Indonesia Footwear Network; Siap Perkuat Industri Alas Kaki di Indonesia

Indonesia Footwear Network; Siap Perkuat Industri Alas Kaki di Indonesia

Indonesia Footwear Network; Siap Perkuat Industri Alas Kaki di Indonesia

Dibentuk oleh Balai Pengembangan Industri Persepatuan Indonesia (BPIPI)

Sidoarjo, Kabarindo- Pandemi Covid-19 telah memukul semua sektor industri, termasuk industri alas kaki. Memasuki era new normal, kini saatnya memperkuat kembali industri ini.

Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah dan Aneka dari Kementrian Perindustrian, Gati Wibawaningsih, mengatakan pandemi menjadi sebuah tantangan bagi industri alas kaki untuk mempertahankan bisnisnya. Pengusaha dituntut untuk lebih kreatif dan inovatif, salah satunya dengan membangun jaringan antar pebisnis guna mendapatkan peluang kerja sama dan meningkatkan citra diri maupun perusahaan (personal dan company branding).

Untuk itu, Direktorat Jenderal Industri Kecil, Menengah dan Aneka melalui Balai Pengembangan Industri Persepatuan Indonesia (BPIPI) membentuk Indonesia Footwear Network (IFN). Ini merupakan sebuah komunitas atau platform jejaring untuk pelaku industri alas kaki, bahan baku dan bahan penolong. Platform ini menjadi etalase yang menampilkan informasi pelaku usaha yang terdiri dari brand, supplier dan produsen sehingga dapat diakses oleh seluruh pelaku usaha bidang alas kaki dan produk kulit.

IFN adalah sebuah inisiatif BPIPI di tengah pandemi yang berusaha menjawab tantangan sekaligus merespon perubahan tatanan industri alas kaki nasional. Pemanfaatan sosial media dan teknologi informasi akan menjadi motor utama IFN sebagai gerakan komunitas industri alas kaki. BPPI sebagai fasilitator industri alas kaki nasional merasa perlu menguatkan kembali berbagai komunitas di industri alas kaki dari hulu hingga hilir,” ujarnya dalam acara Soft Launching Indonesia Footwear Network secara daring yang berlangsung di gedung BPIPI di Tanggulangin, Sidoarjo, pada Selasa (4/8/2020).

Dengan IFN sebagai platform komunitas baru bagi industri alas kaki, BPIPI berharap dapat memberikan informasi yang relevan bagi potensial market domestik dan global tentang potensi industri alas kaki dari hulu hingga hilir. Sesuai dengan tujuan BPIPI sebagai fasilitator industri, maka IFN akan didorong untuk melengkapi dan mengumpulkan informasi industri yang selama ini ada di masing-masing komunitas.

Sebagai salah satu manufaktur alas kaki terbesar global, Indonesia perlu mengambil peran untuk mengintegrasikan informasi produsen, supplier, sumber material, merk lokal dan organisasi yang bergerak di sektor industri alas kaki. Dengan IFN sebagai platform online komunitas bagi industri, BPIPI berharap dapat memberikan informasi yang relevan bagi potensial market baik domestik dan global tentang potensi industri alas kaki dari hulu hingga hilir,” ujar Gati.

Heru Budi Susanto, Kepala BPIPI, memaparkan tujuan IFN adalah Collect, Connect dan Collaboration. Collect adalah IFN berperan untuk mengumpulkan data para pelaku usaha di industri alas kaki. Melalui etalase online berbasis website yang dibuat, diharapkan akan mempermudah pengumpulan dan pencairan informasi dan profil berbagai usaha industri alas kaki dari hulu ke hilir. Connect maksudnya, IFN dapat membuka akses seluas-luasnya kepada pada pelaku industri alas kaki maupun masyarakat yang tertarik dan berminat di industri ini. Sedangkan Collaboration adalah IFN membuka kesempatan dan peluang antar pelaku usaha dengan masyarakat untuk berkolaborasi, sehingga terjadi dampak yang saling menguntungkan.

Heru menambahkan, IFN juga bertujuan untuk mengetahui persebaran industri alas kaki di seluruh Indonesia, memberikan kemudahan industri kecil menengah (IKM) alas kaki maupun produk kulit dalam mencari bahan baku terutama IKM di luar pulau Jawa, serta membentuk suplly chain bidang alas kaki sehingga memaksimalkan costumer value dan mencapai keunggulan kompetitif yang berkelanjutan.

Budi Purwoko, Ketua Umum DPP Asosiasi Penyamak Kulit Indonesia (APKI), menyebutkan pelaku industri alas kaki skala menengah atas di Indonesia berjumlah 300, sedangkan pelaku IKM sekitar 18 ribu.

Gati berharap IFN dapat dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya oleh para pelaku industri alas kaki di Indonesia serta berperan positif dalam memajukan industri alas kaki nasional.

Penulis: Natalia Trijaji