Jeune Création; Pameran Fotografi Paralel Karya Erell Hemmer & Rémi Decoster

Jeune Création; Pameran Fotografi Paralel Karya Erell Hemmer & Rémi Decoster

Jeune Création; Pameran Fotografi Paralel Karya Erell Hemmer & Rémi Decoster

Menyoroti hal yang dipandang unik dari hasil berkarya selama di Surabaya

Surabaya, Kabarindo- Institut Français Indonesia (IFI) Surabaya bekerja sama dengan House of Sampoerna (HoS) menggelar pameran fotografi paralel Jeune Création (baca: jzhen kréasiong) atau Cipta Karya Muda selama 12-27 April 2019.

Event tersebut menampilkan hasil karya residensi fotografi di Surabaya pada 2018 dari 2 fotografer muda Prancis, Erell Hemmer dan Rémi Decoster. Masing-masing menyoroti hal yang mereka pandang unik dari hasil berkarya selama di Surabaya sebagai kota maritim dan pesisir.

Erell Hemmer dan Rémi Decoster adalah 2 fotografer muda yang baru menyelesaikan studi master. Mereka melakukan residensi fotografi selama 3 bulan pada tahun lalu dengan mengamati problematika Surabaya dan sekitarnya. Pada 2019, keduanya kembali ke kota ini.

Erell Hemmer, fotografer dan desainer grafis berusia 27 tahun berasal dari Havre, Prancis. Ia lulusan ISAA (Institut Supérieur des Arts Appliqués / Institut Tinggi Seni Terapan) di Rennes dan ESA le Septante Cinq di Bruxelles sejak 2016.

Erell Hemmer menampilkan karya dari project foto jangka panjangnya, termasuk hasil observasi di Surabaya berjudul Pourquoi suis-je incapable d’aller sur la tombe de mon père (Mengapa Ku Tak Sanggup Pergi ke Makam Ayah) di halaman HoS. Sedangkan Rémi Decoster mengangkat topik dengan pendekatan sosial dan model penceritaan dongeng ala Indonesia berjudul L’ogre de Gergasi (Raksasa Gergasi) di galeri paviliun.

Salah satu keunikan pameran, untuk pertama kalinya di HoS, sebuah pameran foto kontemporer menyatu dengan peti kemas industrial (asli tanpa modifikasi), yang dipakai untuk keperluan transportasi dan penyimpanan barang antar lautan. Hal ini berkaitan dengan tema yang diangkat Erell yang memiliki keterkaitan erat dengan lautan. Peti kemas ini menjadi bagian dari pameran karyanya. Lautan dan pesisir menjadi inspirasi utama bagi Erell, terutama sejak kepergian sang ayah, François Hemmer, seorang kapten kapal dagang.

Proyek fotografi ini merupakan ungkapan duka cita yang ia lalui, dengan pengambilan gambar bertema antara lain lautan, pelabuhan serta kehidupan di pesisir laut, di sejumlah negara, termasuk di Surabaya. Erell Hemmer menyampaikan fase demi fase masa duka cita melalui gambar-gambar dan karya fotografi dari perjalanannya di Prancis, Amerika Selatan, Islandia, Jepang dan Indonesia.

Di sisi lain, keistimewaan karya Rémi diperoleh berkat kejelian dan sudut pandang yang khas dalam mengobservasi fungsi sosial di masyarakat. Ia menemukan bahwa sebuah keahlian terkait seni dapat menjadi profesi yang diterima di dalam masyarakat yang dikenal relatif konservatif. Rémi menampilkan karyanya dengan gaya seri foto yang bertutur ala dongeng, rekaannya sendiri, dengan mengambil inspirasi dongeng raksasa asal Indonesia yang dikenal dengan Gergasi.

Subjek foto Rémi adalah penata rias pengantin di Madura dengan aktivitas di seputarnya dan kehidupan keseharian mereka yang belum banyak dikenal. Ia menyajikan reportase investigasi yang membawanya berjumpa dengan penata rias, penata busana dan penyelenggara acara-acara meriah di Bangkalan, Madura. Seputar tokoh nyata dan kharismatik, ia mengeksplorasi tantangan-tantangan manusiawi dan profesional dari komunitas yang dianggap tak biasa, yang mendapat tempat di masyarakat Madura.

Rémi adalah fotografer dan sutradara film dokumenter kelahiran 1990, lulusan Fakultas Ilmu Politik Université Libre - Bruxelles tahun 2014, master dari sekolah fotografi EFET pada 2016 dan Master Profesional dalam Produksi Film Dokumenter dari Université de Paris Saclay pada 2018. Kini ia berbasis di Paris dan mengembangkan karya yang berpusat pada isu-isu minoritas dan masyarakat mikro di dunia global saat ini.

“Gelaran karya fotografi ini menunjukkan perbedaan cara pandang terhadap kebiasaan yang terjadi di sekitar kita. Hal-hal yang dianggap sederhana dapat menjadi sesuatu yang menarik bagi orang lain. Pameran ini diharapkan dapat mendorong generasi muda untuk semakin peka terhadap adat dan budaya sebagai inspirasi dalam berkarya,” ujar Rani Anggraini, Manager House of Sampoerna.

Penulis: Natalia Trijaji