pariwisata yang mumpuni yang tidak hanya berada di level pekerja tetapi juga di level manajerial. Indonesia saat ini sudah bisa dianggap telah memiliki berbagai kegiatan pariwisata yang sangat berkualitas, untuk mendapatkan keuntungan optimal perlu dilakukan pengembangan strategi promosi dan pengembangan sumber daya manusia dalam industri pariwisata.

Ketua Umum Adwindo, Adi Pratama, menuturkan pentingnya para pelaku industri pariwisata untuk menerapkan strategi promosi yang tepat agar kegiatan pariwisata yang diselenggarakan oleh pemerintah bisa mencapai target audience dan mampu menghasilkan kunjungan wisata. “Saat ini berbagai daerah di Indonesia telah memiliki berbagai program pariwisata untuk meningkatkan angka kunjungan wisata ke daerah masing-masing. Namun, sayangnya pelaksanaan berbagai event pariwisata belum mampu meningkatkan angka kunjungan wisata secara signifikan. Hal itu, menurut saya salah satunya disebabkan oleh strategi kampanye public relations, pemasaran, dan promosi yang tidak berjalan dengan optimal. Ada banyak event kita yang tidak memiliki website, kalaupun ada yang memiliki website pengelolaan websitenya belum dijalankan secara serius dan cenderung kurang friendly dengan para pengunjung website tersebut”
“Promosi pariwisata berbasis teknologi / digital merupakan salah satu bentuk efisiensi. Saat ini kita bisa merekam video ketika kita menarikan tarian tradisional dan mengupload ke Youtube. Selain itu, untuk mempromosikan pariwisata kita bisa mengoptimalkan berbagai jejaring sosial seperti facebook, instagram dan path untuk membuat lebih banyak orang mengetahui potensi pariwisata kita. Kita sudah melihat bagaimana berbagai produk dapat begitu cepat digandrungi masyarakat dari berbagai belahan dunia melalui perantara media sosial, kenapa hal ini tidak kita terapkan juga untuk industri pariwisata. Kita hidup di dunia yang kian tidak terbatas, pemanfaatan teknologi dapat menjadi sarana promosi yang memiliki low cost namun di saat yang bersamakan memberikan high-impact” tutur Adi.

Berbicara tentang harapan kepada Pemerintah, Adi menekankan harapannya agar kemampuan segenap Pegawai Dinas Pariwisata di Indonesia turut dikembangkan. “Dinas Pariwisata sebagai representatif pemerintah dalam pengembangan wisata daerah juga harus bekerja ekstra keras, seperti yang dipesankan oleh Presiden Joko Widodo. Terlebih Indonesia akan menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015, lengah sedikit saja maka industri pariwisata kita akan dikuasai oleh pihak luar. Segenap pegawai negeri sipil harus bisa memiliki kompetensi yang sama dengan para professional untuk bisa bersaing di era Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015. Terutama para pegawai negeri sipil harus sudah melek teknologi, sehingga strategi pariwisata yang dibuat dapat disesuaikan dengan tuntutan zaman saat ini. Melek teknologi juga penting agar para aparat pemerintah ini bisa terus meng-update pengetahuan dan id-ide kreatif dalam pengembangan industri pariwisata di daerah.”
Adi juga menuturkan harapannya agar tiap pemerintah daerah memiliki program untuk pemberdayaan dan peningkatan kapasitas para duta wisata. “Pengembangan SDM merupakan salah satu kunci peningkatan jumlah kunjungan wisata ke tanah air. Tentu saja, pemberdayaan para Duta Wisata di berbagai daerah bisa jadi salah satu prioritas pemerintah untuk menyukseskan target kunjungan wisata tahunan. Peningkatan kapasitas mulai dari wawasan bisnis, kemampuan diplomasi - negosiasi dan bahasa asing, serta skill untuk memarketingkan daerah wisata harus mulai semakin dilirik oleh Pemerintah.”
“Para duta wisata harus bisa menjadi garda terdepan bagi pengembangan pariwisata daerah, tidak hanya menjadi icon pada berbagai acara seremonial, namun juga menjadi marketer berbagai obyek wisata yang berada di daerah pemilihannya. Selain itu duta wisata harus bisa menjadi inspirasi bagi anak muda di daerahnya agar mulai peka dan membaca peluang terhadap potensi pariwisata yang dimiliki di daerahnya. Karena jika tidak potensi ini akan dengan mudah dilirik oleh pihak asing dan akhirnya meninggalkan masyarakat daerah setempat sebagai penonton di tengah megahnya industri pariwisata yang berkembang pesat. Hal ini semakin mendesak, mengingat tahun depan kita sudah memasuki Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015,” pungkas Adi.
Data yang dirilis oleh Kementerian Pariwisata menunjukkan, pariwisata telah menjadi salah satu sektor utama dalam perekonomian nasional. Tahun lalu, ketika perekonomian nasional menghadapi krisis global dan penerimaan ekspor menurun tajam, kontribusi pariwisata justru mengalami peningkatan dari 10% menjadi 17% terhadap total ekspor barang dan jasa Indonesia. Penerimaan devisa dari industri pariwisata juga meningkat menjadi US$ 10 miliar atau berada di peringkat 4 setelah sebelumnya hanya berada di peringkat 5.

Kontribusi pariwisata secara langsung terhadap PDB mencapai 3,8% dan jika diperhitungkan efek penggandanya sebesar 9%. Penyerapan tenaga kerja pariwisata mencapai 10,18 juta orang atau 8,9% dari total jumlah perkerja nasional atau sektor pencipta tenaga kerja terbesar keempat. Sementara itu kontribusi ekonomi kreatif terhadap perekonomian nasional , menurut data BPS tahun 2013, sebesar Rp 641,8 triliun atau mencapai 7% PDB nasional. Ekonomi Kreatif mencatat surplus perdagangan selama periode 2010 hingga 2013 sebesar Rp 118 triliun. Kontribusi devisa dari sektor ekonomi kreatif mencapai US$ 11,89 miliar, sedangkan lapangan kerja yang diciptakan oleh sektor ekonomi kreatif sebanyak 11,8 juta orang.