Cerita Para Pemain Tentang Film Lampor; Semua Akrab dan Menikmati Syuting

Cerita Para Pemain Tentang Film Lampor; Semua Akrab dan Menikmati Syuting

Cerita Para Pemain Tentang Film Lampor; Semua Akrab dan Menikmati Syuting

Kulonuwon kepada penduduk setempat, ada yang mengalami kejadian mistis

Surabaya, Kabarindo- Film bergenre horor Lampor Keranda Terbang bisa dinikmati masyarakat di bioskop-bioskop mulai 31 Oktober 2019.

Film ini mengangkat cerita mistis tentang Lampor di kalangan penduduk sebuah desa di Temanggung, Jawa Tengah. Lampor dipercaya adalah keranda terbang disertai pasukan bersuara magis bak teror. Keranda itu diusung oleh setan-setan yang dipimpin oleh makhluk besar hitam yang terbang dengan muka rusak dan bermata merah menyala. Lampor menyusuri jalanan desa dan mengambil korban pada malam hari.

Sebelum diputar di bioskop, beberapa pemain menyambangi sejumlah kota termasuk Surabaya dan melakukan special screening bersama para penonton. Surabaya kedatangan 5 pemain Lampor yaitu Dion Wiyoko sebagai Edwin, Adinia Wirasti sebagai Netta, Bimasena sebagai Adam (anak) dan Angelia Livie sebagai Sekar (anak) serta Dian Sidik (Bimo), tukang pukul di perkebunan tembakau di sebuah desa di Temanggung.

Mereka nobar bersama penonton pada Minggu (27/10/2019) malam, berbincang dengan penonton, membagikan sovenir dan berfoto bareng. Penonton antusias menyambut kehadiran mereka dan tak segera meninggalkan studio setelah film usai. Mereka menunggu untuk bisa berfoto bareng para pemain tersebut.

Dion, Adinia, Dian Sidik, Bimasena dan Angelia menuturkan pengalaman mereka selama syuting di lereng gunung Sumbing dan Sindoro, Temanggung, yang merupakan daerah penghasil tembakau yang sejuk dan indah.

Menurut Dion, sebelum melakukan syuting, mereka telah kulonuwon kepada pemerintah dan desa setempat. Masyarakat menerima dengan terbuka sehingga syuting berjalan lancar. Ia menuturkan, selama proses tersebut, semua yang terlibat menjalin hubungan akrab, sehingga suasananya enak.

“Lazimnya sebelum syuting, kita permisi dulu kepada pemerintah dan masyarakat setempat. Kita juga jalan-jalan di desa di sana supaya bisa lebih dapat chemistry. Kita menikmati suasana di sana, tenang, sejuk,” tutur Dion.

Bima dan Angelia juga mengaku senang selama syuting di Temanggung. Mereka menuturkan karakter mereka di Lampor sebagai anak yang ceria dan mau tahu.

“Aku main film horor untuk mencoba karakter lain dan menambah pengalaman,” ujar Bima.

Bima dan Angelia mengatakan, orang tua mereka telah menyetujui mereka bermain dalam Lampor. Sebagai anak sekolah, mereka juga tetap mengerjakan PR dan berusaha melakukannya dengan baik di tengah jadwal yang padat.

Dion mengatakan salut pada Bima dan Angelia yang masih anak-anak, namun mampu bersikap profesional dan memiliki komitmen yang tinggi.

Dion dan Adinia mengaku tak mengalami hal-hal mistis selama syuting. Mereka selalu menghormati kepercayaan dan tradisi di suatu daerah. Adinia menuturkan para pemain dan kru harus menyesuaikan diri dengan jadwal syuting yang 80% dilakukan pada malam hari.

“Kita syuting hampir 1,5 bulan. Sebagian besar waktunya malam hari. Jadi jam tidurnya terbalik. Malam syuting, siang tidur,” ujarnya.

Berbeda dengan Dion dan Adinia, sebaliknya Dian Sidik mengaku mengalami hal-hal mistis, bahkan setelah pulang ke rumah. Seolah ada yang mengikutinya. Misalnya, remote TV di kamarnya bergerak sendiri. Namun ia bersikap biasa saja dan berusaha tetap tenang.

Penulis: Natalia Trijaji