Indonesia Sambut MatahariMall.Com; Targetkan Pangsa Pasar 25%

Indonesia Sambut MatahariMall.Com; Targetkan Pangsa Pasar 25%

Jakarta, Kabarindo– Didukung pendanaan US$ 500 juta dan mengusung konsep online to offline (O2O), MatahariMall.com resmi diluncurkan Rabu (9/9) malam dengan target menjadi perusahaan e-commerce terbesar di Indonesia.

Mal virtual ini optimistis meraih 25% pangsa pasar retail e-commerce nasional yang bisa tumbuh pesat menjadi US$ 23 miliar dalam lima tahun ke depan.

Chairman MatahariMall.com Emirsyah Satar mengatakan, dengan infrastruktur yang belum berkembang, e-commerce di Indonesia memang belum sebesar Singapura. Namun, prospek bisnis di sini justru sangat bagus dengan pertumbuhan tinggi, seiring membaiknya pembangunan infrastruktur dan bertambahnya kelas menengah di Tanah Air. Sementara itu, bisnis e-commerce Singapura relatif sudah tidak akan tumbuh lagi.

“Pasar e-commerce di Indonesia sekarang US$ 1,3 miliar, namun dalam lima tahun ke depan akan menjadi 10-20 kali lipat atau sekitar US$ 11-23 miliar. Kami menargetkan bisa meraih 25% pangsa pasar dan menjadi Alibaba-nya Indonesia," kata Emirsyah Satar dalam grand launch MatahariMall.com di Jakarta.

Hadir dalam acara tersebut antara lain CEO MatahariMall.com Hadi Wenas, Ketua Umum Kadin Indonesia Suryo Bambang Sulisto, dan Ketua Umum Asosiasi E-Commerce Indonesia (idEA) Daniel Tumiwa. Hadir pula para mitra pemasok dan para pemimpin redaksi media massa.

Emirsyah menjelaskan, pasar retail e-commerce enam negara besar di Asean saat ini baru sekitar US$ 7 miliar, yang antara lain disumbang Indonesia sebesar US$ 1,3 miliar, Singapura US$ 1,7 miliar, dan Malaysia US$ 1,6 miliar. Padahal, market size di Amerika Serikat sudah sekitar US$ 395 miliar, lima negara besar Uni Eropa sekitar US$ 230 miliar, Jepang US$ 119 miliar, dan Tiongkok US$ 181 miliar.

“Meski saat ini pertumbuhan ekonomi kita turun, bisnis e-commerce ke depan akan tetap tumbuh pesat asalkan didukung infrastruktur dan perbaikan regulasi,” ujar pria yang sebelumnya menjabat dirut PT Garuda Indonesia Tbk ini.

Super-marketplace Online
CEO MatahariMall.com Hadi Wenas mengatakan, pihaknya siap berinvestasi US$500 juta dalam beberapa tahun ke depan, dengan mengusung konsep super-marketplace online. Mal virtual ini merupakan tempat bagi semua orang untuk membeli dan menjual apa pun, mulai dari mobil, ponsel, sampai pakaian dan kebutuhan rumah tangga sehari-hari. Pada tahap awal, layanan MatahariMall.com menjangkau semua kota besar maupun kota kedua di seluruh Indonesia, bekerja sama dengan perusahaan-perusahaan logistik yang berjaringan luas.

"Kami menjual mulai dari mobil, motor, gadget, fashion, makanan, hingga peralatan rumah tangga dan karcis bioskop, dengan harga terjangkau. Saat ini sudah lebih dari 1.200 penjual bergabung dengan kami, tidak hanya Matahari dan Hypermart yang merupakan perusahaan satu grup. Produk yang kami jual sudah sekitar 200 ribu SKU (stock keeping unit) dan ke depan akan terus bertambah,” kata Wenas.

Ia menjelaskan, dalam tiga bulan soft launch, MatahariMall.com mendapatkan sambutan yang bagus dari masyarakat. Jumlah konsumen sudah sekitar 200.000 pelanggan.

Emirsyah Satar menambahkan, didukung oleh Lippo Group, MatahariMall.com akan tumbuh menjadi Alibaba-nya Indonesia. Alibaba asal Tiongkok ini mencetak rekor penawaran saham perdana ke publik (IPO) yang terbesar di dunia. Perusahaan itu berkontribusi besar terhadap perekonomian negaranya, termasuk meningkatkan ekspornya.

Ditanya mengenai kinerja MatahariMall.com, Direktur Lippo Group John Riady mengatakan, ”Tim kami sangat fokus dan angka pertumbuhannya sangat memuaskan. Lippo dan para investor lain sepenuhnya berkomitmen untuk melakukan segala upaya guna mendukung MatahariMall sebagai penggerak e-commerce di Indonesia.”

Ketua Umum Kadin Indonesia Suryo Bambang Sulisto optimistis e-commerce akan tumbuh pesat, asalkan didukung pemerintah dengan pembangunan infrastruktur dan regulasi yang baik.

“Pengembangan ke bisnis e-commerce ini merupakan langkah maju. Tapi, di dalam negeri, masih banyak tantangannya, misalnya infrastruktur yang saat ini belum sepenuhnya siap," ujar Suryo.

Sementara itu, menurut Emirsyah, pengembangan internet di Indonesia saat ini sudah lebih baik.

“Dua tahun lalu penetrasi penggunaan internet di Tanah Air baru 20% dan tahun ini sudah berkembang hingga 33%. Itulah sebabnya, bisnis e-commerce di negeri ini sangat potensial untuk dikembangkan,” imbuh dia seperti dilansir dari laman beritasatu.