House Of Sampoerna; Pamerkan Ilustrasi Cerita Silat Kho Ping Hoo

House Of Sampoerna; Pamerkan Ilustrasi Cerita Silat Kho Ping Hoo

Surabaya, Kabarindo- Kho Ping Hoo (1926-1994) merupakan salah satu pengarang populer yang karyanya memiliki rekam jejak panjang di Indonesia.
 
Selama periode 1960 – 1990, karya Kho Ping Hoo berupa cerita silat berlatar belakang Cina maupun novel sejarah berlatar belakang Indonesia, mendominasi bacaan populer pada masa itu.
 
Untuk mengangkat kembali karya sastra Kho Ping Hoo agar dikenal generasi muda masa kini, House of Sampoerna (HoS) bersama Balai Soedjatmoko - Bentara Budaya Solo (BBS) menggelar pameran ilustrasi bertajuk “Ilustrasi Cerita Silat Kho Ping Hoo” selama 17 Januari  -  9 Februari di Galeri Seni HoS.
 
Sebanyak 40 karya yang pernah dibuat oleh dua ilustrator buku Kho Ping Hoo, Yanes dan Win Dwi Laksono, dihadirkan kembali dalam bingkai kanvas. Yanes melukis ulang beberapa ilustrasi dari buku berjudul “Suling Naga” dan “Pedang Kayu Harum”. Sementara Win menampilkan ilustrasi dari buku “Bagus Sajiwo”, “Kemelut Blambangan”, “Kidung Senja di Mataram” serta 5 karya hasil tafsir ulang  karya Kho Ping Hoo setelah lebih dari seperempat abad meninggalkan profesinya sebagai ilustrator.
 
Sepanjang kariernya sebagai pengarang cerita silat, Kho Ping Hoo telah menghasilkan lebih dari 200 judul cerita dan masing – masing judul terdiri dari sekitar 35 jilid. Beberapa karyanya yang populer antara lain Suling Emas, Istana Pulau Es, Pendekar Bongkok, Kisah Sepasang Rajawali dan serial Bu Kek Sian-su.
 
Selain cerita silat, pengarang yang bernama lengkap Asmaraman Sukowati Kho Ping Hoo ini juga menulis sejumlah roman, cerita detektif dan novel bertema sejarah Indonesia. Karena itu, pembaca buku Kho Ping Hoo tidak terbatas pada kalangan etnis Tionghoa saja, tetapi juga dari berbagai lapisan masyarakat lainnya.
 
Kepopuleran cerita silat Kho Ping Hoo pada masanya ternyata sedikit banyak mempengaruhi atau memberi pondasi  bagi jalan pemikiran, orientasi hidup dan moralitas kaum intelektual Indonesia.
 
Salah satu penggemar Kho Ping Hoo adalah Walikota Surabaya, Tri Rismaharini, yang semasa remaja banyak menghabiskan waktu dengan membaca cerita silat Kho Ping Hoo.
 
“Saya senang berimajinasi mungkin karena senang membaca komik. Kho Ping Hoo itu kan imajinatif sekali. Mulai dari bau pohon cemara saja ditulis gimana gitu, membuat saya berimajinasi jauh,” ujarnya.
 
Hari Budiono, kurator serta koordinator Balai Soedjatmoko, menilai Kho Ping Hoo adalah sosok sastrawan yang mengemban misi multikulturalisme. Ia memiliki pemahaman dan penghargaan tentang masyarakat yang terdiri dari beragam ras, etnis dan budaya yang unik.