Pemimpin APEC; Sepakat Perkokoh Kerja Sama APEC

Pemimpin APEC; Sepakat Perkokoh Kerja Sama APEC

Nusa Dua, Bali, Denpasar, Kabarindo- Para Pemimpin Ekonomi APEC yang telah berada di kawasan Nusa Dua, Bali sejak tanggal 6 Oktober 2013 menggelar pertemuan dalam format retreat kemarin (7/10) di Hotel Sofitel, Nusa Dua, Bali.

Pada pagi hari ini, para Pemimpin Ekonomi APEC melakukan dialog dengan anggota APEC Business Advisory Council atau ABAC dalam format paripurna yang dilanjutkan dengan diskusi dalam format kelompok bersama Pemimpin APEC.

Salah satu rekomendasi yang disampaikan ABAC kepada para Pemimpin APEC adalah untuk mempercepat liberalisasi perdagangan dan investasi. Dalam rekomendasi ini tercakup pula harapan ABAC agar APEC berperan aktif untuk memastikan keberhasilan Konferensi Tingkat Menteri (KTM)
World Trade Organiation (WTO) ke-9 yang akan digelar pada bulan Desember 2013.

“Anggota ABAC cukup jelas dalam pesannya agar APEC bekerja sama lebih erat sehingga KTM WTO di Bali dapat menghasilkan Perjanjian Fasilitasi Perdagangan yang dapat mendorong kegiatan perdagangan menjadi lebih murah, cepat, dan mudah,” ujar Menteri Perdagangan RI Gita Wirjawan.

Selain menyampaikan dukungan bagi keberhasilan KTM WTO ke-9, ABAC juga melaporkan kemajuan kerja sama yang digagas dan dilaksanakan di bawah tema Toward Resilience and Growth: Reshaping Priorities for Global Economy.

Lima rekomendasi lainnya yang disampaikan ABAC kepada para Pemimpin APEC adalah (1) mendorong koherensi peraturan-peraturan; (2) memperkuat konektivitas matarantai; (3) memperkuat ketahanan pangan dan energi; (4) mendorong investasi di bidang infrastruktur; serta (5)
mempercepat pembangunan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dan pelibatan wanita dalam
perekonomian.

Dalam kesempatan retreat, para Pemimpin Ekonomi APEC membahas relevansi APEC di tengah situasi ekonomi global saat ini serta dukungan APEC terhadap sistem perdagangan multilateral.

Para Pemimpin sepakat bahwa kerja sama APEC perlu diperluas dan diperdalam untuk menjadikan APEC
lebih memiliki daya tahan menghadapi krisis ekonomi.

Pertumbuhan berkelanjutan dan kerja sama konektivitas juga disebut-sebut oleh sejumlah Pemimpin sebagai kunci keberhasilan APEC ke depan. Selain itu, para Pemimpin juga menyambut baik kemajuan agenda kerja sama seperti di bidang jasa, pembiayaan perdagangan, daya saing global UMKM, kapasitas petani dalam mewujudkan keamanan pangan global, financial inclusion, energi terbarukan,
konektivitas, fasilitasi tanggap bencana, kerja sama pendidikan, dan prakarsa fasilitasi perjalanan.

Para Pemimpin sependapat bahwa kerja sama APEC harus tetap ditempatkan dalam bingkai sistem perdagangan multilateral yang lebih terbuka dan adil, dan untuk itu APEC ikut memikul tanggungjawab bagi berfungsinya sistem perdagangan multilateral di bawah WTO.

“Para Pemimpin APEC sepakat bahwa KTM WTO di Bali bulan Desember mendatang harus berhasil sebagai batu-loncatan untuk menyelesaikan Perundingan Putaran Doha.
Untuk itu, para Pemimpin harus saling mengingatkan mengenai perlunya anggota WTO lebih pro-aktif dalam proses perundingan di WTO, lebih fleksibel dalam berbagai isu runding, dan bersikap pragmatis,” imbuh Gita
Wirjawan.

Pertemuan para Pemimpin Ekonomi APEC ini merupakan kesempatan penting untuk menggalang kekuatan APEC guna menyukseskan KTM Bali yang akan digelar kurang dari dua bulan lagi.

Menutup keterangannya, Menteri Perdagangan menandaskan bahwa kehadiran Direktur Jenderal WTO Roberto Azevedo bersama Menteri-menteri APEC pada tanggal 4 dan 5 Oktober lalu membantu Ekonomi APEC memahami dengan jelas sejauh mana kemajuan perundingan di Jenewa saat ini, dan
bagaimana APEC harus menyikapinya.

Salah satu usulan Mendag Gita Wirjawan kepada rekan-rekan Menteri APEC lainnya adalah agar anggota APEC melakukan pendekatan geografis. Chile, Meksiko dan Peru, misalnya, diharapkan dapat menggalang dukungan di kalangan negara-negara Amerika Latin.

Sementara Republik Rakyat Tiongkok (RRT), yang mempunyai pengaruh di kawasan Afrika, juga dapat memanfaatkan pengaruhnya agar negara-negara Afrika bersikap proaktif dan realistis untuk menyelesaikan
perundingan Paket Bali.