BATAN RI; Hadirkan Teknologi Kantong Plastik Ramah Lingkungan

BATAN RI; Hadirkan Teknologi Kantong Plastik Ramah Lingkungan

Kuningan, Jakarta, Kabarindo- Dalam upaya menghindari penggunaan kantong plastik yang tidak ramah lingkungan dan meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap semakin memburuknya kualitas lingkungan, serta ikut serta mendukung program pemerintah dalam mengurangi penggunaan produk plastik konvensional, hari ini Badan Teknologi Nuklir Nasional (BATAN) R.I melalui Pusat Aplikasi Isotop dan Radiasinya  (PAIR) telah mengembangkan teknologi terbaru dengan menciptakan dan berupaya menghadirkan produk kantong plastik ramah lingkungan di Indonesia.

"Kami buat kantong plastik yang ramah lingkungan dengan teknologi yang mudah terurai oleh bakteri, atau sinar matahari," kata Djarot Sulistio Wisnubroto, Kepala BATAN saat gelar konferensi pers di Gedung A, Kantor Pusat BATAN, Kuningan Barat, Jakarta, Senin, 07/03/2016.
Teknologi Plastik yang mudah diurai ini sudah kami kembangkan sekitar 15 tahun lalu, jadi tenaga nuklir itu tidak selalu membahayakan manusia, melainkan dapat menolong kehidupan manusia, jelasnya lanjut.

Upaya BATAN ini didasari atas bentuk  keprihatinan terhadap penggunaan kantong plastik yang terus meningkat sebagai bagian dari gaya hidup masyarakat modern, yang sewaktu waktu dapat menimbulkan permasalahan terhadap lingkungan hidup.

Menurut Dirjen Pengelolaan Sampah, Limbah dan B3, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, lebih dari satu juta kantong plastik digunakan setiap menit dan hanya sekitar 50 persen yang digunakan sekali pakai kemudian menjadi sampah. Dari total kantong plastik tersebut, hanya sekitar 5 persen yang dilakukan daur ulang.

Hal tersebut disikapi oleh BATAN sebagai lembaga Pemerintah Non Kementerian yang mempunyai tugas untuk melaksanakan tugas pemerintahan di bidang penelitian, pengembangan dan pendayagunaan iptek nuklir sesuai dengan ketentuan peraturan perundang undangan, untuk membantu dan mendukung program pemerintah serta memberikan solusi terbaik dalam hal mengendalikan penggunaan kantong plastik dengan mengoptimalkan radiasi untuk memproduksi plastik ramah lingkungan dan mengatasi limbah plastik yang konvensional atau disebut limbah yang tidak mudah terurai.

Dengan berlakunya kebijakan Pemerintah yang belum lama ini telah diterapkan di seluruh pusat perbelanjaan, baik di Supermarket maupun di Departemen Store tentang pemakaian kantong plastik berbayar, Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) menganggap hal ini kurang efektif.
"Kebijakan pemerintah untuk mengurangi penggunaan kantong berbahan plastik sudah tepat, karena untuk mengatasi permasalahan sampah plastik, namun hal ini tidak banyak berpengaruh dan kurang efektif untuk mengendalikan penggunaan kantong plastik apalagi dengan keharusan membayarnya sangat murah untuk kantong plastik yang konvensional tersebut," ungkap Tulus Abadi, Ketua YLKI yang turut hadir dalam konferensi pers tersebut.

Dalam kesempatan yang sama, Hendig  Winarno, Kepala PAIR juga menjelaskan bahwa, produk teknologi plastik ramah lingkungan ini dikembangkan dengan menggunakan komposit limbah tapioka.

"Prosesnya dimulai dengan membuat biji plastik dengan berbasis limbah tapioka dan beberapa bahan polimer lainnya agar mudah terurai secara alami, dan selanjutnya bahan tersebut diproses menjadi kopolimer (membentuk senyawa dengan ikatan kompleks) dengan menggunakan teknologi radiasi (penyinaran radiasi gamma yang memerlukan waktu sekitar 2-3 jam dengan dosis 10 kilo Gray (kGy)). Dan apabila tidak menggunakan radiasi, papar Hendig Winarno lanjut, maka proses pembentukan kopolimer memerlukan suhu sekitar 60 derajat celcius, yang berarti memerlukan energi listrik dalam jumlah besar," jelasnya dalam menerangkan proses pembuatan kantong plastik ramah lingkungan kepada rekan-rekan media.

Keunggulan lain plastik ramah lingkungan tersebut adalah proses pembuatannya yang relatif cepat dan produk yang dihasilkan dapat terurai dengan sempurna setelah penguburan di dalam tanah selama 2-6 bulan.

Pada kesempatan terakhir, Djarot Sulistio Wisnubroto mengaku, BATAN telah bekerjasama dengan PT.Sarana Tunggal Optima, untuk memproduksi plastik ramah lingkungan untuk ditingkatkan pada skala industri. Rencananya mekanisme penerapan dan pemasaran kantong plastik ramah lingkungan ini akan dibahas lebih lanjut dengan pemerintah, dan diharapkan produk ini menjadi solusi tepat untuk mengatasi limbah plastik konvensional yang jumlahnya terus meningkat,  pungkasnya tutup.