Peran Media dalam Jurnalisme Sensitif Gender; Dorong Kesetaraan Gender

Peran Media dalam Jurnalisme Sensitif Gender; Dorong Kesetaraan Gender

Peran Media dalam Jurnalisme Sensitif Gender; Dorong Kesetaraan Gender

Juga mendidik masyarakat supaya sadar gender

Surabaya, Kabarindo- Isu gender menjadi topik bahasan yang menarik dan hangat dalam workshop bertajuk Peningkatan Pemahaman Pengarusutamaan Gender bagi Lembaga Masyarakat Jatim yang berlangsung di Surabaya pada Selasa-Rabu, 3-4 Desember 2019.

Kegiatan tersebut diadakan oleh Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak & Kependudukan (DP3AK) Jatim bersama Forum Jurnalis Perempuan Indonesia (FJPI) Jatim. Wokshop menghadirkan beberapa pembicara, salah satunya Liestianingsih Dwi Dayanti, dosen komunikasi FISIP Unair yang mengupas tentang gender dan jurnalis.

Ia melihat dalam satu dekade, bias gender di media tidak banyak berubah. Masih sarat berita maupun hiburan dengan konten tidak adil gender, baik pada media konvensional maupun media baru.

Liesti menyinggung tentang kuatnya media dalam menciptakan dan mendeskripsikan stereotipe mengenai laki-laki dan perempuan. Media menggambarkan sosok laki-laki dan maskulinitas sebagai mereka yang agresif, dominan dan terlibat dalam berbagai kegiatan yang membutuhkan keputusan. Dominasi, kegagahan, kekuasaan dimasukkan sebagai wilayah laki-laki. Sebaliknya kelembutan, lemah, terdominasi, tidak mandiri, ragu-ragu dan lain-lain dimasukkan sebagai ranah perempuan.

Liesti mengatakan, femininitas adalah konstruksi sosial atas nilai-nilai yang dilekatkan dengan keperempuanan. Begitu pula maskulinitas merupakan konstruksi sosial atas nilai-nilai yang dilekatkan dengan kelelakian. Namun konstruksi ini sudah berkembang. Perempuan juga bisa melakukan pekerjaan yang biasa dilakukan laki-laki atau mengikuti olahraga ekstrim, misalnya terjun payung. Sebaliknya laki-laki juga bisa piawai melakukan pekerjaan yang identik dengan perempuan, bahkan menjadi profesi yang kini banyak ditekuni dan menghasilkan banyak uang. Misalnya menjadi chef, perancang busana, penata rambut, make-up artist.

Menurut Liesti, kini mulai ada pergeseran representasi di media yang menggembirakan. Misalnya ada media yang menampilkan sosok ayah sebagai laki-laki yang peduli keluarga, mengasuh anak dan pintar memasak.

Ia mengimbau media untuk mendorong kesetaraan gender dan mendidik masyarakat supaya sadar gender dengan membangun kesadaran gender insan media, sensitif gender dalam setiap aktivitas jurnalistik, mengurangi / menghilangkan tulisan yang bias gender, serta menghapus diskriminasi gender dalam organisasi media dalam hal penugasan, pengupahan, reward & punishment.

Penulis: Natalia Trijaji