Alm.Prof.KH. Anwar Musaddad; Kandidat Pahlawan Nasional

Alm.Prof.KH. Anwar Musaddad; Kandidat Pahlawan Nasional

Auditorium Aneka Bakti Kemsos, Jakarta, Kabarindo- Apakah Anda mengenal sosok Alm.Prof KH. Anwar Musaddad ?

Yah, beliau adalah sosok kharismatik dan panutan anak bangsa, Mensos RI, Hj Khofifah Indarparawansa mengapresiasi dan memberikan penghargaan setinggi-tinggi kepada semua pihak yang masih memiliki nurani untuk menggelorakan semangat kejuangan bangsa ini demi menyongsong kejayaan masa depan.

Menurutnya nilai-nilai kepahlawanan mesti menjadi milestone Indonesia yang dijunjung tinggi untuk selamanya. Sebab, implementasi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di lakukan dalam bentuk hak cipta, rasa dan karsa seiring perkembangan zaman.

"Untuk ini saya mendukung Alm diusulkan melalui seminar di daerah dan tingkat nasional, beliau lah pengagas Darussalam (negara damai) bukan negara Islam untuk Indonesia, ini adalah komitmen para Kiai NU 10 tahun sebelum Indonesia merdeka, 1935 termasuk didalamnya adalah Alm.Prof KH. Anwar Musaddad yang memang hampir 10 tahun di Makkah harus kembali membangun negeri bersama NU. Jadi beliau adalah figur kiai pemersatu dan penggagas Darussalam sehingga pantas dianugerahi Pahlawan Nasional," papar Mensos yang diakui sangat merakyat oleh pendahulunya mantan mensos di era orde lama, Ibu Sulasikin Moerpratomo.

Selain seminar nasional pengusulan Alm. Prof. KH. Anwar Musaddad sebagai Pahlawan Nasional yang digelar oleh TP2GD bersama kemsos menghadirkan banyak pembicara dan sejarahwan seperti Prof. Taufik Abdullah dan lainnya.

Selain acara seminar juga ditandatangani kerjasama antara Kemsos dengan IWAPI dan aksi 1.000 Cap Telapak Tangan bersama Ikatan Wanita Pejuang yang dihadiri oleh Gubernur Jawa Barat, Bupati Garut, Ketua Umum Paguyuban Wanita Pejuang, Cendekiawan, ulama, tokoh masyarakat dan keluarga besar Alm. Prof. KH. Anwar Musaddad.

Di akhir acara, Mensos Khofifah mengingatkan minimnya pahlawan nasional perempuan yang masih sekitar ratusan kalau dibandingkan yang laki-laki, untuk itu ia menyeru agar sejarahwan dapat mengusulkan bersama pemerintah setempat pahlawan nasional perempuan.