Surplus Neraca Non Migas; Hingga Akhir Tahun Meningkat

Surplus Neraca Non Migas; Hingga Akhir Tahun Meningkat

Jakarta, Kabarindo- Inflasi Oktober 2013 sebesar 0,09% (mom), 8,32% (yoy) dan 7,66% (Kalender).

Penyumbang inflasi terbesar adalah Bahan Makanan dengan andil terhadap total inflasi sebesar -0.15%, diikutiu ioleh Makanan Jadi, Minuman, Rokok dan Tembakao (0.10%).

Jika dilihat lebih dalam, komoditi Cabe Merah memberikan kontribusi terbesar terhadap inflasi di bulan Oktober yaitu sebesar 0,18%.

Neraca perdagangan defisit. Neraca perdagangan bulan September 2013 defisit USD 657,2 juta, terdiri dari neraca migas defisit sebesar USD 1,2 M dan non migas surplus USD 496,8 juta.

Secara kumulatif Neraca perdagangan selama Jan-Sep 2013 defisit USD 6,26 M terdiri dari surplus non migas sebesar USD 3,48 M, sementara neraca migas defisit USD 9,74 M.

“Dengan memperhatikan pola pertumbuhan ekspor maupun impor hingga September 2013 dan pola Triwulan IV selama 2 tahun terakhir, maka defisit neraca perdagangan diperkirakan akan berkisar USD 6-8 M”, hal itu dipapar lugas oleh Wakil Menteri Perdagangan hari ini, Rabu (6/11), pada saat konferensi pers
mengenai kinerja perdagangan di Auditorium Kemendag.

Sementara itu, mitra dagang yang menjadi penyumbang defisit terbesar pada periode Jan-Sep 2013 adalah China, Thailand, Jepang, Korea Selatan, dan Australia. Defisit perdagangan dengan China mencapai USD 7,3 miliar, sedangkan dengan Thailand USD 4,3 miliar; Jepang USD 2,4 miliar; dan Korea Selatan USD 2,1 miliar. Dengan memperhatikan pola pertumbuhan ekspor maupun impor non migas hingga September 2013 dan pola Triwulan IV selama 2 tahun terakhir, maka
surplus neraca perdagangan non migas diperkirakan akan berkisar USD 5–6 M.
Ekspor bulan September 2013 meningkat 13,2% (MoM).

Lebih lanjut Mendag menyampaikan bahwa ekspor bulan September 2013 mencapai USD 14,8 M, naik 13,2% (MoM) terdiri dari ekspor migas USD 2,5 M (turun 7,5% MoM) dan non migas USD 12,3 M (naik 18,6% MoM).

Sementara total ekspor Jan-Sep 2013 sebesar USD 134 M, turun 6,3% MoM,
namun volume total ekspor dan volume ekspor non migas masih tumbuh masing-masing sebesar 19,2% dan 22,4% (YoY).

Nilai ekspor non migas ke beberapa negara selama Jan-Sep 2013 mengalami kenaikan yang signifikan yaitu Singapura dengan kenaikan mencapai USD 329,5 juta.

Disusul urutan berikutnya yaitu Amerika Serikat, Myanmar, India, Filipina, Turki, Rusia, Nigeria, Ukraina dan Selandia Baru yang mengalami kenaikan sebesar USD 63,8 juta sampai dengan USD 210,3 juta.

Sementara itu, beberapa produk manufaktur memberikan kontribusi peningkatan ekspor yang signifikan selama Jan-Sep 2013 antara lain Kapal Laut meningkat USD 546,7 juta atau naik 164,2% dari periode yang sama tahun sebelumnya dan produk alas kaki ekspornya meningkat sebesar USD 274,1 juta (naik 10,7%) serta pakaian jadi yang meningkat sebesar USD 112,0 juta (naik 3,9%).

Impor bulan September2013 naik 18,9%(MoM)
Impor bulan September 2013 mencapai USD 15,5 miliar, naik 18,9% MoM.
Peningkatan impor tersebut terjadi akibat peningkatan impor non migas sebesar 26,3% MoM menjadi USD 11,8 miliar. Komoditas non migas yang mengalami peningkatan impor yang cukup besar antara lain, antara lain mesin-mesin (naik 25,2% MoM), peralatan listrik (naik 38,1% MoM); besi baja (naik 43,5% MoM); plastik dan barang dari plastik (naik 37,7% MoM); ampas/sisa industri makanan (naik 53,0% MoM) dan kapas (naik 54,3% MoM). Sedangkan, nilai impor non migas dari beberapa negara yang mengalami peningkatan yang signifikan antara lain, Malaysia (naik 65,0% MoM), Perancis (naik 32,7% MoM), China (naik 38,4% MoM), Taiwan (Naik 63,9% MoM) dan Singapura (naik 28,3%).

Secara kumulatif, total impor selama Januari-September 2013 mencapai USD 140,3 miliar (turun 1,2% yoy), terdiri dari impor non migas sebesar USD 106,7 miliar (turun 3,9% yoy) dan impor migas USD 33,6 miliar (naik 8,5%). Kenaikan impor migas selama Januari-September 2013 disebabkan oleh meningkatnya permintaan minyak mentah yang meningkat sebesar 29,3%.

Sementara itu, komoditas nonmigas yang mengalami penrurunan impor signifikan, antara lain kapal terbang dan bagiannya dengan penurunan sebesar 56,5% (YoY) atau senilai USD 1,8 miliar; kendaraan dan bagiannya turun 18,3% (YoY) sebesar USD 1,4 miliar; dan mesin-mesin/pesawat mekanik turun 5,2% (YoY) sebesar USD 1,1 miliar.

Selama Januari-September 2013, struktur impor masih didominasi oleh impor bahan baku/penolong yang mencapai 76,1% dan barang modal sebesar 16,9%. Sedangkan impor barang konsumsi turun sebesar 2,0% (YoY) menjadi USD 9,8 miliar. Impor bahan baku/penolong naik 3,2% menjadi USD 106,8 miliar, sedangkan impor barang modal turun 16,8% menjadi USD 23,7 miliar
atau lebih rendah dari pada impor tahun lalu yang naik sebesar 23,9%.