Menlu Retno Marsudi: Perempuan Bisa Menjadi Agen Perdamaian & Agen Toleransi

Menlu Retno Marsudi: Perempuan Bisa Menjadi Agen Perdamaian & Agen Toleransi

Menlu Retno Marsudi: Perempuan Bisa Menjadi Agen Perdamaian & Agen Toleransi

Dorong kaum perempuan tingkatkan potensi, Indonesia menggagas pembentukan jejaring negosiator dan mediator perempuan ASEAN (SEANWPNM)

Surabaya, Kabarindo- Perempuan bisa menjadi agen perdamaian dan agen toleransi. Hal ini dilontarkan Menteri Luar Negeri (Menlu) RI, Retno Marsudi.

“Kaum perempuan dapat menjadi agen perdamaian dan agen toleransi,” ujarnya dalam diskusi tentang peran perempuan dalam perdamaian dunia yang telah diadakan Forum Jurnalis Perempuan Indonesia (FJPI) dan IDN Times dalam rangka Hari Perempuan Sedunia yang jatuh pada Senin (8/3/3021).

Retno mengatakan, ketika berbicara tentang perdamaian dunia, diplomat menjadi profesi garda terdepan. Mereka melakukan dialog, negosiasi dan menjaga hubungan baik antar negara untuk menciptakan perdamaian dunia.

Menurut Retno, diplomat perempuan memiliki tantangan lebih besar dibandingkan laki-laki. Padahal mereka berpotensi menjadi agen perdamaian dunia dan agen toleransi. Untuk mengembangkan potensi perempuan diplomat, Indonesia menggagas pembentukan jejaring negosiator dan mediator perempuan ASEAN (SEANWPNM).

Salah satu gagasan dibentuknya jejaring ini adalah minimnya keterlibatan perempuan dalam proses mediasi berbagai konflik kawasan maupun global. Karena itu, jejaring ini diharapkan dapat menjadi penghubung kemitraan dengan jaringan mediator perempuan di tingkat global.

“Jejaring ini memberikan kesempatan bagi perempuan untuk berkontribusi dalam mewujudkan perdamaian dunia,” ujarnya.

Sebagai Menlu Indonesia, Retno banyak terlibat dengan menlu lainnya. Dalam jejaring ini, ia melihat ikatan antara perempuan diplomat sangat kuat. Ia mengatakan, para menlu perempuan punya grup seperti grup arisan.

“Tentu kita biasa berbicara isu politik. Tapi kita juga membahas isu perempuan. Kita ingin peace keeper perempuan ditingkatkan,” paparnya.

Setiap membahas isu perempuan, Retno melihat dua tugas penting yang perlu diperhatikan yaitu menghindari drikiminasi dan meningkatkan pemberdayaan perempuan. Ia tak ingin kaum perempuan mengalami diskriminasi dalam pekerjaan, sosial, ekonomi dan lain-lain.

“Pengembangan potensi perempuan harus terus ditingkatkan. Perempuan bisa menjadi bagian dari upaya pemecahan masalah. Investing in woman is investing in brighter future,” ujar Retno.

Penulis: Natalia Trijaji