Kopi Produksi Wonosalam Jombang; Rambah Pasar Luar Negeri

Kopi Produksi Wonosalam Jombang; Rambah Pasar Luar Negeri

Kopi Produksi Wonosalam Jombang; Rambah Pasar Luar Negeri

Produksi biji kopi 15 ton per tahun, pasar meliputi Jatim, Bali, Sumatra, Kalimantan hingga Singapura

Jombang, Kabarindo- Kopi hasil panen Wonosalam, Jombang, mampu merambah pasar luar negeri.

Yayak, Ketua Kelompok Petani Kopi Wojo, Unit Pengolahan Hasil (UPH) Kopi Desa Carangwulung Kecamatan Wonosalam, Kabupaten Jombang, mengatakan biji kopi produksi para petani di kelompok tersebut diminati pasar Singapura.

“Ini merupakan kemajuan yang sangat bagus,” ujarnya di sela kegiatan gathering media yang diadakan Bank Indonesia Kantor Perwakilan Jawa Timur pada Sabtu (28/11/2030).

Ia mengatakan, Kelompok Petani Kopi Wojo merupakan salah satu klaster binaan BI di Jombang. Saat ini beranggota 25 petani yang memiliki lahan 30 ha. Dulu mereka hanya mampu memproduksi biji kopi 1-2 ton per tahun, kini mencapai 15 ton per tahun.

Peningkatan ini ditampung oleh pasar maupun kedai-kedai kopi yang membutuhkan pasokan rutin setiap bulan. Untuk pasarnya, Yayak menyebutkan, hingga berbagai kota di Jatim seperti Surabaya, Malang, Kediri, Sumatra, Bali dan Kalimantan. Bahkan ada permintaan dari Singapura, namun tak mampu dipenuhi, karena biji kopi hasil panen belum mencukupi.

“Kami akan berusaha terus meningkatkan produksi untuk memenuhi permintaan pasar. Kalau bisa, juga memperluas pasar ke negara-negara selain Singapura,” ujarnya.

Yayak memaparkan, para petani di kelompoknya memproduksi biji kopi grade 1. Saat dipetik, semua buah kopi berwarna merah segar dan harus diproses langsung untuk memperoleh cita rasa kopi yang bagus. Ada proses kering dan basah. Proses kering secara natural, sedangkan proses basah secara full wash dan semi-wash. Untuk menghasilkan biji kopi grade 1, harus menerapkan rangkaian proses secara benar.

Yayak menjelaskan, dulu ketika pemetikan dan proses dilakukan asal-asalan, tidak menghasilkan biji kopi grade 1. Hal ini membuat harga biji kopi jenis robusta hanya Rp.28 ribu-Rp.30 ribu per kilogram. Kini harganya mencapai Rp. 40 ribu per kilo. Untuk jenis arabika kini mencapai Rp.80 ribu per kilo, liberica Rp.75 ribu per kg, sedangkan ekxelsa seharga Rp.65 ribu per kg.

Menurut Yayak, petani kopi berperan sangat penting dalam menentukan kualitas biji kopi grade 1. “Yang utama adalah petani. Perannya mencapai 60%, kemudian roastery 30%, selanjutnya barista 10%,” ujarnya.

Yayak mengatakan, BI memberikan bantuan kepada Kelompok Petani Kopi Wojo berupa peralatan di antaranya huller, alat penyerap kadar air dan alat penjemur biji kopi dengan memberikan target hasil panen dapat meningkat 10%-20%. Namun ternyata hasil panen bisa meningkat lebih dari 20%. Hal ini menggembirakan sekaligus memacu semangat para petani di kelompok ini untuk menghasilkan panen lebih besar.

Yayak berharap, kelompoknya bisa mendapatkan bantuan modal dan ilmu dari BI selain peralatan, sehingga dapat lebih meningkatkan produksi.

Penulis: Natalia Trijaji