Hari Film Nasional 2014; Tanpa PP Pendamping UU 39-2009

Hari Film Nasional 2014; Tanpa PP Pendamping UU 39-2009

HKCE, Wan Chai, Hong Kong, Kabarindo- Pasca HK Filmart yang siap usai beso, HFN atau Hari Film Nasional sudah berusia 64 tahun.

Tidak hanya Indonesia punya lembaga BPI pengganti BP2N tapi juga 'rajin' ikut festival di mancanegara sebagai diplomasi budaya dan update terkini wisata dan sosialisasi budaya ke mancanegara.

Redaksi beruntung bisa meliput dan saat bersua dengan H. Firman Bintang yang tidak hanya Ketua Komisi B membidangi Evaluasi dan Sosialisasi LSF tapi juga Ketua PPFI yang 70 persen produser tanah air bernaung di dalamnya.

"Dunia perfilman nasional lebih butuh Peraturan Pemerintah pendamping UU No. 33 tahun 2009 tentang Perfilman yang tentu saja mengatur persoalan tata edar yang mengawal amanah UU dimana 60 persen dari jumlah layar bioskop tanah air harus diberikan kepada film nasional baru ke film-film asing. Apalagi saat ini Presiden SBY yang bersiap lengser tidak lama lagi salah memilih menteri yang tidak mengerti dan tidak tahu persoalan sesungguhnya perfilman Indonesia sehingga lihat saja realitas kriminalisasi film Soekarno punya MVP yang tak satupun apakah itu M.Nuh atau Mari Pangestu bisa menfasilitasi dan memberi solusi atas pertikaian antara Hanung Bramantyo dan Rachmawati yang berujung film Indonesia yang seharusnya mengedukasi tapi berujung meja persidangan, bisa-bisa produser dan sutradara takut bikin film lagi," papar Firman Bintang lugas yang mendapingi Wamen Kemenparekraf RI, Sapta Nirwandar yang getol ingin Indonesia jadi tuan rumah Film & Television Market Asia Pasific tahun depan.

Ada yang yang harus diperhatikan oleh kedua menteri tersebut bahwa amanh UU mengatakan pengusaha bioskop wajib melaporkan jumlah penonton film secara berkala kepada menteri dan dilaporkan kepada publik tapi tak dinyana hal itu tidak terjadi.

Chand Parwez Servia yang berada tidak jauh dari Ketua Parfi itu mengaminkan bahwa sebenarnya para produser yang lebih banyak dipayungi oleh PPFI terus berkarya dan berproduksi sehingga disayangkan kalau pemerintah tidak ikut andil menfasilitasi gagasan-gagasan yang ada di perfilman nasional karena sudah banyak negara seperti Malaysia, Thailand, Vietnam, Kamboja, Srilanka dan negara lainnya melirik film-film layar lebar produksi anak bangsa.

Para produser yang bernaung di PPFI sepertinya ingin HFN mendatang tidak seremonial belaka tapi empati mereka agar siapapun presidennya mendatang bisa memilih menteri yang tepat yang berdedikasi tinggi kepada dunia perfilman yang tentu saja berkaitan erat dengan pembangunan karakter bangsa untuk masa depan yang lebih baik.

Sementara itu, Anda perlu tahu HFN tahun ini selain pelantikan 9 komisioner BPI yang diketuai oleh aktor Alex Komang 30 Maret mendatang.

Panitia HFN 2014 siap menggelar orasi sinema oleh DR. Seno Gumira Ajidarma (Budayawan), besok 27 Maret di Galeri Indonesia Kaya. Ada juga workshop dan diskusi dengan Itallo Spinelli dan Garin Nugrogo, Selasa 01 April mendatang di Lunge Djakarta Theater.


Selamat HFN 2014...........!