Dinas Pertanian Bali; Sudah Terbitkan 39 Sertifikat Organik

Dinas Pertanian Bali; Sudah Terbitkan 39 Sertifikat Organik

Denpasar, Kabarindo- Dinas Pertanian Tanaman Pangan Provinsi Bali hingga kini sudah menyerahkan 39 sertifikasi organik terhadap komoditas hortikultura dan perkebunan kepada kelompok tani maupun petani secara perorangan.

"Sertifikat prima itu menjelaskan tentang kesegaran dan keamanan produk pangan untuk dikonsumsi konsumen yang akan menjadi salah satu persyaratan dalam memasarkan hasil pertanian organik," kata Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan Provinsi Bali Ida Bagus Wisnuardana, di Denpasar, Minggu (28/9).

Ia mengatakan sertifikat prima itu terdiri atas 28 sertifikat organik untuk komoditas tanaman pangan dan hortikultura serta sebelas untuk komoditas sektor perkebunan.

Petani maupun kelompok tani di daerah tujuan wisata ini ke depannya diharapkan memiliki sertifikat prima tentang penggarapan proses produksi yang dilakukan secara ramah lingkungan yang dinilai oleh Otoritas Komponen Keamanan Pangan Daerah (OKKPD) yang bernaung di bawah Dinas Pertanian Tanaman Pangan setempat.

Wisnuardana menjelaskan sertifikat organik yang menunjukkan keterjaminan mutu dan aman untuk dikonsumsi itu sangat bermanfaat dalam memasarkan hasil pertanian ke pusat-pusat perbelanjaan, hotel, antarpulau maupun ekspor.

"Dengan demikian, pertanian organik menjadi keunggulan dalam memasarkan hasil produksi pertanian," katanya.

Komoditas hasil pertanian organik di Bali selama ini dihargai lebih mahal dibandingkan dengan hasil pertanian non-organik, sehingga mampu memberikan nilai tambah dalam meningkatkan pendapatan petani.

Hal itu berlaku untuk semua hasil produksi pertanian dalam arti luas. Gabah beras putih hasil pertanian organik dihargai Rp 4.300 per kg, sementara non organik Rp 4.200 sehingga organik lebih mahal lagi Rp 100 untuk setiap kilogramnya.

Dalam bentuk beras putih organik Rp 12.000 per kg, beras non organik hanya Rp 8.500 per kg sehingga selisih harga mencapai Rp 3.500 per kilogram. Gabah beras merah organik Rp 6.000 per kg dan non organik hanya Rp 5.000 sehingga ada selisih Rp 1.000 setiap kilogramnya.

Untuk beras merah organik mencapai Rp 18.000 per kg, non-organik hanya Rp 16.000 sehingga mempunyai selisih Rp 2.000 per kg. Buah naga organik Rp 27.000 per kg dan non-organik hanya Rp 25.000 per kg.

Demikian pula bawang merah organik mencapai Rp15.000 per kg non organik hanya Rp10.000 per kg sehingga terdapat selisih Rp 5.000 untuk setiap kilogramnya.

Wisnuardana menjelaskan perbedaan harga antara hasil pertanian organik dan non organik juga berlaku untuk sayur mayur yang mencapai Rp 5.545 per kg.

Untuk jenis kol misalnya hasil pertanian organik Rp 4.000 per kg, non-organik Rp 3.000 per kg, wortel organik Rp 13.500 dan non-organik Rp 7.000 per kg, bunga kol organik Rp 13.500 dan non-organik Rp 8.000 seperti dilansir dari laman beritasatu.