Kemendag Sosialisasikan; Sistem Resi Gudang

Kemendag Sosialisasikan; Sistem Resi Gudang

Bolaang Mongondow, Sulut, Kabarindo- Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) Kementerian Perdagangan hari ini (7/11) melakukan sosialisasi Sistem Resi Gudang (SRG) di gudang SRG yang terletak di Desa Mogoyunggung II, Kabupaten Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara.

Kepala Biro Pasar Fisik dan Jasa, Ismadjaja Tungkagi mewakili Kepala Bappebti pada saat membuka acara menyatakan harapannya agar seluruh pihak mulai dari pemerintah daerah, perbankan, asuransi, pengelola gudang, hingga kelompok-kelompok tani agar dapat bersinergi dan berperan aktif dalam upaya pengembangan implementasi SRG di Kabupaten Bolaang Mongondow dan sekitarnya.

“Caranya adalah dengan memanfaatkan secara optimal gudang yang dibangun di wilayah ini. Hal ini penting mengingat manfaatnya yang sangat besar bagi pelaku usaha, terutama petani dan usaha kecil dan menengah (UKM),” jelasnya.

Dengan memiliki resi gudang, lanjut Ismadjaja, para pelaku usaha, khususnya petani, kelompok tani, koperasi, dan UKM dapat memperoleh kredit di bank tanpa memberikan jaminan atau aset tetap (fixed asset) lainnya, seperti tanah, rumah, atau kendaraan bermotor.

“Jaminannya adalah resi gudang itu sendiri yang merupakan bukti kepemilikan barang yang disimpan di gudang, sehingga petani tidak perlu menjual hasil panennya langsung pada saat panen raya dimana harga sedang turun,” imbuhnya.

Kepala Biro Pasar Fisik dan Jasa juga menjelaskan bahwa dengan memanfaatkan resi gudang, petani dapat melakukan tunda jual hingga harganya membaik, namun tetap mendapatkan modal/pembiayaan dari perbankan ataupun lembaga keuangan non-bank (LKNB) untuk melakukan tanam berikutnya dan memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Sosialisasi Sistem Resi Gudang kali ini dihadiri oleh Bupati Bolaang Mongondow, Direktur Utama PT. Pertani, Dirut PT KBI, para pejabat Eselon II di lingkungan Kemendag, Kepala Dinas Perindag Provinsi Sulawesi Utara, Kepala Dinas Perindag Kabupaten Bolaang Mongondow, perwakilan dari Dinas Pertanian, Dinas Perkebunan, Bank Sulut, Bank BRI Manado, serta instansi terkait lainnya.

“Implementasi SRG di daerah tidak akan terwujud tanpa adanya kerja sama yang sinergis antara Bappebti, pemerintah daerah serta dinas-dinas setempat, pengelola gudang, Lembaga Penilaian kesesuaian, Pusat Registrasi, asuransi, lembaga keuangan baik bank maupun non bank, para pelaku usaha baik itu petani/kelompok tani, gabungan kelompok tani atau gapoktan, koperasi, pedagang, serta prosesor/pabrikan dan eksportir,” pungkas Ismadjaja.