Agribisnis Subak Gauma; Jadi Protipe Daerah Lain

Agribisnis Subak Gauma; Jadi Protipe Daerah Lain

Denpasar, Kabarindo- Badan penerapan teknologi pertanian (BPTP) Bali menjadikan subak Gauma di daerah gudang beras Kabupaten Tabanan sebagai proyek percontohan pengembangan agribisnis terpadu melalui sistem subak.

"Upaya itu dilakukan dengan menginiasi pembentukan kegiatan usaha agribisnis terpadu subak bersangkutan," Dekan Fakultas Pertanian Universitas Dwijendera Denpasar, Gede Sedana, di Denpasar, Minggu.

Ia sebelumnya melakukan penelitian di Subak Gauma dan Selanbawak, Kabupaten Tabanan untuk menyusun desertasi berjudul "Modal sosial daalam pengembangan agribisnis petani pada sistem subak di Bali" untuk meraih gelar doktor pada Program Studi Ilmu Pertanian, Program Pascasarjana Universitas Udayana.

Petani yang terhimpun dalam wadah Subak Guama berupaya menjamin keberlanjutan pengembangan agribisnis berbasis subak dengan melibatkan peranserta petani secara aktif.

Pria kelahiran Singaraja 1 Desember 1964 yang baru saja meraih gelar doktor itu menjelaskan, pengembangan agribisnis pada sistem subak diukur dengan partisipasi petani dalam kegiatan ekonomi produktif tersebut.

"Rata-rata pencapaian skor tingkat partisipasi adalah 79,09 persen dari skor maksimal dengan interval antara 32,20 hingga 88,80 persen, sehingga peranserta petani dalam kegiatan agribisnis tergolong tinggi," ujar Gede Sedana.

Ia mencatat, berdasarkan pada analisa masing-masing perubah partisipasi memiliki bobot yang bervariasi. Peranserta dalam layanan sarana produksi dan alsintan memiliki bobot sebesar 0,69 persen.

Selain itu, ia menemukan, partisipasi pada layanan kredit 0,57 persen dan bobot pada layanan pengolahan dan pemasaran adalah 0,54 persen. Dengan demikian hasil uji kesesuaian model menunjukkan hasil yang cukup menggembirakan.

Gede Sedana mengemukakan, tersedianya fasilitas jalan untuk kendaraan roda empat maupun sepeda motor di kawasan Subak mendorong berkembangnya usaha pengembangan agribisnis dan kegiatan ekonomi produktif lainnya.

Fasilitas dalam kawasan subak itu sangat membantu petani dalam memasarkan hasil produksi, sehingga harga yang dinikmatinya lebih bagus, dibanding subak yang tidak bisa dilalui kendaraan.

Prasarana fisik seperti jalan untuk kendaraan di sejumlah kawasan subak dan daerah sekitarnya relatif bagus sehingga menjadi faktor pendukung dalam pengembangan agribisnis.

Demikian pula fasilitas pendukung lainnya seperti jaringan komunikasi, listrik dan air minum sangat membantu dan memberikan kemudahan kepada masyarakat desa termasuk petani yang terhimpun dalam wadah subak, demikian Gede Suarsa seperti dilansir dari laman antaranews.