BETA MALUKU - KATONG SATU; Siap Tayang 19 Juni

BETA MALUKU - KATONG SATU; Siap Tayang 19 Juni

XXI Djakarta Theater, Thamrin, Jakarta, Kabarindo- Butuh tak lebih dari tujuh menit untuk sebuah emotional rollercoster.

Dari amarah laksana pijar api, berubah sepi seperti kawah gunung yang telah mati.

Intro sedemikian rupa cukup ideal untuk sebuah film yang--sejujurnya--sudah bisa ditebak alur dan hilirnya ini.
Alhasil, jika "penasaran akan sesuatu yang mengejutkan" menjadi alasan untuk menonton film ini, tampaknya pemirsa akan kecewa.

Namun apabila "merasakan hidup di tengah bara" merupakan pesona yang coba disajikan di Cahaya dari Timur - Beta Maluku, kita akan bisa mengecap itu.

Dan itulah pembangkit selera untuk bertahan selama sekitar dua jam menyaksikan film ini.

Kecermatan properti adalah salah satu kekuatan dalam film ini. Mobil dan motor produksi lama, televisi tabung dan radio boombox yang digotong pengungsi, foto SBY dan Jusuf Kalla di dinding kelas, dan pecahan uang yang dipakai, memperlihatkan ketelitian itu.

Agak mengganggu bahwa sejumlah dialog terkesan klise. Sani, sebagai sosok sentral, kurang ekstrim mengekspos dia punya perasaan.

Konflik komunal bergeser ke pergolakan pribadi. Keindahan panorama Maluku, khususnya Tulehu, pun seperti lupa untuk dieksploatasi lebih habis-habisan.
Juga disayangkan, dramatisasi kemelut berdarah yang diledakkan pada bagian-bagian awal film ini justru meredup pada menit-menit berikutnya.

Kecuali pada segmen ketika sesama anggota kesebelasan bertikai. Andai saja adegan-adegan pada malam hari dilengkapi dengan bunyi bom rakitan di kejauhan, atau baku hantam pada siang hari digambar dengan berfokus pada ekspresi wajah warga yang baku hantam, atau dendam dibiarkan sesekali meletup, perasaan tercekam penonton akan bisa terjaga hingga mencapai klimaks.

Tapi, Cahaya dari Timur memang bukan film dokumenter atau reka ulang tragedi. Dia juga tidak diproduksi untuk mengerutkan dahi apalagi menggerus hati.

Cahaya dari Timur adalah pembangkit harapan. Kisah tentang kehidupan, yang tidak harus disandingkan dengan kematian. Beta Maluku bukan dongeng tentang pemicu seteru, melainkan tamsil yang mengingatkan kita akan kata "satu".

Masa peluncuran film ini menegaskan itu. Sehingga kian nyaring sebuah pesan samar-samar dari film ini: "Pro-1" atau pun "Pro-2" silakan; tapi "Pro-merah-putih" tetap harus menjadi junjungan.

Beta Maluku menyindir, tanpa nyinyir, bahwa ternyata terang bisa datang dari wilayah 'kelas dua' Indonesia.
Kilaunya semestinya merupakan benderang yang bisa ditangkap oleh mata dan hati orang-orang di Barat, wilayah yang di sana berserak--sebutlah--pusat Indonesia.

Jangankan menggocek bola sepak! Andaikan merah dan putih--baik bermakna konotatif maupun denotatif--sungguh-sungguh bersatu, menggenggam bola dunia pun...ah, sepele itu!


"...bikin bangga...insha Allah."