Konvensi PPKI 2015 Di Gelar; Usung Lima Kegiatan Utama

Konvensi PPKI 2015 Di Gelar; Usung Lima Kegiatan Utama

Jakarta, Kabarindo- Pekan Produk Kreatif Indonesia (PPKI) 2015 kembali digelar pada 28 Oktober-1 November 2015 di Jakarta.

PPKI merupakan gelaran yang menyajikan rangkaian pameran produk kreatif, konvensi, dan pentas seni budaya yang terselenggara berkat kolaborasi lebih dari 17 lembaga pemerintahan di mana Kementerian Pembangunan Manusia dan Kebudayaan menjadi ketua pelaksananya.

Sebagai ujung tombak perekonomian Indonesia, Kementerian Perdagangan melalui Direktorat Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional (PEN) turut berkontribusi sebagai koordinator bidang Konvensi PPKI 2015. Direktur Jenderal PEN Kemendag Nus Nuzulia Ishak menegaskan bahwa Konvensi PPKI merupakan upaya pemerintah memperkuat industri kreatif.

“Industri kreatif akan meningkatkan daya saing produk lokal. Pelaku usaha perlu dibekali informasi dan wawasan mengenai signifikansi pengembangan ekonomi kreatif di Indonesia,” tegas Nus.

Melalui penyelenggaraan PPKI, lanjut Nus, Pemerintah sekaligus menunjukkan komitmennya dalam mengimplementasikan Instruksi Presiden Nomor 6 Tahun 2009 tentang Pengembangan Ekonomi Kretaif.
Tahun ini, Konvensi PPKI 2015 mengangkat tema “Strategi Memasuki Pasar Global melalui Peningkatan Daya Saing Produk”. Hal ini menunjukkan visi Pemerintah untuk memajukan industri kreatif di Indonesia agar produk Indonesia makin diperhitungkan di kancah internasional. Semua pihak diajak memanfaatkan konvensi ini untuk meningkatkan pengetahuannya.

“Generasi muda, mahasiswa, entrepreneur muda, dan juga pelaku kreatif harus meningkatkan wawasannya agar daya saing produk makin tinggi dan dapat diterima di pasar ekspor,” tutur Nus.

Kegiatan konvensi PPKI sendiri akan berlangsung selama empat hari pada 28-31 Oktober 2015 dengan lima kegiatan utama seputar upaya peningkatan daya saing.

Lima Agenda Strategis
Konvensi PPKI mengusung lima kegiatan utama hasil kerja sama Kementerian Perdagangan dengan Kementerian Luar Negeri, Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia, serta Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan.

Pertama, menggali selera desain untuk pasar ekspor. Peserta konvensi yang terdiri dari pejabat pemerintah, pelaku kreatif, UKM potensial ekspor, desainer, dan kalangan akademisi diberikan informasi terkini perkembangan industri kreatif di luar negeri dalam acara Temu Duta Besar oleh Kementerian Luar Negeri.

Tema yang diangkat yaitu “Menggali Selera Desain untuk Pasar Ekspor” dengan menghadirkan pembicara Duta Besar RI di Karakas, Venezuela; Warsawa, Polandia; Canberra, Australia; dan Astana, Kazakstan.
Kedua, pengembangan desain untuk meningkatkan nilai tambah produk. Seminar Desain Kreatif akan digelar oleh Kementerian Perdagangan dengan tema “Pengembangan Desain sebagai Upaya Peningkatan Nilai Tambah Produk”.

Para pembicara yang dihadirkan dalam seminar ini yaitu Direktur Pengembangan Produk Ekspor Kementerian Perdagangan Sulistyawati, Akademisi dari ITB Muhammad Ikhsan dan Andar Bagus, serta Praktisi dari dunia usaha Sabar Situmorang.

"Desain sangat penting dalam meningkatkan nilai tambah suatu produk, mensosialisasikan program-program pengembangan produk Ditjen PEN Kemendag sekaligus eksistensi dan manfaat suatu lembaga desain kepada pelaku usaha dan desainer produk," jelas Nus.

Ketiga, strategi menembus pasar ekspor. Kali ini produk home décor yang akan menjadi bahasan utama dalam Dialog Ekspor bertemakan “Tren Desain Produk Home Decor untuk Pasar Ekspor”. Akan hadir sebagai pembicara yaitu Direktur Pengembangan Pasar dan Informasi Ekspor Ari Satria, Akademisi dari ITB Andar Bagus, serta Praktisi Eksportir Home Decor Nurhandiah J. Taguba. Pada sesi ini sektor home decor akan menjadi sorotan utama karena memiliki peluang ekspor cukup tinggi.

Keempat, perlindungan hak cipta. Kementerian Hukum dan HAM akan mengupas hak kekayaan intelektual, masa depan musik, dan film Indonesia. Acara ini menghadirkan Dirjen Kekayaan Intelektual Ahmad M. Ramli, pencipta lagu James F. Sundah, pelaku industri musik Jusak Irawan, dan perwakilan Sentra Lisensi Musik Indonesia Edy Haryanto. Diskusi ini akan diisi perspektif dari artis Sam Simbo dan penyanyi Theresia Ebenna.

“Diskusi ini akan memperkaya para peserta dengan wawasan pentingnya perlindungan kekayaan intelektual di bidang musik sehingga musik Indonesia dapat berkembang dan bersaing di kancah global,” jelas Nus.

Kelima, revolusi mental berbasis budaya. Topik tersebut dikemas dalam serasehan budaya nasional yang dimotori Kementerian Koordinator Bidang Pemberdayaan Manusia dan Kebudayaan. Serasehan bertajuk “Revolusi Mental Berbasis Budaya” ini bertujuan mengedepankan budaya nasional sebagai jati diri bangsa dan menjadi dasar upaya merevolusi mental.