Pemuda GKPS Bekasi Selatan; Gelar Diskusi Bahaya Asap Rokok

Pemuda GKPS Bekasi Selatan; Gelar Diskusi Bahaya Asap Rokok

Bekasi, Kabarindo- Pemuda Gereja Kristen Protestan Simalungun (GKPS), Kota Bekasi, Jawa Barat, berdiskusi tentang bahaya asap rokok, pada Minggu (18/10) kemarin.

Diketahui, Indonesia menempati posisi keempat dalam jumlah rokok terbanyak yang dikonsumsi di bawah Tiongkok, Rusia, dan Amerika Serikat. Sedangkan dalam hal jumlah perokok, Indonesia menempati posisi ketiga terbanyak setelah Tiongkok dan India.

"Remaja adalah target penjualan dari industri rokok. Yang dijual oleh industri rokok adalah nikotin. Ada 4.000 bahan kimia ketika sebatang rokok dibakar. Bahkan, dalam penelitian terakhir lebih dari 7.000 bahan senyawa beracun yang terdapat dalam sebatang rokok," ujar anggota Komisi Nasional Pengendalian Tembakau Divisi Advokasi dan Hukum, Tubagus Haryo Karbyanto.

Diskusi yang dihelat di gereja yang beralamat di Jalan Letnan Arsyad, Kelurahan Kayuringinjaya, Kecamatan Bekasi Selatan ini, mendapat sambutan positif dari para Pemuda GKPS Kota Bekasi.

"Bahaya asap rokok ada di sekitar lingkungan kita, di rumah, gereja, di tempat-tempat umum. Bahaya asap rokok bukan hanya ditanggung oleh para perokok aktif tapi juga perokok pasif. Bukan para perokok yang kita musuhi tapi industri rokoknya karena mereka adalah korban dari bahaya asap rokok," ujarnya.

Dia menambahkan, para pelaku industri rokok selalu melakukan intervensi kebijakan pengendalian tembakau mulai dari jajaran eksekutif, yudikatif, bahkan legislatif.

"Industri rokok saat ini yang membiaya beasiswa, bahkan menjadi pelaku sponsor olahraga. Pelaku industri memanipulasi sifat adiktif untuk meningkatkan penjualaan dengan melalui Tar rendah dengan memperdaya ketidaktahuan masyarakat, bersembunyi dengan dalih CSR (corporate social responsibility). Selalu melakukan intervensi kebijakan pengendalian tembakau," imbuh Tubagus Haryo.

Diskusi ini, relevan dengan kondisi Indonesia yang masih dikepung asap kebakaran hutan di beberapa daerah. "Polusi asap kebakaran hutan dan asap rokok menambah daftar pencemaran udara di sekitar kita," ungkapnya.

Diskusi yang dipandu oleh Fernando Surya menghadirkan juga pelaku informasi teknologi (IT) Yoseph dari jemaat GPIB Petra Bogor yang mengajak pemuda GKPS berperaan aktif melakukan kampanye antirokok melalui media sosial.

Hadir juga dalam diskusi tersebut, narasumber yang menjadi salah satu korban dampak bagaimana bahayanya asap rokok, Manat Hiras Panjaitan. Dirinya sejak 2009 diagnosa menderita kanker pita suara stadium IVA sehingga pada 2010 dilakukan operasi perangkatan "Larynx". Pascaoperasi, Manat Hiras, bernafas tidak lagi melalui hidung tetapi melalui lubang pada leher.

"Saya berharap. generasi muda tidak perlu mengenal rokok. Dampak yang ditimbulkan asap rokok ternyata mengorbankan banyak biaya untuk berobat. Lebih baik berhenti merokok dari sekarang sebelum terlambat," katanya sambil memberi pesan kepada puluhan peserta yang hadir.

Sementara itu, Majelis Jemaat GKPS, John Fredy, menyambut gembira apabila diterapkan peraturan bebas rokok di lingkungan gereja. "Ke depan kita akan buat aturan secara tegas untuk menerapkan kawasan bebas rokok di gereja," imbuhnya seperti dilansir dari laman beritasatu.