Arva Rayakan HUT Ke-25; Usung Tema Resurgence

Arva Rayakan HUT Ke-25; Usung Tema Resurgence

Surabaya, Kabarindo- Merayakan HUT ke-25, Arva School of Fashion menggelar peragaan busana dan kostum karya para siswa maupun alumni dengan mengusung tema Resurgence di Dyandra Convention Center pada Sabtu (22/14/20014) malam.

“Kami mengusung tema utama Resurgence sebagai analogi lahirnya kembali Arva memperingati Silver Jubilee. Kami berkomitmen untuk menjadi lebih baik dan lebih maju dalam perkembangan mode di Surabaya,” ujar Aryani Widagdo, pendiri dan Direktur Arva School of Fashion.

Di acara tersebut ditampilkan Parade Alumni in Journey of Arva, Parade Costume Salute dengan tema Venetian Dolls, Pattern Making and Sewing Program, Easy Sewing and Corset Dress bertema Mida’s Touch dan Graduation Show.

“Seluruh karya siswa yang telah menyelesaikan pendidikan di Arva dirancang berdasarkan tren fashion Spring/Summer 2015. Sesuai kebutuhan dunia mode, koleksi busana diluncurkan 6 bulan sebelum musimnya,” ujar Aryani.

Menurut Aryani, rangkaian sesi tersebut membuktikan kiprah Arva dalam pendidikan fashion di Indonesia selama 25 tahun. Pihaknya terus berkembang lebih baik dalam pendidikan siswa dan kurikulumnya sesuai perkembangan mode dunia. Salah satunya dengan memberikan kesempatan bagi alumnus Program Satu Tahun untuk melanjutkan pendidikan sampai level Bachelor of Arts bekerja sama dengan First Media Design School of Singapore.

Parade Alumni mempersembahkan karya 30 alumni yang telah sukses berkarir. Setiap desainer menampilkan satu rancangan yang mewakili ciri khas masing-masing dalam warna merah, warna Arva.

Parade Costume menampilkan 100 siswa yang mengenakan kostum bertema Venetian Dolls. Di sini era glamor bertemu dengan misteri dengan detil baju ruffle, topeng masquerade dan efek kilau bebatuan yang disatukan dalam pesta kostum yang meriah.

Sedangkan Pattern Making and Sewing Program merupakan program untuk profesional pattern maker. Sesi ini mengusung tema It’s All Too Soon yang terinspirasi oleh film The Aviator yang menggambarkan kehidupan glamor pada 30-an, era dimana jazz muncul. Gaya klasik menjadi fashion acuan utama pada masa itu.

Selanjutnya Easy Sewing and Corset Dress mengambil inspirasi dari mitologi Yunani, Raja Midas yang memiliki kekuatan menyentuh apapun berubah menjadi emas. Gaun glamor beraksen emas menjadi garis utama koleksi ini.

Kemudian Graduation Show menampilkan karya 44 desainer yang baru menyelesaikan pendidikan satu tahun di Arva yang terbagi dalam 5 sub-tema yaitu Forgoteten Tales, Rebirth, Pixelated Pixels, Dry Dunes dan Rebel Rousers.

Forgotten Tales menampilkan karya 8 peserta ujian yang mengangkat tren busana muslim dengan mengambil inspirasi dari relik dari negara-negara muslim dan diaplikasikan pada koleksi dengan menggunakan teknik printing, tie dye dan ikat celup dalam warna-warna cerah dipadu netral.

Rebirth menampilkan karya 6 peserta yang terinspirasi dari bentuk-bentuk kehidupan yang drefleksikan dalam siluet dan tekstur dari fenomena alam. Menggunakan teknik drapping dan manipulasi kain menjadi koleksi modern avant garde dengan nafas ready to wear.

Salah satu peserta Hany Mustikasari menampilkan karya yang terinspirasi oleh air dengan menonjolkan sisi feminin, ringan namun kuat seperti air. Peserta lain, Yessy Yuliany Khoe menampilkan karya yang terinspirasi dari pengalaman saat mendekati kematian. Memori yang campur aduk bermunculan di kepala diaplikasikan dalam bentuk pola bertumpuk dalam warna kuning dan coklat dari bahan organdi, linen dan wool.

Kemudian Novi Trinatasari menampilkan karya yang terinspirasi dari bunga yang diterbangkan angin seperti kehidupan yang bergantung pada takdir. Ia mengaplikasikannya pada bahan wool dan sifon yang transparan dan lembut. Sedangkan Sushmita Saputri menampilkan karya bertema Samsara yang menggambarkan kehidupan yang dijalani manusia dengan bermacam perasaan mulai dari sedih hingga bahagia.