Perempuan: Harus Lebih Peduli Diri Sendiri & Bermanfaat Bagi Sekitar

Perempuan: Harus Lebih Peduli Diri Sendiri & Bermanfaat Bagi Sekitar
Perempuan: Harus Lebih Peduli Diri Sendiri & Bermanfaat Bagi Sekitar

Perempuan: Harus Lebih Peduli Diri Sendiri & Bermanfaat Bagi Sekitar

Dari talkshow memperingati International Women’s Day di Mercure Surabaya

Surabaya, Kabarindo- Kaum perempuan harus lebih peduli pada diri sendiri dengan menjaga kesehatan, tetap merawat diri di tengah kesibukan mengurus keluarga dan bekerja serta bisa memberikan manfaat bagi orang-orang di lingkungan sekitar.

Kesimpulan ini bisa ditarik dari talkshow yang diadakan Mercure Grand Mirama Surabaya dalam rangka memperingati International Women’s Day pada Kamis (8/3/2018) dengan mengangkat tema healthy, beauty & leadership.

Acara tersebut menghadirkan pembicara Titik Winarti, owner Tiara Handicraft, dr.Clarissa Maya Tjahjosarwono dari Estine Aesthetic Clinic dan dr.Andy Achmad Suanda SpB (K) Onk, FinaCS, FICS. Masing-masing memaparkan materi yang menarik sesuai bidangnya, sehingga membuat para peserta talkshow benar-benar mencermati materi yang disampaikan.

Titik menuturkan perjalanannya saat memulai usaha Tiara Handicraft pada Maret 1995, mengalami jatuh bangun hingga akhirnya mapan seperti sekarang. Ia memiliki karyawan yang semuanya penyandang difabel. Ia telah mengentas 700 orang difabel dan saat ini mempekerjakan 40 karyawan difabel. Upaya mulia Titik membuatnya diundang ke berbagai seminar di sejumlah negara, bahkan ia pernah menjadi pembicara di sebuah acara di markas PBB di New York.

Tempat usaha olah kain dan sablon milik Titik di Surabaya memang hanya menerima karyawan penyandang difabel sesuai dengan komitmennya untuk membantu mereka yang sulit mendapat pekerjaan di perusahaan-perusahaan lainnya.

Menurut Titik, niat awalnya membuka usaha hanya untuk mengisi waktu luang di sela kesibukannya sebagai ibu rumah tangga dengan memproduksi tas dari kain. Semula ia hanya mempekerjakan karyawan yang normal, namun satu per satu mereka keluar. Lalu ia mulai menerima penyandang difabel yang justru membuatnya terus bersemangat untuk membimbing mereka dengan mengajari cara menjahit dan lainnya sampai mahir. Titik akhirnya hanya mempekerjakan karyawan difabel. Ia senang bisa membantu mengentas mereka dan mereka juga senang bisa mandiri.

“Saya ingin mereka bisa mandiri dan sukses. Saya ajari mereka supaya pintar menjahit. Setelah mahir, saya dorong mereka untuk membuka usaha sendiri,” ujarnya.

Titik mendorong kaum perempuan untuk mandiri dan sukses tanpa meninggalkan keluarga, karena keluarga tetap yang utama. “Perempuan boleh punya cita-cita tinggi, perempuan bisa jadi apa saja. Tapi jangan abaikan keluarga. Mereka tetap harus diutamakan,” ujarnya.

Sementara dr. Clarissa membahas tentang perlunya perempuan merawat diri pada usia berapapun, terutama seiring bertambahnya usia, karena tentu berdampak pada kondisi kulit dan wajah.

Ia menekankan, perawatan tidak hanya untuk wajah, namun juga seluruh tubuh. Untuk kulit wajah, perlu perawatan sehari-hari yang simple, mulai dari membersihkan wajah dengan cleanser, disusul toner dan moisturizer untuk melembabkan kulit. Tak boleh ketinggalan menggunakan protector sun screen yang mengandung SPF untuk melindungi kulit dari paparan sinar matahari. SPF dioleskan 30 menit sebelum beraktivitas dan diulangi setelah waktu tertentu. Misalnya SPF 25 berarti mampu melindungi kulit selama 25x10 menit, sehingga harus diulangi setelah 250 menit.

Untuk mengurangi atau menyamarkan keriput, bisa melakukan perawatan dengan injeksi botox yang mampu bertahan 3-6 bulan. Kemudian filler bisa dilakukan untuk mengisi area yang cekung / kosong di wajah. Ada pula laser CO2 yang dapat memperbaiki kulit yang rusak karena paparan sinar matahari dan bekas luka di wajah.

Sedangkan dr. Andy membahas tentang kanker payudara yang menjadi pembunuh nomor 2 setelah kanker paru-paru di Indonesia. Kanker ini lebih sering menyerang perempuan usia di atas 40 tahun, namun akhir-akhir ini juga banyak menyerang usia di bawah 40 tahun.

Ia mengatakan, sebagian besar pasien datang ke dokter pada stadium lanjut dengan kondisi yang bisa dikatakan terlambat. Hal ini bisa disebabkan beberapa faktor, di antaranya kurangnya pengetahuan atau kesadaran untuk rutin memeriksakan diri. Padahal jika penyakit ini diketahui sejak dini, kemungkinan untuk sembuh sangat besar.

Kaum perempuan bisa melakukan pemeriksaan sendiri secara sederhana di rumah dengan meraba payudara mereka untuk mengetahui kalau-kalau ada benjolan. Selain itu bisa melakukan mamografi bagi perempuan usia 35 tahun ke atas.

“Perempuan harus lebih peduli pada diri sendiri dengan memperhatikan kesehatan diri mereka agar jangan sampai terkena penyakit yang mematikan seperti kanker payudara,” ujarnya.