Badan Intelijen Negara; Rilis Penjemputan Kelompok Bersenjata

Badan Intelijen Negara; Rilis Penjemputan Kelompok Bersenjata

Halim, Jakarta, Kabarindo-  Akhir pekan ini Kepala Badan Intelijen Negara.

Sutiyoso menyampaikan kepada media dan publik terkait proses penjemputan kelompok bersenjata yang paling dicari oleh Kepolisian Republik Indonesia.

Nurdin Ismail alias Din Minimi yang telah mengakhiri pergerakannya sebagai kolompok bersenjata di Aceh dan menyerah bersama teman-temannya berketetapan untuk turun gunung serta kembali ke masyarakat dan hidup selayaknya warga negara yang baik.

Dalam pernyataan persnya, Sutiyoso mengatakan bahwa mereka (Din Minimi Cs) adalah kelompok bersenjata yang mempunyai alasan tersendiri mengapa mereka-mereka melakukan hal tersebut, ada alasan dan keinginan mereka rupanya, ujarnya di salah satu ruang Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta.

Proses penjemputan Din Minimi sendiri diakui oleh Kepala BIN berlangsung lama dan seperti melamar gadis, karena ada tututan yang ingin disampaikan, agar bisa terpenuhi. Tuntutan ini ditujukan kepada para pemimpin dan pemerintahan negara Republik Indonesia ini, kata Sutiyoso.
Adapun tuntutan Din Minimi Cs tersebut sebagai berikut ; Pertama, re-integrasi perjanjian Helsinski. Kedua, soal nasib yatim piatu terutama eks keluarga gerakan Aceh Merdeka (GAM) agar diberi perawatan. Ketiga, para janda diberikan kesejahteraan yang layak. Keempat, KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) diminta turun kedaerah-daerah dan mengawasi Pemda Aceh, karena menurut Din Minimi Cs banyak para pejabat daerah yang korup dalam pengelolaan dan penggunaan anggaran daerah (APBD). Kelima, kelompok bersenjata itu meminta tim peninjau independen memantau penyelenggaraan Pilkada Gubernur Aceh yang akan dilaksanakan pada tahun 2017 mendatang.

"Permintaan serta tuntutan mereka, sepanjang masuk akal, saya rasa tidak masalah, dan itu dapat diselesaikan oleh pemerintah daerah dan pusat," ujar Kepala BIN.

Saat penjelasannya dihadapan rekan-rekan media, Sutiyoso juga menuturkan perihal saat saya tiba didaerah Lhokseumawe, Aceh dan masuk kedaerah penjemputan untuk melakukan penjemputan Din Minimi, yang mana sejak awal dalam melakukan penjemputan Din Minimi, kita diawasi terus oleh anggota mereka dan juga tidak luput pengawasan dari warga daerah tersebut.
"Kami hanya diperbolehkan oleh mereka hanya 3 (tiga) orang saja untuk melakukan penjemputan," kata Kepala BIN. Diantaranya  tiga orang tersebut yaitu Deputi II BIN Mayjen TNI Thamrin, Direktur 23 Brigjen TNI Zulfazdi Juni dan Juha Christensen, perwakilan dari Aceh Monitoring Mission (AMM).

Dan dalam situasi penjemputan saya melihat dan menilai bahwa masyarakat daerah yang berada disekitar wilayah mereka beroperasi, memiliki hubungan sangat dekat dan nama ketua kelompok bersenjata Din Minimi ini sangat santer di masyarakat daerah tersebut.
"Kelompok mereka sangat dielu-elukan oleh masyarakat setempat," tutur Sutiyoso.

Dan saya berpendapat mereka ini bukanlah kelompok gerakan separatis alias GAM yang terkenal bahayanya, melainkan mereka hanya kelompok bersenjata yang kecewa dengan para pemimpin GAM (Gerakan Aceh Merdeka), jelas lanjut Kepala BIN.

Din Minimin Cs dalam penyerahan dirinya telah menyerahkan senjata yang ada serta berikut satu karung amunisinya. Dan menurut berita yang dilansir oleh Tempo.co , kelompok yang dituding oleh pihak kepolisian sebagai kelompok kriminal tidak lagi diburu dan ditangkap, dan dengan penyerahan diri ini, pihak kepolisian dengan kami (Din Minimi Cs) bersepakat untuk memberikan status kami sebagai sipil biasa, demikian kata dari Din Minimi.

Kepala BIN mengatakan, mereka (Din Minimi Cs) telah dijemput dan dikembalikan kepada orang tuanya masing-masing.

Keberhasilan dalam proses penjemputan ini sendiri, adalah peran semua pihak, baik dari Kodim dan pihak Kepolisian.