Bekraf Gandeng Yayasan AMI; Gali Potensi & Pacu Gairah Ekosistem Industri Musik

Bekraf Gandeng Yayasan AMI; Gali Potensi & Pacu Gairah Ekosistem Industri Musik

Bekraf Gandeng Yayasan AMI; Gali Potensi & Pacu Gairah Ekosistem Industri Musik

Gelar Musikologi Series keenam di Surabaya, dorong musisi untuk jadikan musik sebagai ladang pendapatan

Surabaya, Kabarindo- Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) bekerja sama dengan Yayasan Anugerah Musik Indonesia (AMI Awards) menyelenggarakan Musikologi Series di Sheraton, Surabaya, pada Jumat (11/10/2019).

Ini merupakan acara konferensi musik yang digelar di beberapa kota. Sebelumnya Musikologi Series digelar di Yogyakarta, Palembang, Medan, Ambon dan Manado yang mendapatkan apresiasi tinggi dari para peserta di setiap kota.

Diambil dari perpaduan kata Musik dan Ekologi, Musikologi Series adalah konferensi musik dengan program edukasi sharing knowledge dari para ahli musik dan praktisi industri musik kepada para insan musik untuk mendapatkan pengetahuan dan wawasan baru tentang industri musik serta coaching clinic yang berhubungan dengan industri musik. Acara ini juga dapat menambah jaringan dan relasi untuk rnereka yang bersinggungan dengan industri musik.

Musikologi Series menargetkan 500 peserta dari setiap kota yang dikunjungi, terdiri dari komunitas musik, sekolah musik, pemain musik, mahasiswa dan orang-orang yang bersinggungan serta tertarik dengan industri musik.

Restog Krisna Kusuma, Sekretaris Utama Bekraf RI, mengatakan Bekraf didukung oleh Yayasan Anugerah Musik Indonesia berusaha untuk terus menggali potensi dan memacu gairah ekosistem dari industri musik.

“Tugas Bekraf untuk memfasilitasi para pelaku ekonomi kreatif di bidang musik. Karena itu, kami memprakarsai kegiatan ini,” ujarnya.

Restog berharap, Musikologi Series dapat mempertemukan mereka yang menggeluti musik untuk membangun jejaring dan menjalin relasi, sehingga bisa mendorong pertumbuhan ekonomi di bidang musik. Ia mengatakan, musik dapat menyumbang pendapatan dari sub-sektor ekonomi kreatif.

“Musikologi diharapkan dapat mendukung serta membantu generasi muda dan insan musik Indonesia untuk terus berkembang, meningkatkan profesionalisme, kualitas, kapasitas, produktivitas dan industri kreatif Indonesia,” ujarnya.

Dwiki Dharmawan, Ketua Umum Yayasan AMI dan Ketua Program Acara Konferensi Musikologi, mengatakan kegiatan ini dapat membuka peluang bagi mereka yang awalnya menggeluti musik sebagai hobi menjadi profesi yang menghasilkan pendapatan.

“Acara ini membuka peluang bagi anak muda khususnya di Surabaya yang berminat masuk ke industri musik sebagai orang yang profesional. Karena itu, kami menghadirkan para pembicara yang kompeten,” ujarnya.

Dwiki melihat banyak talenta musik yang kreatif di Indonesia. Mereka bisa menjadi musisi besar jika diasah dengan baik serta mendapatkan pengetahuan, wawasan, skill dan memahami seluk beluk tentang industri musik. Misalnya soal aransemen, manajemen musik dan lainnya.

Ari Juliano Gema, Deputi Fasilitasi HKI dan Regulasi Bekraf RI, menambahkan pemahaman Hak Kekayaan Intelektual (HKI) penting bagi musisi, agar karyanya terlindungi dan bisa dikelola untuk mendapatkan manfaat ekonomi yang optimal.

“Melalui kegiatan Musikologi ini, kami membagikan pengetahuan tentang pentingnya HKI sehingga karya-karya musisi terhindar dari eksploitasi dan penggunaan yang merugikan,” ujarnya.

Musikologi terbagi dalam dua agenda besar. Pertama adalah paparan dari deputi-deputi Bekraf, dilanjutkan dengan konferensi yang menghadirkan artis, musisi dan para profesional di industri musik. Para peserta berkesempatan untuk mengikuti sharing session dengan para panelis. Sedangkan agenda kedua adalah Coaching Clinic yang memberikan pelatihan elemen penting dalam memproduksi sebuah karya musik yang baik. Sebagai panelis dan pembimbing antara lain Badai Ex Kerispastih, Ikmal Tobing, Eghay D’Masiv, Erwin Prasetya, Irfan Samsons serta para profesional di industri musik.

Penulis: Natalia Trijaji