BI Dukung Pengembangan Kedelai; Varietas Grobogan

BI Dukung Pengembangan Kedelai; Varietas Grobogan

Surabaya, Kabarindo-  Kedelai merupakan salah satu komoditi pangan strategis sebagai pengganti protein hewani.

Kebutuhan kedelai secara nasional sebesar 2,2 juta ton/tahun dan hampir separonya dipenuhi nelalui impor. Di Jawa Timur, rata-rata produksi kedelai 420.000 ton/tahun dan impor sebesar 65.000 ton/tahun.

Ketidakseimbangan antara permintaan dan penawaran merupakan salah satu penyebab inflasi komoditas kedelai, sehingga diperlukan tindakan untuk mendukung ketersediaan dan keseimbangannya Karena itu kedelai memperoleh prioritas untuk dikembangkan oleh pemerintah dalam rangka penyediaan protein bagi masyarakat.

Berdasarkan pertimbangan tersebut, Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Jawa Timur memandang perlu melakukan upaya peningkatan produksi dan produktivitas kedelai di Jawa Timur, khususnya melalui pengembangan budidaya kedelai dengan pendekatan klaster.

Pada Juni 2015, Bank Indonesia dan Pemkab Lamongan telah menandatangani memorandum of understanding (MoU) dalam rangka pengembangan klaster kedelai dan telah melakukan panen raya kedelai baru-baru ini.

Menurut Deputi Kepala Perwakilan BI Jawa Timur, Syarifuddin Bassara, pengembangan klaster kedelai merupakan upaya penguatan sinergi dan kolaborasi BI dengan Pemkab Lamongan dalam mengembangkan sektor riil dan khususnya dalam pengendalian inflasi komoditas pangan.

Di Jatim, Kabupaten Lamongan merupakan penghasil kedelai utama dengan luas lahan tanaman kedelai 24.000 ha, namun dengan tingkat produktivitas yang masih rendah yaitu 1,4 ton/ha yang sebagian besar varietas Wilis.

Di sisi lain, terdapat varietas kedelai lain yaitu Grobogan yang mampu mencapai produktivitas di atas 2,5 ton/ha. Tingkat produktivitasnya lebih tinggi dan sesuai sebagai pengganti kebutuhan kedelai impor, karena ukuran bulir kedelainya relatif besar dan memiliki kandungan protein yang lebih tinggi di bandingkan kedelai impor.

Dalam rangka mendukung program swasembada pangan nasional, Pemkab Lamongan telah menetapkan kedelai sebagai salah satu dari 3 komoditi pangan yang memperoleh prioritas untuk dikembangkan setelah padi dan jagung. Pengembangan klaster ketahanan pangan oleh BI merupakan salah satu upaya BI dalam mendukung upaya pemda untuk mencapai ketahanan dan kemandirian pangan nasional serta meningkatkan pertumbuhan ekonomi daerah.

"Tujuan umum pengembangan klaster kedelai di Kabupaten Lamongan adalah meningkatkan produksi dan pendapatan petani kedelai, khususnya melalui peningkatan produktivitas dari semula rata-rata 1,4 ton/ha menjadi di atas 2 ton/ha yang didukung oleh kelompok tani yang kuat. Dengan meningkatnya produktivitas, diharapkan dapat menstabilkan harga komoditas kedelai, meningkatkan kesejahteraan petani dan mengurangi volume impor kedelai," ujar Syarifuddin pada Senin (28/9/2015).

Ia mengatakan, BI telah memberikan bantuan fisik maupun non-fisik. Bantuan fisik berupa hand sprayer dan mesin perontok kedelai, padi dan jagung yang dikenal dengan power thresher. Sedangkan bantuan non fisik berupa pendampingan budidaya kedelai dengan varietas Grobogan dan penguatan kelembagaan kelompok petani kedelai.

Diharapkan, kelompok petani kedelai yang tergabung di dalam klaster dapat menjalankan kegiatan usaha, diantaranya simpan pinjam dan perdagangan, sehingga keberadaan kelompok tani benar-benar dapat memberikan nilai tambah ekonomi bagi anggotanya.

Pengembangan klaster kedelai didahului dengan pembangunan demplot seluas 15 ha yaitu 10 ha di Kecamatan Sugio dan 5 ha di Kecamatan Kedungpring. Dengan pendampingan tenaga PPL serta konsultan ahli kelembagaan dan budidaya kedelai khususnya varietas Grobogon, Demplot kedelai telah menunjukkan hasil, diantaranya waktu panen kurang dari 75 hari dan produksi yang relatif lebih tinggi dibandingkan varietas Wilis yang selama ini banyak ditanam oleh petani di Lamongan.

Dengan kondisi tidak memperoleh pengairan yang cukup baik karena musim kemarau selama periode tanam, demplot tersebut berhasil mencapai rata rata produksi 2,2 ton/ha, tertinggi 2,72 ton/ha. Angka ini diperkirakan akan lebih tinggi jika lahan memperoleh pengairan yang cukup.

BI berharap keberhasilan pengembangan klaster kedelai dengan varietas Grobogan ini dapat diterapkan oleh para petani di Kabupaten Lamongan dengan cara budidaya yang sesuai. Dengan demikian, ketahanan pangan komoditas kedelai dalam negeri dapat segera tercapai.