Dewi Ballet Studio; Siap Pentaskan The Music Box And The World

Dewi Ballet Studio; Siap Pentaskan The Music Box And The World

Surabaya, Kabarindo- Dewi Ballet Studio siap menggelar pementasan The Music Box and The World di Exhibition Center, Galaxy Mall, Surabaya, pada Sabtu (14/11/2015) mendatang.

Drg. Amelia Tandjung, salah satu pimpinan Dewi Ballet Studio, mengatakan acara tersebut merupakan pementasan besar yang diadakan dua tahun sekali. The Music and The World akan menampilkan 9 nomor tarian selama sekitar 2 jam yang dibawakan 60 penari usia 3-21 tahun.

“Kami sudah melakukan latihan 4 bulan dan semuanya siap memberikan penampilan terbaik Dalam pementasan nanti para penari akan menampilkan modern dance, kreasi baru, kontemporer, jazz, hip hop, broadway dan tradisional Indonesia,” ujarnya.

Kesembilan nomor tarian yang akan ditampilkan adalah The Music Box, Little Star, Black in White, Hitam Putih, Prelude, Life, Cheer Up, The World dan Curtain Call. Dua nomor yang menonjol yang menjadi judul pementasan kali ini adalah The Music Box dan The World.

The Music Box berdurasi 50 menit dengan koreografer drg. Amelia, drg. Tjindrawati Thamrin, Amelia Namara dan Cecilia Dewi yang menampilkan penari Amelia Namara sebagai tokoh Clementine dan Cecilia Dewi Kusumawati Angriawan sebagai Chloe.

“The Music Box menceritakan kisah Clementine dan Chloe yang mendapat pelajaran bahwa tindakan kecil yang didasari keserakahan dan iri hati bisa menjadi besar dan menyusahkan orang lain. Walaupun sudah terlanjur, tidak terlambat untuk menyesali tindakan itu dan meminta maaf dengan tulus,” ujar drg. Amel, sapaan akrab Amelia Tandjung.

Untuk tarian The World, durasinya 23 menit dengan koreografer Dewi Rani, pendiri Dewi Ballet yang kini tinggal di Kanada, namun datang ke Surabaya khusus untuk ikut mengurusi pementasan. Dewi juga menjadi koreografer pada nomor Life dengan penari Cecilia Dewi Kusumawati.

The World mengisahkan tentang banyak kejadian di dunia dan bermacam karakter orang. Ada baik, buruk, yang lemah dan yang jahat. Manakah yang lebih dominan, paling lemah dan paling kuat? Dewi mengajak kita untuk membayangkan.

Drg. Amel mengatakan, Dewi Ballet Studio mengajarkan balet klasik sebagai fokus utama, namun juga memberikan kesempatan kepada murid-murid untuk mempelajari bermacam aliran tari yang lain untuk meningkatkan keahlian mereka. Dalam setiap pagelaran selalu ditampilkan modern dance, kreasi baru, kontemporer, jazz, hip hop, broadway dan tradisional Indonesia.

Dewi Ballet Studio didirikan Dewi Rani pada 1973 di Surabaya. Studio ini menjadi anggota Royal Academy of Dance, London, sejak 1976. Pada 1978, Dewi Ballet menjadi sekolah balet klasik pertama di Indonesia yang menggunakan sistem kurikulum dan ijazah dari Royal Academy of Dance. Murid-murid Dewi telah banyak yang berhasil dan mendirikan sekolah balet sendiri di Indonesia maupun di Iuar negeri.

Karya-karya terkenal yang pernah dipentaskan Dewi Ballet antara lain Snow White (2003), Cinderella (2004), Pocahontas (2005), Princess and the Pea (2007), Love and Miracle (2009), Around the World (2011) dan Magic Flute (2013). Sedangkan karya kontemporer yang sudah ditampilkan adalah Kaki-kaki Tangan (2004), Shadow ?!. (2005), Dua Sisi (2007), Bingkai (2009), Concerto (2009), Ultra (2011), Empat Wajah (2011), Immortal (2013) dan Reflection (2013).

Dewi Ballet juga ambil bagian dalam berbagai acara baik tingkat nasional maupun internasional. Pada 1995 dan 1997, studio ini dipilih oleh KJRI Vancouver, Kanada, untuk menampilkan kebudayaan dan kesenian Indonesia di sana dalam rangka HUT Kemerdekaan Rl ke-50 dan 52. Selain itu, Dewi Ballet diajak bekerja sama dengan seniman seluruh Indonesia dalam Festival Seni Surabaya pada 2005 dan Festival Cak Durasim pada 2008.