Rahayu Saraswati; Dukung Relawan Sahabat Anak

Rahayu Saraswati; Dukung Relawan Sahabat Anak

Wisma Nusantara I, Kawasan DPR Senayan, Jakarta, Kabarindo

Indonesia patut bangga punya sosok perempuan nasionalis dan peduli sesama.

Tidak hanya sosok wakil rakyat panutan tapi juga perempuan yang konsisten dan tegas, Ia adalah Rahayu Saraswati Dhirakanya Djojohadikusumo, isteri dari Harwendro Adityo Dewanto dan putri pengusaha Hashim Djojohadikusumo.

Selain memiliki latar belakang sebagai ex-host Talk Indonesia di stasiun Metro TV, anggota DPR-RI yang mewakili daerah perwakilan Sragen, Karanganyar, dan Wonogiri dari Fraksi GERINDRA ini adalah aktris trilogi film heroik Merah Putih dan juga aktivis Anti Perdagangan Manusia (Human Trafficking).

Sara (panggilan akrabnya) adalah lulusan sekolah seni peran London International School of Screen Acting. Berusia 29 tahun, ia adalah adik dari Aryo Puspito Setiaki Djojohadikusumo dan kakak dari Siti Indrawati Djojohadikusumo. Kini ia dipercayakan di Komisi VIII (membidangi agama, sosial, pemberdayaan perempuan, perlindungan anak, dan penanggulangan bencana) dan BKSAP (Badan Kerja Sama Antar Parlemen).

Usai perhelatan Workshop Nasional Relawan Sahabat Anak 2014 lalu, dimana ia menjadi salah satu pembicaranya, redaksi beruntung bisa mewawancarainya berhubungan dengan tema Relawan Sahabat Anak.

"Saya percaya bahwa setiap orang sebenarnya memiliki kemampuan untuk berempati terhadap sesamanya, namun untuk maju dan menyumbangkan diri sebagai seorang relawan, orang tersebut biasanya akan memiliki satu kelebihan, yaitu compassion atau rasa belas kasihan. Satu hal untuk merasakan apa yang orang lain sedang lalui (empati), tetapi merupakan hal yang berbeda untuk merasakan belas kasihan terhadap orang tersebut dan mengambil keputusan untuk melakukan sesuatu untuk membantu mereka yang membutuhkan. Namun sangat disayangkan bahwa tidak semua orang mengerti bagaimana cara yang terbaik untuk membantu orang lain. Banyak yang mengira dengan memberi uang adalah satu-satunya cara, sedangkan kita ketahui bahwa itu tidak akan membantu mereka untuk menjadi mandiri dengan begitu saja. Seperti pepatah yang mengatakan: berikan seseorang ikan, maka ia akan makan untuk sehari, namun ajari ia cara memancing, maka ia akan makan selamanya," paparnya lugas.

"Volunteer itu lebih dari orang yang melakukan sesuatu tanpa pamrih dan ikhlas, tetapi harus memiliki rasa tanggung jawab, bersama dengan kebijaksanaan dari pengalaman dan pembelajaran tentang apa yang dibutuhkan. Khususnya sebagai relawan sahabat anak harus mengetahui apa yang diperlukan untuk memastikan bahwa kebutuhan anak-anak yang dibantunya akan terpenuhi," jelasnya.

Sebagai sosok politisi muda, Rahayu Saraswati bersama dengan rekan-rekannya di Komisi VIII tengah memperjuangkan RUU Pekerja Sosial menjadi UU. Redaksi diajak berdiskusi benang merah antara arti dan fungsi dari relawan itu sendiri dan pekerja sosial.

Dalam diskusi tersebut, ia mulai melontarkan beberapa pemikiran tentang perbedaan relawan dengan pekerja sosial. Pertama, seorang volunteer adalah “sukarelawan” – karena melakukan sesuatu secara ‘sukarela’ (volunteerism) – yang jelas berbeda dengan pekerja sosial atau social worker, walaupun mungkin berawal dari volunteerism itu sendiri. Pada dasarnya, mungkin hal yang paling gampang untuk membedakan adalah cakupan waktu dan benefit yang didapati. Ada pemikiran bahwa sukarelawan tidak bisa disebut sebagai pekerja sosial karena mereka tidak ‘bekerja secara profesional’ – dalam arti, mereka tidak full time – sementara pekerja sosial sudah menjadikan dunia volunteerism itu sebagai profesi dengan tugas, posisi, dan organisasi yang jelas, dan tentunya jika profesional maka mereka menerima upah atau gaji dari pekerjaan tersebut.

"RUU Pekerja Sosial akan kami (fraksi dan komisi) perjuangkan untuk melindungi hak para pekerja sosial, memastikan ada persamaan persepsi tentang pekerjaan sosial itu sendiri dan juga memastikan adanya payung hukum untuk bidang ini sendiri. RUU ini penting karena ada kebutuhan yang sangat mendesak di kalangan masyarakat, terutama bagi rakyat miskin, penyandang disabilitas, korban kekerasan (anak maupun dewasa), dan anak-anak yang berhadapan dengan hukum. Berkenaan dengan bertambahnya jumlah relawan sahabat anak, saya rasa penting bagi para relawan tersebut untuk memiliki pengertian dan pemahaman yang lebih tentang dunia anak; minimal 10 Hak Dasar Anak yang ada di Konvensi Hak Anak (KHA) PBB yang sudah diratifikasi oleh pemerintah Indonesia," paparnya lebih lanjut.

Redaksi diujung wawancara sempat menanyakan apakah Indonesia bisa menjadi negara relawan (layaknya Amerika, Eropa dan negara-negara lainnya)?

Sambil menghela nafas panjang dan tersungging senyum, Bu Sara atau Kak Sara mencoba mengingatkan bahwa Indonesia cukup lama menjadi negara jajahan dan cukup muda sebagai negara yang merdeka. Ia menjelaskan pemikirannya bahwa sebagai bangsa yang masih berevolusi sejak masa kolonialisme, mayoritas masyarakat masih belum sepenuhnya merdeka, dan karena mereka sendiri masih berjuang untuk hidup lebih layak, sulit untuk melihat kesengsaraan orang lain dan menganggap diri mereka layak untuk membantu jika pada dasarnya mereka sendiri membutuhkan bantuan itu.

“Saya merasa cukup sedih ketika melihat orang masih membuang sampah sembarangan seolah tanah yang mereka pijak bukan milik mereka sebagai orang Indonesia, tetapi milik orang lain dan maka dari itu tanggung jawab orang lain untuk membersihkannya. Atau saat saya melihat orang dewasa masih saja tidak mau mengantri dengan tertib seolah tidak akan mendapatkan kesempatan atau gilirannya sendiri seakan kita masih harus saling berebut karena segala hal berkekurangan. Untuk menjadi ‘negara relawan’, bangsa Indonesia masih perlu melalui proses yang panjang, terutama dalam kesadaran kepemilikan dan tanggung jawab kita sebagai manusia – bahwa kita tidak hidup seorang diri tetapi setiap dari kita berdampak bagi orang-orang di sekeliling kita,” katanya sebagai akhir pertemuan hari itu. 


Indonesia butuh proses pendewasaan.........!