Disbudpar Sleman; Ajak Komunitas Medsos

Disbudpar Sleman; Ajak Komunitas Medsos

Sleman, Jakarta, Kabarindo- Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Sleman memberikan peluang luas kepada komunitas media sosial untuk ikut serta berpartisipasi mempromosikan potensi dan daya tarik wisata Sleman.

Hal ini diawali dengan diadakannya familiarization trip (famtrip) bagi 20 (dua puluh) komunitas media sosial dan travel blogger ke beberapa destinasi Sleman, beberapa waktu lalu.

Famtrip tersebut dipimpin oleh Kepala Bidang Pemasaran Pariwisata Disbudpar Sleman Dra. Nurhadiyati Patminingsih yang didampingi oleh Kepala Seksi Dokinfo Pariwisata Wasita, SS, M.AP.

Destinasi yang dikunjungi meliputi Museum Gempa Prof dr. Sarwidi, Rumah Budaya “Omah Petruk”, Desa Wisata Pulesari dan KWT Sri Rejeki. Menurut salah satu peserta famtrip asal Jakarta Ejie Belula yang mengelola ejiebelula.com, obyek kunjungan famtrip tersebut sangat menarik dan memberikan referensi yang bermanfaat sebagai bahan tulisan. Menurutnya famtrip kali ini memberikan pengalaman yang berbeda dan unik karena peserta diajak untuk mengunjungi destinasi yang masih tergolong baru baginya.

Sementara itu Hajar Pamundi yang mengelola FB Jogjaku menyatakan terkesan saat berkunjung ke Museum Gempa Prof Dr. Sarwidi. Hal tersebut dikarenakan konten dan koleksi yang ada didalamnya merupakan sarana edukasi kepada masyarakat untuk menghadapi dan memahami bencana secara positif. Diantara edukasi tersebut adalah bagaimana cara-cara menghadapi bencana khususnya gempa bumi.
Terlebih dari itu Museum Gempa Prof Dr. Sarwidi juga memberikan dan mengenalkan tehnologi rumah tahan germpa yang diberi nama BARRATAGA (Bangunan Rumah Rakyat Tahan Gempa). Sebagai seorang yang berkecimpung didunia properti, ia merasa dapat mengambil manfaat secara optimal.

Obyek kunjungan yang lain yaitu Rumah Budaya “Omah Petruk” yang berlokasi di dusun Karang Kletak Hargobinangun Pakem juga memberikan pengalaman tersendiri kepada para peserta. Sebagaimana diungkapkan oleh Antok sebagai salah satu pengelola, bahwa rumah budaya ini mengakomodasi berbagai perbedaan yang ada di negeri ini, baik menyangkut perbedaan agama, ras, budaya, suku, bangsa, dll. Intinya disini merupakan tempat yang cocok untuk terjadinya akulturasi budaya yang tentunya akan memberikan kontribusi terhadap upaya membangun persatuan dan kesatuan bangsa. Bahkan pada tahun 2014 silam dipilih sebagai ajang penyelenggaraan event internasional Asia Tri.

Desa wisata Pulesari merupakan sebuah desa wisata yang mengalami perkembangan sangat pesat. Desa wisata yang berlokasi di desa Wonokerto Turi ini dibentuk pada tahun 2012, akan tetapi selama kurun waktu 3 (tiga) tahun ini mengalami pertumbuhan yang cepat dengan banyaknya wisatawan dari berbagai daerah untuk mengunjungi dan melakukan berbagai aktivitas yang ditawarkan, diantaranya outbound, fungame, susur sungai, belajar budidaya salak, membajak dan menanam padi, memandikan domba/ sapi, belajar membatik, belajar membuat aneka janur manten, kerajinan keranjang, tarian salak, menangkap ikan, belajar gamelan, menari dll.
Sedangkan Kelompok Wanita Tani Sri Rejeki yang berlokasi di Kembangarum Donokerto Turi merupakan sebuah usaha kecil dan menengah yang memproduksi berbagai olahan salak, diantaranya dodol, wajik, karamel, geplak, manisan, asinan dan bahkan biji salak pun diolah menjadi bubuk minuman seperti kopi.

Kelompok ini dipimpin oleh oleh Sri Sujarwati dan dimaksudkan untuk mengolah salak menjadi berbagai macam produk untuk mengangkat nilai jual pasca panen raya.