Kemenperin Dorong Penggunaan Biodiesel; Untuk Stabilkan Ekonomi

Kemenperin Dorong Penggunaan Biodiesel; Untuk Stabilkan Ekonomi

Jakarta, Kabarindo- Kementerian Perindustrian (Kemenperin) akan mendorong peningkatan penggunaan biodiesel dalam porsi biosolar sebagai upaya menstabilkan pasar keuangan yang bergejolak dan melemahnya nilai tukar rupiah.

Menurut siaran pers dari Pusat Komunikasi Publik Kemenperin yang diterima ANTARA di Jakarta, Rabu, Menteri Perindustrian (Menperin) MS. Hidayat mengatakan saat ini porsi biodiesel dalam biosolar baru mencapai 1,91 persen.

"Pemanfaatan biodiesel sebagai sumber energi baik untuk kendaraan bermotor maupun industri adalah 669 ribu kiloliter dari total penggunaan solar sebesar 35 juta kiloliter," kata Menperin dalam jumpa pers bersama Menteri Keuangan Chatib Basri tentang  Paket Kebijakan Insentif Fiskal dalam Rangka Memberikan Stimulus Pertumbuhan Ekonomi.

Dalam rangka mengurangi impor solar, pemerintah telah menetapkan kebijakan berupa peningkatan porsi biodiesel dalam biosolar menjadi 10 persen, atau setara dengan 3,5 juta kiloliter biodiesel. Kebutuhan tersebut dapat dipenuhi di dalam negeri karena kapasitas terpasang saat ini 5,6 juta kiloliter.

Dengan adanya kebijakan tersebut, maka terjadi penghematan devisa impor solar 2,8 miliar dolar AS.

Dalam pelaksanaan kebijakan tersebut, Kemenperin akan memastikan komitmen perusahaan untuk memasok kebutuhan biodiesel di dalam negeri dan mendorong agen tunggal pemegang merk (ATPM) untuk tetap memberikan garansi kepada kendaraan bermotor sesuai dengan garansi semula walaupun menJakarta (ANTARA News) - Permintaan mobil niaga bakal tetap tumbuh pada sampai akhir tahun, meskipun indikator ekonomi makro nasional cenderung melemah pada semester kedua ini.

"Sampai akhir tahun, saya kira permintaan kendaraan komersial (niaga) masih tumbuh sekitar 10 persen," kata Direktur Pemasaran PT Krama Yudha Tiga Berlian Motor (KTB) Rizwan Alamsjah, di Jakarta.

Ia mengatakan meskipun pada semester kedua indikator ekonomi Indonesia kurang baik akibat kenaikan harga BBM, inflasi yang tinggi dan kemudian diikuti kenaikan suku bunga pinjaman, serta pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar, namun permintaan mobil niaga tetap akan tumbuh.

"Fundamental ekonomi masih oke. Pertumbuhan ekonomi masih enam persen, dan pertumbuhan sebesar itu tidak main-main, cukup besar," kata Rizwan.

Selain itu, kata dia, Indonesia masih menarik untuk investasi langsung. Meskipun diakuinya modal keluar dan masuk dari saham masih mengkhawatirkan.

Sebagai agen pemegang merek kendaraan niaga Mitsubishi baik truk ringan dan berat, Rizwan bahkan menilai pelemahan rupiah bisa menjadi berkah, karena harga komoditas perkebunan dan pertambangan yang mengandalkan ekspor akan naik, yang mendorong permintaan mobil niaga.

"Selain itu, sektor barang konsumsi juga terus tumbuh yang mendorong permintaan kendaraan niaga," ujar Rizwan seperti dilansir dari laman antaranews.

Pada Januari--Juli 2013, kata dia, penjualan Mitsubishi telah tumbuh 10 persen menjadi sekitar 91 ribu unit dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Sebagian besar penjualan Mitsubishi didominasi kendaraan niaga, seperti truk ringan dan berat.

Selain itu, Kemenperin juga akan melakukan sosialisasi penggunaan biosolar pada industri, terutama industri kendaraan bermotor dan industri yang menggunakan mesin atau peralatan pembangkit listrik.