Arva Dorong Desainer; Kreatif Sekaligus Pintar

Arva Dorong Desainer; Kreatif Sekaligus Pintar

Surabaya, Kabarindo- Arva School of Fashion mendorong para desainer untuk kreatif sekaligus pintar dalam mengelola bisnis fashion dengan mengadakan seminar dan workshop Fashion & Beyond (Without Selling,Fashion is Nothing) di Palacio, Surabaya, pada Sabtu (12/10).

Acara ini menghadirkan beberapa pembicara yang ahli di bidang masing – masing yaitu Gabriel Evania Sutanto, Ali Milmodh, Alek Kowalski dan Dibya Adipranata.

Gabriel adalah alumnus Arva yang sekarang membuka butik busana anak – anak Bonne Chance. Ia berbagi pengalaman tentang bisnis fashion. Ali adalah Head of Fashion Desain Department First Media Design School (FMDS) Singapore. Alek adalah pemilik ORE premium store dan perintis Sunday Market, Fashion Retail in Surabaya. Ia membahas tentang fashion retail di Indonesia. Sedangkan Dibya memberikan Fun Workshop tentang bagaimana menentukan target pasar suatu produk.

Aryani Widagdo, Direktur Arva, mengatakan ia sengaja menghadirkan para pakar tersebut untuk berbagi pengalaman dan ilmu dalam mengelola bisnis fashion sebagai bekal bagi para peserta seminar agar mereka siap terjun ke industri fashion.

“Desainer bukan hanya piawai merancang busana, tapi juga harus tahu  bagaimana memasarkannya, menangani bisnisnya. Fashion termasuk dalam industri kreatif. Untuk menjadi industri, ada hitungan bisnisnya,” ujarnya.

Menurut Aryani, melihat perkembangan fashion saat ini, para desainer harus memikirkan sisi bisnisnya agar survive. Karena itu, Arva mengajarkan Fashion Business yang memberikan pengetahuan dan bekal kepada para siswa untuk terjun ke industri fashion.

Sementara Ali membahas tentang bagaimana menjadi desainer yang sukses. Ia mengatakan, seorang desainer harus memahami lebih dulu karyanya, bagaimana rancangannya, apa ciri khasnya dan segmen yang dibidik.

“Kreatif saja tidak cukup. Seorang desainer harus tahu keinginan pasar, selera konsumen dan bagaimana daya beli mereka serta kiat menghadapi para pesaing,” ujarnya.

Ali mengatakan, sekarang ini desain yang bagus melampaui estetika, styling maupun bentuk. Hal ini lebih dari sekedar membuat produk yang bagus. Seorang desainer harus mempertimbangkan nilai komersial saat membuat produk untuk dijual.

“Anda tentu tak ingin produk anda jadi pajangan di museum,” selorohnya.

Ali  menambahkan, desainer juga harus mengamati tren di masyarakat. Namun bukan berarti ia harus mengikuti tren. Ali mencontohkan dirinya sendiri yang tidak mengikuti tren, sebaliknya menciptakan tren untuk diikuti masyarakat.
“Saya tak peduli tren. Saya menciptakan tren untuk diikuti pasar. Untuk itu harus punya identitas rancangan. Jika unik akan dicari konsumen,” ujarnya.