Schneider Electric; Tawarkan Efisiensi Energi Melalui Internet of Things

Schneider Electric; Tawarkan Efisiensi Energi Melalui Internet of  Things

Surabaya, kabarindo- Schneider Electric, perusahaan global di bidang pengelolaan energi dan automasi, memamerkan teknologi penunjang efisiensi energi terkini di acara bertajuk “Solutions World” di Surabaya pada 6-7 April 2016.

Efisiensi energi merupakan sesuatu yang mutlak dilakukan, antara lain karena isu kelangkaan energi masih menjadi kendala besar. Menurut data yang dirilis oleh International Energy Agency, saat ini 1,3 miliar orang di seluruh dunia masih belum memiliki akses terhadap energi, khususnya energi listrik.

Fakta lain menunjukkan arus urbanisasi, digitalisasi dan industrialisasi mendorong konsumsi energi makin tinggi. Urbanisasi misalnya, pada 2050 diperkirakan perkotaan akan menjadi pusat kehidupan 2,5 miliar jiwa. Era digitalisasi juga membutuhkan energi yang begitu besar. Pada 2020 diprediksi akan ada 50 miliar perangkat yang saling terkoneksi melalui internet. Begitu pula dengan arus industrialisasi yang dipercaya akan menyerap energi 50% lebih besar pada 2050.

Di Indonesia berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), rasio elektrifikasi nasional mencapai 86%. Artinya 14% masyarakat Indonesia belum dapat menikmati berbagai kemudahan dengan aliran listrik.

Di sisi lain, penggunaan energi akan terus bertambah dua kali lipat selama 40 tahun ke depan. Masyarakat global juga dibebani tanggungjawab untuk mengurangi emisi karbon hingga setengahnya. Untuk mencapai keseimbangan tersebut, dibutuhkan upaya efisiensi energi sebesar empat kali lipat dari sekarang.

Riyanto Mashan, Country President Schneider Electric Indonesia, mengatakan teknologi untuk menjawab kebutuhan efisiensi energi terus mengalami evolusi. Sejalan dengan fenomena Internet of Things (IoT) yang menjadi tren di industri IT dan kelistrikan, Schneider Electric membantu merealisasikan berbagai bentuk pengelolaan energi yang efisien melalui ragam solusi yang saling terkoneksi satu sama lainnya.

Selama 10 tahun terakhir, evolusi teknologi dan penggunaan energi yang begitu cepat mendorong warga dunia untuk memikirkan langkah-langkah digitalisasi, dekarbonisasi dan desentralisasi energi. Dari pengelolaan energi yang semula dilakukan secara lokal, kini IoT memungkinkan pengelolaan ini menjadi terdistribusi melalui produk-produk yang saling terkoneksi. Akhirnya terkumpul data yang dapat digunakan oleh para pengguna energi, termasuk organisasi atau perusahaan untuk menganalisa penggunaan energi mereka.

Untuk mendukung hal ini, Schneider Electric menyediakan teknologi manajemen energi, automasi, dan software pendukungnya untuk menciptakan sebuah ekosistem yang memungkinkan terwujudnya open innovation berkelanjutan.

Dalam berinovasi, Schneider Electric berpegang pada 5 prinsip utama yaitu menjawab kebutuhan konsumen, berprioritas pada kualitas, menyediakan solusi yang sederhana dan mudah digunakan, merangkum solusi dalam sebuah sistem yang terintegrasi (software) untuk mempermudah pengawasan dan pengontrolannya, serta memastikan digitalisasi solusi sehingga dapat saling terkoneksi antara satu dengan lainnya.
   
“Di acara ini kami menghadirkan beragam inovasi teknologi di bidang energi dan automasi, termasuk software dan analitik pendukung untuk mengubah information technology menjadi operation technology sehingga mampu menunjang beragam kebutuhan industri yang kian kompleks dan membutuhkan efisiensi yang kian tinggi, mulai dari sektor residensial, bangunan, industrial, infrastruktur hingga data center,” ujarnya.

Rana Yusuf Nasir, pakar energi yang juga Core Founder Green Building Council Indonesia dan Board of Governance Ashrae Indonesia Chapter, mengungkapkan fakta bahwa bangunan gedung menghabiskan lebih dari 1/3 sumber daya dunia untuk konstruksinya, menggunakan 40% dari total energi global dan menghasilkan 40% dari total emisi greenhouse gas (GHG). Fakta-fakta ini mempertegas urgensi bagi sektor bangunan untuk  merealisasikan langkah-langkah efisiensi energi.

“Energy Efficiency Index negara kita untuk bangunan-bangunan komersil seperti rumah sakit, mal, perkantoran maupun perhotelan masih jauh di bawah negara-negara Asia lainnya, seperti Jepang. Kesepakatan dari Rencana Induk Konservasi Energi Nasional pada 2011 menargetkan efisiensi nasional untuk sektor bangunan komersial harus mencapai 15% pada 2025, Untuk mencapai target ini, masih banyak hal yang harus dibenahi oleh para pihak pengelola bangunan, baik bangunan lama maupun bangunan baru,” ujarnya

Rana menekankan, efisiensi energi pada bangunan lama akan memberikan kontribusi yang lebih tinggi terhadap keseluruhan upaya efisiensi energi di sektor bangunan komersial. Mengingat hal ini bukanlah sesuatu yang mudah, maka ia menyarankan untuk fokus dalam skala nasional untuk melakukan “Deep and Large Efficiency”. Hal ini harus didukung dengan regulasi dan penegakan hukum yang jelas, keikutsertaan yang bersifat mandatorial, kebijakan insentif yang menarik hingga sistem rating yang jelas. Dukungan dan intervensi pemerintah juga mutlak diperlukan.

Menurut Rana, IoT berperan penting untuk mewujudkan efisiensi tersebut. Pengelolaan energi dengan sistem yang cerdas dan saling terhubung sangat bermanfaat, misalnya untuk memonitor dan mengontrol database Energy Efficiency Index sehingga memberikan peluang besar untuk mengevaluasi dan mengambil langkah paling tepat dan sesuai untuk mencapai efisiensi energi.

“Sudah saatnya Indonesia memanfaatkan IoT untuk mempermudah strategi pengelolaan energi. Penerapan sistem kelistrikan melalui IoT mampu meningkatkan efisiensi serta memberikan keamanan dan sistem kerja yang lebih baik,” ujar Riyanto.