Kemendag Gandeng US CPSC; Siap Bina Eksportir

Kemendag Gandeng US CPSC; Siap Bina Eksportir

Jakarta, Kabarindo- Saat Amerika Serikat terus menekankan pentingnya penerapan standar keamanan produk furnitur, tekstil dan produk tekstil (TPT), para produsen dan eksportir kedua produk tersebut kini dapat berlega hati.

Kementerian Perdagangan kembali menggandeng The United States Consumer Product Safety Commission (USCPSC) untuk menyelenggarakan serangkaian seminar bertajuk “Designing Safety Into Your Furniture & Apparel and the Requirements to Sell it in the US” di Jakarta pada 13-14 Maret 2015. Dengan dapat dipenuhinya persyaratan pasar terkait dengan standar keamanan untuk produk furnitur dan TPT, diharapkan dapat mendukung upaya pencapaian target ekspor nonmigas ke AS pada 2019 sebesar USD 58,5 miliar.

Dua Direktorat Jenderal Kemendag, yakni Ditjen Pengembangan Ekspor Nasional (PEN) dan Ditjen Standardisasi dan Perlindungan Konsumen (SPK) berkolaborasi dalam kerja sama tersebut. Kemendag memandang penting informasi tentang standar keamanan produk furnitur dan TPT agar dapat diketahui eksportir. Sebab semakin tinggi tingkat ketaatan (compliance) produk Indonesia terhadap standar keamanan produk di pasar AS, maka semakin tinggi pula daya saing kedua produk tersebut dalam menghadapi persaingan produk sejenis dari negara kompetitor.

Seminar yang sebelumnya juga telah diselenggarakan pada 2014 lalu bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman para produsen/eksportir produk furnitur dan TPT Indonesia mengenai perkembangan terkini standar keamanan produk yang diterapkan oleh pemerintah AS. Pada kesempatan tersebut Program Manager for Southeast Asia Arlene Flecha dan Program Manager of Office of Hazard Identification and Reduction Jacob Miller hadir sebagai narasumber dari USCPSC.

Dirjen PEN Nus Nuzulia Ishak mengungkapkan berdasarkan data BPS, pada 2014, Indonesia merupakan pemasok produk furnitur urutan ke-8 dan produk TPT diperingkat ke-5 untuk pasar AS. Diharapkan melalui penyelenggaran seminar ini, posisi Indonesia dapat meningkat lebih baik pada tahun-tahun mendatang, khususnya dapat lebih unggul dari negara ASEAN pesaing utama Indonesia di pasar AS untuk kedua produk tersebut, yaitu Vietnam, Malaysia, dan Kamboja.

AS merupakan pasar utama tujuan ekspor produk furnitur dan TPT Indonesia. Berdasarkan data BPS, ekspor furnitur Indonesia ke AS selama periode 2010-2014 tumbuh dengan tren sebesar 5,6% per tahun. Pada tahun 2014, nilai ekspor furnitur Indonesia ke AS tercatat sebesar US$ 628,4 juta atau sekitar 35% dari total nilai ekspor furnitur Indonesia ke dunia. Apabila dilihat dari sudut pandang AS, Indonesia merupakan negara pemasok furnitur terbesar ke-8 atau berada di bawah China, Meksiko, Vietnam, Kanada, Italia, Taiwan, dan Malaysia.

Untuk produk TPT, kinerja ekspor ke AS selama periode 2010-2014 tumbuh dengan tren yang cenderung menurun sebesar 2% per tahun. Indonesia tercatat melakukan ekspor TPT ke AS sebesar USD 3,9 miliar pada tahun 2014 atau sekitar 31% dari total nilai ekspor TPT Indonesia ke dunia. Bagi industri TPT di AS, impor dari Indonesia memainkan peran yang cukup strategis karena menguasai sebesar 4,6% dari total impor AS dari dunia setelah China, Vietnam, India, dan Meksiko.

“Furnitur dan TPT merupakan dua produk ekspor utama Indonesia yang menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar. Kami harap ada pencapaian target peningkatan ekspor nonmigas ke pasar AS pada tahun 2019 sebesar USD 58,5 miliar dari USD 15,8 miliar pada 2014," ujar Nus.
Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) turut berkontribusi dalam seminar yang digelar di Gedung Kemendag pada 13 Maret 2015. Sementara itu, bersama Asosiasi Mebel dan Kerajinan Rotan Indonesia (AMKRI), Kemendag dan USCPSC akan memanfaatkan penyelenggaraan pameran IFEX 2015 di JIExpo Kemayoran untuk menggelar seminar standar keamanan produk furnitur pada 13 Maret. Sedangkan pada 14 Maret, digelar seminar serupa dalam pameran IFFINA bertempat di Senayan East Park bekerja sama dengan Asosiasi Industri Permebelan Indonesia (ASMINDO).