PPK Sampoerna Expo 2014; Diikuti 100 Lebih UKM Binaan

PPK Sampoerna Expo 2014; Diikuti 100 Lebih UKM Binaan

Surabaya, Kabarindo- PT HM Sampoerna Tbk. menggelar acara tahunan Pusat Pelatihan Kewirausahaan (PPK) Sampoerna Expo 2014 di Tunjungan Plaza, Surabaya, pada Sabtu-Minggu, 20-21 September, sebagai bagian dari Coorporate Social Responsibiry (CSR) kepada masyarakat.

Expo tahun keenam ini dibuka oleh Walikota Surabaya, Tri Rismaharini. PPK Sampoerna Expo bertujuan memperkenalkan pencapaian UKM binaan PPK Sampoerna dan membangun jaring pemasaran UKM.

“Kami mendukung gerakan kewirausahaan dan pengembangan sinergi multi pihak yang dapat mendukung percepatarmya. Komitmen ini diwujudkan dengan pendirian Pusat Pelatihan Kewirausahaan Sampoerna pada 2007 dan penyelenggaraan kegiatan tahunannya,” ujar Presiden Direktur Sampoerna, Paul Janelle.

Pemerintah melalui Kementerian Koperasi dan UKM menggalakkan pertumbuhan wirausaha melalui program Gerakan Kewirausahaan Nasional (GKN) sejak 2011. Pemerintah optimistis target 2% wirausaha di Indonesia bisa tercapai.

Rasio kewirausahaan telah meningkat dari 0,24% pada (2011) menjadi 1,5%-3% pada 2012 yang diharapkan berkembang menjadi 2%-4%. Pertumbuhan UKM Jatim juga terus meningkat. Hingga akhlr 2012, jumlah UKM di Jatim sekitar 6,8 juta atau sekitar 16.5 % dari 42 juta penduduk Jatim.

Tahun ini PPK Sampoerna Expo diikuti lebih dari 100 UKM binaan Sampoerna, termasuk UKM terpilih dari Jatim, Jabar, Lombok, Lampung dan Kalimantan Selatan yang bergerak di bidang makanan dan minuman, garmen, agribisnis, kerajinan tangan, mebel, peternakan dan industri lainnya.

Para wirausahawan ini dibantu di setiap tahapan usaha mereka oleh para ahli di bidang masing-masing. Beberapa usaha tersebut kini sudah menghasilkan omzet Rp. 100 juta/bulan dan mempekerjakan hingga 40 karyawan dari komunitas sekitar sehingga membantu mengurangi pengangguran.

Risma mengatakan, masyarakat termasuk para wirausahawan harus siap menyongsong Masyarakat Ekonomi ASEAN pada 2015. Kesiapan ini dimulai sekarang, bahkan semestinya jauh sebelumnya agar kita tidak kalang kabut menghadapi MEA.

Ia menyebutkan, perputaran uang di Surabaya mencapai 20 triliun/hari. Jika tak dimanfaatkan oleh masyarakat dan para wirausahawan akan rugi sendiri karena akan dimanfaatkan wirausahawan asing yang akan menyerbu Surabaya dengan berlakunya MEA.

“Mau tak mau, kita harus siap. Jika tidak siap, kita akan jadi penonton di negeri sendiri. Jangan sampai rezeki kita direbut orang lain. Kalau kita bersikap pasif, kesempatan bagus ini akan dimanfaatkan orang-orang dari luar negeri yang masuk ke sini,” ujar Risma.

Ia menambahkan, hal ini memang tidak mudah, namun kita harus belajar dan berusaha. Kita harus terus mengasah kemampuan agar mampu bersaing dengan produk maupun jasa yang akan bebas masuk ke Surabaya dengan berlakunya MEA.

“Kita harus jadi tuan rumah di negeri sendiri. Karena itu, mari bekerja sama antara para wirausahawan, masyarakat maupun pemerintah. Semua saling mendukung,” ujarnya.