Opera Batak; Memukau Publik Jerman

Opera Batak; Memukau Publik Jerman

Jakarta, Kabarindo- Publik Koln, Jerman, terpukau atas penampilan seni bertutur panggung Batak, Opera Batak, dengan lakon Perempuan Di Tepi Danau, di Museum Etnologi kota penting Jerman itu, akhir pekan lalu.

"Judul itu suatu legenda berumur ratusan tahun di masyarakat Danau Toba, mengisahkan asal-muasal Danau Toba dan Pulau Samosir," kata Konsul Jenderal Indonesia di Frankfurt, Damos Agusman, dalam pernyataannya, diterima di Jakarta, Minggu.

Masyarakat dan budaya Batak --terkhusus subetnik Batak Toba-- memiliki ikatan cukup kuat dengan masyarakat dan negara Jerman. Tercatat, misionaris Lutheran Jerman, Ludwig Ingmar Nommensen (1834-1918), yang datang ke Tanah Batak dan menyebarkan agama Kristen Protestan.

Kini penyebaran gereja-nya itu telah menjelma menjadi Gereja Huria Kristen Batak Protestan, salah satu gereja Kristen Protestan terbesar di Tanah Air.

Menurut Agusman, dengan kreasi Lena Simanjuntak yang menyutradarinya, cerita ini juga dikemas dalam bahasa Jerman. "Sehingga pesan-pesan moral di dalam pertunjukan ini yang sarat dengan tema perlindungan lingkungan Danau Toba berhasil menyentuh hati para penonton Jerman," katanya.

Konsulat Jenderal Indonesia di Franfkurt turut aktif memprakarsai acara ini, pun menyatakan, kebudayaan tradisional Indonesia merupakan aset bangsa yang memiliki "nilai jual" tinggi bagi masyarakat Jerman.

"Kami sengaja menggelar Opera Batak di Museum Etnologis Koln yang sangat terkenal di Jerman ini untuk menarik perhatian masyarakat pecinta etnologi dan merangsang mereka berkunjung ke Indonesia serta melihat langsung kekayaan etnis Indonesia" katanya.

Pertunjukan opera ini salah satu dari rangkaian acara besar Batak Tag (Hari Batak) yang diselenggarakan Persahabatan Jerman-Indonesia Koln (Deutsch-Indonesische Gessellschaft/DIG) dengan dukungan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dan Konsulat Jenderal Indonesia di Frankfurt.

Ketua DIG, Karl Mertes, menyatakan, selain pertunjukan Opera, Hari Batak ini juga diisi ceramah dan seminar dari para ahli Jerman, yang secara khusus mendalami kebudayaan Batak, serta penjualan produk-produk budaya Batak oleh masyarakat Batak yang berdiam di Jerman.

Cukup banyak etnik Batak yang berdiam di Jerman; baik untuk bekerja, kuliah, atau menikah dengan warga negara Jerman, dan lain sebagainya. Mirip dengan di kampung halamannya, Tano Batak, mereka juga membentuk persatuan alias punguan.

Satu penceramah adalah Professor Bernhard Dahm, guru besar di Universitas Passau, Jerman, yang pernah menulis buku tentang Soekarno pada 1970.

Batak Tag ini juga upaya komunitas Batak di Jerman dan sekitarnya untuk membantu mengkampanyekan agar Danau Toba diterima sebagai taman geologis internasional dan tari tor tor diakui sebagai warisan budaya oleh UNESCO.

Juga memperkaya hubungan diplomatik Jerman dan Indonesia, peningkatan hubungan antar budaya, serta memperkokoh soliditas Batak Diaspora di Jerman dan sekitarnya.

Kegiatan Batak Tag ini sempat mengejutkan para pengunjung yang memadati museum, karena diawali dengan semarak tarian tor tor diiringi gondang berbunyi meriah dan rancak oleh barisan masyarakat Indonesia di Jerman dengan pakaian tradisional Batak.

Bukan cuma orang Batak yang memakai pakaian tradisional dan ulos (kain tenun khas Batak) itu, tetapi oleh orang-orang Jerman pecinta Batak yang tergabung dalam komunitas Batak Diaspora seperti dilansir dari laman antaranews.