Gerakan Menghadap ke Laut; Bersihkan Sampah Pantai & Laut di Indonesia

Gerakan Menghadap ke Laut; Bersihkan Sampah Pantai & Laut di Indonesia

Gerakan Menghadap ke Laut; Bersihkan Sampah Pantai & Laut di Indonesia

Dilakukan secara sukarela dan melibatkan lebih dari 20.000 orang

Surabaya, Kabarindo- Gerakan Menghadap ke Laut merupakan gerakan kepedulian laut terbesar yang pernah ada di Indonesia, yang telah dilakukan secara sukarela dan melibatkan lebih dari 20.000 orang dipimpin oleh Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti, yang juga pembina utama Pandu Laut Nusantara.

Gerakan ini dilakukan bersama 341 mitra yang terdiri dari kelompok masyarakat, komunitas masyarakat adat, nelayan, mahasiswa dan kelompok-kelompok pemerhati lingkungan termasuk kelompok swasta pelaku wisata, musisi, seniman, figur publik dan BUMN. Mereka bersama-sama “menghadap laut” dan merawat serta membersihkan pantai-pantai Indonesia.

Susi mengatakan, Indonesia merupakan negara penyumbang sampah plastik ke lautan terbesar kedua di dunia. Sampah plastik sangat berbahaya. Gerakan ini sebagai bagian dari komitmen kita mengurangi 70% sampah plastik di lautan pada 2025. Ia melihat gerakan menghadap laut menunjukkan kepedulian masyarakat pada laut Indonesia yang bergerak sukarela di 76 titik dan 28 kapal bergabung di titik titik berbeda.

Sampah plastik di Indonesia mencapai 64 juta ton / tahun dimana sebanyak 3,2 juta ton merupakan sampah plastik (sumber BPS & INAPLAS). Sedangkan kantong plastik yang terbuang ke lingkungan sebanyak 10 milyar lembar per tahun = 85.000 ton kantong plastik (sumber BPS & INAPLAS). Sampah plastik yang masuk ke laut dapat terbelah menjadi partikel-partikel kecil yang disebut microplastics dengan ukuran 0,3 – 5 milimeter. Microplastics ini sangat mudah dikonsumsi oleh hewan-hewan laut.

Kegiatan tersebut digerakkan oleh Sekretariat Pandu Laut Nusantara, Yayasan EcoNusa bersama kelompok-kelompok masyarakat secara swadaya di seluruh Indonesia. Diharapkan dapat menjadi ajang edukasi efektif bagi masyarakat pesisir tentang kerugian dan bahaya membuang sampah ke laut.

Bustar Maitar, Ketua Umum Pandu Laut Nusantara, mengatakan Indonesia harus merdeka dari sampah plastik dan pemerintah harus lebih serius dalam melarang penggunaan plastik sekali pakai.

“Kegiatan ini adalah upaya membangun gerakan kerelawanan oleh masyarakat Indonesia untuk merdeka dari sampah plastik. Keswadayaan masyarakat dalam merawat laut adalah bagian dari kekuatan bersama untuk merawat Indonesia,” ujarnya.

Sarwono Kusumaatmadja, Menteri Lingkungan Hidup 1993-1998, mengapresiasi gerakan Pandu Laut Nusantara yang bergerak tepat waktu di tengah kecemasan dan keprihatinan yang memuncak terhadap pencemaran laut, khususnya oleh limbah plastik. Kegiatan bersih-bersih pantai dan laut yang diadakan serentak di seluruh Nusantara diharapkan bisa tumbuh menjadi budaya bersih yang akan memaksa kita untuk menganut pola kehidupan berwawasan lingkungan demi masa depan generasi mendatang.

Penulis: Natalia Trijaji