Pusat Pengembangan Perfilman Kemdikbud RI; Gelar Dialog Perfilman

Pusat Pengembangan Perfilman Kemdikbud RI; Gelar Dialog Perfilman

Ballroom Hotel Millenium Jakarta, Kabarindo- Redaksi bersama dengan Demi Film Indonesia- DFI menghadiri acara menarik pasca Film Convention yaitu Dialog Perfilman bertajuk "Mencari Visi Baru Perfilman Indonesia".

Walau tak dihadiri oleh Kacung Maridjan selaku Dirjen Kebudayaan tapi sukses dibuka oleh Ari Santosa selaku Plt. Kepala Pusat Pengembangan Perfilman

Menarik, tidak hanya dihadiri beberapa stakeholder BPI seperti K2SI dan asosiasi profesi lainnya bersama dengan Aprofi dan lainnya tapi beberapa produser juga tampak hadir seperti Gandhi Fernando, Dhoni Ramadhan, M.Asad dan lainnya. Selain itu juga hadir komunitas perfilman bersama dengan media.

Ada beberapa sesi selain dialog bersama dengan 200-an peserta dengan pembicara selain Ari Santosa juga menghadirkan Aprofi-Lala Timothy, Rudy Anitio XXI dan anggota DPR Komisi X, Utut Adianto dilanjutkan siang nanti dengan FGD sesi I: Penguatan Kelembagaan dengan pembicara Catharina Muliana Girsang, Kemala Atmodjo, Arturo GP, Ricky Josep Pesik.

Digelar dua hari dan besok berlanjut dengan FGD sesi II: SDM dan Pendidikan Perfilman bersama narsum Gerzon Ayawaila, Berthy Ibrahim dan Ifa Isfansyah serta sesi III bertajuk Apresiasi & Kritik Film dengan narsum Ade Armando, Bowo Leksono dan Adrian Jonathan.

Bertolak dari banyaknya hulu dari persoalan perfilman Indonesia, dari rilis yang diterima redaksi yaitu hulu pertama adalah komitmen dari pemerintah untuk memajukan film nasional di tengah persaingannya yang nyaris tak setara dengan film impor, hulu kedua yaitu perkembangan teknologi film yang mengubah nyaris semua aspek perfilman mulai dari produksi, distribusi, eksibisi hingga konsumsi, hulu ketiga adalah ekonomi perfilman yang menjadi jantung, bagi kelangsungan daya hidup industri film nasional dan hulu terakhir adalah interaksi dan posisi film Indonesia di kancah global saat film telah menjadi medium popular yang melintasi batas-batas bangsa.

Menarik pertanyaan dari Aprofi, Lala Timothy bahwa apakah film Indonesia sepenuhnya di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sesuai amanat UU perfilman atau berbagi dengan Bekraf saat eksistensi dari LSF masih tarik menarik antara Komisi X dan Komisi I.

Pernyataan dari Rudy Anitio XXI yang menggarisbawahi film Indonesia sebagai tuan rumah di negeri sendiri apakah dari sisi jumlah atau kualitasnya karena kalau dilihat dari data yang disajikan Aprofi dari dua tahun terakhir saja memang film Indonesia yang berhasil tayang di bioskop hanya 20% sementara film Eropa, Hollywood dan Asia itu 80% sementara amanat UU Perfilman 60% Film Indonesia dan lainnya hanya 40% saja saat total bioskop kita dari rincian BPI, total layar dari cinema XXI 796 layar, Blitz 100 layar, Cinemaxx 61 layar, Platinum: 18 layar, New Star: 16 layar dan Independent: 45 layar, jadi total keseluruhan berjumlah 1036 layar yang tersebar di 60% provinsi atau kota-kota besar saja.

Ayo Kumandangkan Terussss.......


Indonesia Harus Jadi Tuan Rumah Di Negeri Sendiri.....!