Naik; Indeks Riil Penjualan Eceran Di Surabaya

Naik; Indeks Riil Penjualan Eceran Di Surabaya

Surabaya, Kabarindo- Kegiatan konsumsi masyarakat Surabaya menunjukkan peningkatan pada November 2015.
 
Laporan dari Bank Indonesia Jatim pada Selasa (19/1/2016) menyebutkan, hal ini tercermin pada Indeks Riil Penjualan Eceran (IRPE) yang tercatat naik secara bulanan maupun tahunan yaitu masing-masing sebesar 2,09% (mtm) dan 2,89% (yoy). Pertumbuhan ini didukung oleh masih tingginya permintaan masyarakat terhadap kelompok makanan, minuman dan bahan bakar, sedangkan kelompok suku cadang, barang budaya dan rekreasi serta perlengkapan rumah tangga lainnya menjadi faktor penahan pertumbuhan tersebut.
 
Untuk Desember 2015, Survei Penjualan Eceran (SPE) memperkirakan aktivitas konsumsi akan terus meningkat seiring dengan peningkatan permintaan di semua kelompok barang dengan ekspektasi pertumbuhan penjualan sebesar 5,90% (mtm). Diperkirakan permintaan masih akan meningkat pada kelompok makanan, minuman dan tembakau, bahan bakar dan pelumas, perlangkapan rumah tangga lainnya serta barang budaya dan rekreasi.
 
Permintaan pada kelompok makanan, minuman dan tembakau, diperkirakan naik sebesar 0,85% (mtm), untuk kelompok bahan bakar dan pelumas naik sebesar 2,22% (mtm) serta kelompok barang budaya dan rekreasi sebesar 2,94% terutama didorong oleh permintaan pada sub kelompok barang kertas dan karton. Ekspektasi permintaan pada Desember 2015 didorong oleh harapan penjual eceran bahwa permintaan akan lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya mengingat ada momen Natal dan Tahun Baru.
 
Untuk kelompok barang lainnya, diperkirakan pada Desember 2015 ada peningkatan penjualan dimana indeks ekspektasi penjualan meningkat sebesar 5,87% (mtm). Ekspektasi peningkatan permintaan tersebut didorong oleh harapan adanya promo-promo yang umumnya dilakukan pada akhir tahun dan menjelang kegiatan pilkada serentak yang dilaksanakan pada 9 Desember 2015.
 
Terkait dengan ekspektasi masyarakat terhadap kenaikan harga, SPE menunjukkan optimisme masyrakat terhadap kenaikan harga pada periode 3 bulan yang akan datang cenderung stagnan. Begitu juga untuk periode 6 bulan yang akan datang. Masyarakat optimis biaya produksi yang terdiri dari biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja relatif stabil hingga 6 bulan yang akan datang. Untuk ekspektasi terhadap total penjualan periode 3 bulan maupun 6 bulan yang akan datang, indeks ekspektasi penjualan menunjukkan peningkatan karena diyakini meningkatnya daya beli masyarakat pasca kenaikan UMK pada awal tahun.
 
Sedangkan menurut Survei Konsumen (SK), terjadi penurunan optimisme keyakinan konsumen pada Desember 2015. Keyakinan konsumen yang diukur menggunakan Indikator Keyakinan Konsumen (IKK) mencatat penurunan optimisme sebesar 2,6 poin didorong oleh penurunan salah satu indikator pembentuknya yaitu Indeks Kondisi Ekonomi saat Ini (IKE). Namun indikator pembentuk IKK lainnya yaitu Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) menunjukkan peningkatan yang dipicu oleh meningkatnya optimisme masyarakat terhadap kondisi ekonomi Indonesia.
 
IKE Desember 2015 turun sebesar 5,8 poin dibandingkan bulan sebelumnya menjadi 100,8 poin. Penurunan terjadi pada indikator ketersediaan lapangan kerja saat ini yang masih berada pada zona pesimis (<100 poin) yaitu 82,4 poin dan indikator pengeluaran membeli barang tahan lama yang mencerminkan perilaku masyarakat yang cenderung menahan konsumsi barang tahan lama. Namun indikator penghasilan saat ini sedikit meningkat dari 129,8 poin menjadi 131 poin.
 
Peningkatan IEK didukung oleh peningkatan ekspektasi kondisi ekonomi Indonesia yang naik sebesar 7 poin menjadi 126,1 poin. Hal ini diperkirakan merupakan dampak terkendalinya tingkat inflasi selama 2015 dan rencana kenaikan UMK pada 2016.
 
Untuk ekspektasi harga barang, perubahan harga secara umum dalam 3 bulan yang akan datang menunjukkan sedikit penurunan ekspektasi kenaikan harga barang namun masih dalam zona optimis. Penurunan tingkat optimistis tersebut terjadi pada seluruh komoditas, kecuali pada kelompok bahan makanan yang terpantau meningkat 2,3 poin. Untuk periode 6 bulan dan 12 bulan yang akan datang, indikator menunjukkan peningkatan ekspektasi yang disebabkan oleh tren pelemahan kurs Rupiah dan pengaruh dari hari raya keagamaan/hari besar lainnya.
 
Dari sisi penggunaan penghasilan pada rumah tangga, SK menunjukkan porsi penggunaan penghasilan untuk konsumsi rumah tangga naik 2%, porsi pembayaran cicilan utang relatif stabil dengan kenaikan 0,4%, sedangkan tabungan turun sebesar 2,4%. Indikator rata-rata pendapatan untuk memenuhi kebutuhan dan pembayaran cicilan tercatat cenderung stabil dibandingkan bulan sebelumnya dimana pendapatan masyarakat masih mencukupi dan terdapat sisa untuk ditabung.