Bregada Asem Gede Asal Sleman; Raih Penyaji Unggulan Terbaik

Bregada Asem Gede Asal Sleman; Raih Penyaji Unggulan Terbaik

Sleman, Kabarindo- Bregada Asem Gede asal Dusun Krapyak Margoagung Seyegan Sleman DIY meraih sebagai Penyaji Unggulan Terbaik dalam Karnaval Keprajuritan Nusantara yang digelar dalam rangka Pekan Wira Budaya yang diselenggarakan oleh Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Minggu 10 November 2013 silam Bregada Asem Gede.

Dibawah pimpinan Masimin yang menampilkan fragmen dengan judul “Ontran-ontran Bumi Tegalrejo” tampil memukau dihadapan para pengunjung TMII. Demikian dinyatakan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Sleman Ir. AA Ayu Laksmidewi TP, MM, Senin 11 November 2013 di kantornya Jl. KRTPringgodiningrat No.13 Beran Tridadi Sleman DIY.

Ayu menambahkan bahwa perolehan prestasi tersebut merupakan suatu kebanggaan tersendiri karena tidak hanya membawa nama dan citra Kabupaten Sleman namun juga nama dan citra DIY di kancah nasional. Oleh karenanya diharapkan Bregada Asem Gede tidak boleh berpuas diri dengan penghargaan tersebut. Sudah seharusnya prestasi di kancah nasional ini justru dijadikan motivasi yang memperkuat agar dapat lebih meningkatkan diri dalam hal kekompakan, semangat dan berbagai inovasi terkait dengan garapan tari, rias dan busana maupun sisi atraksi. Diharapkan Bregada Asem Gede juga mampu untuk belajar dari kelebihan-kelebihan yang dimiliki oleh kontingen-kontingen lain dari berbagai daerah yang berlaga di Karnaval Keprajuritan Nusantara tersebut. Sementara itu sebagai penyaji unggulan lainnya adalah kontingen dari Bali, Jawa Tengah, Jawa Timur dan Nusa Tenggara Barat (NTB).

Fragmen Ontran-ontran Bumi Tegalrejo yang dibawakan oleh Bregada Asem Gede menggambarkan hubungan antara Belanda dan raja-raja di tanah Jawa, yang pada awalnya lebih bersifat kesetaraan mitra dagang, namun kemudian menjadi ketidaksetaraan antara abdi dan juragan. Hal ini mendapat penolakan yanag sangat keras dari Pangeran Diponegoro, putra sulung Sultan Hamengkubuwono II yang menolak dijadikan putra mahkota dan memilih tinggal di luar kraton, yakni di Tegalrejo.

Perlawanan Pangeran Diponegoro terhadap Belanda semakin membara ketika merasakan arogansi Belanda yang akan membangun jalan baru yang melewati makam leluhur dan tanah persawahan di Tegalrejo demi kepentingan Belanda dalam upaya mengeksploitasi kekayaan Pulau Jawa.
Dengan dibanti Alibasya Sentot Prawirodirjo, Paangeran Diponegoro menggelorakan semangat perjuangan dan perlawanan terhadap Belanda sampai dengan titik darah penghabisan.