Profesor ITS; Kembangkan Teknologi Kesehatan Berbasis Kecerdasan Artifisial

Profesor ITS; Kembangkan Teknologi Kesehatan Berbasis Kecerdasan Artifisial

Profesor ITS; Kembangkan Teknologi Kesehatan Berbasis Kecerdasan Artifisial

Dapat digunakan untuk mendeteksi osteoporosis menggunakan citra rahang, identifikasi penyakit periodontitis kronis dan estimasi usia melalui citra panorama gigi

Surabaya, Kabarindo- Inovasi dalam teknologi medis ikut menjadi perhatian sivitas akademika Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) untuk dikembangkan.

Salah satunya melalui teknologi pengolahan citra medis lewat kecerdasan artifisial yang diciptakan oleh Prof Dr Agus Zainal Arifin SKom MKom. Temuannya ini mengantarkannya menjadi guru besar ITS..

Kecerdasan artifisial berbasis aplikasi citra medis temuan Agus dapat digunakan untuk mendeteksi osteoporosis menggunakan citra rahang, identifikasi penyakit periodontitis kronis dan estimasi usia melalui citra panorama gigi. Juga klasifikasi massa pada citra mammogram untuk mendeteksi kanker payudara dan deteksi parasit malaria melalui citra apusan tebal darah.

Salah satu aplikasi temuannya yaitu pendeteksi osteoporosis sudah mendapatkan hak paten sejak 2011. Melalui aplikasi ini, dokter gigi bisa mendapatkan informasi awal terkait osteoporosis menggunakan citra rahang penderita. Nantinya informasi tersebut dapat digunakan untuk merujuk penderita ke dokter spesialis yang relevan. sehingga dapat mengurangi risiko patah tulang akibat penanganan yang terlambat.

Menurut Agus, purwarupa pendeteksi osteoporosis menggunakan citra rahang sudah diuji coba dengan baik dan mulai digunakan oleh dua dokter gigi di Surabaya dan Bandung.

“Tanggapan mereka sangat baik, karena merasakan kemudahan dalam mendeteksi penyakit lebih awal,” ujar dosen Departemen Informatika ITS ini.

Agus juga menciptakan aplikasi deteksi osteoporosis dengan Cone-Beam Computed Tomography (CBCT). Kelebihannya, memiliki resolusi yang tinggi dengan dosis radiasi relatif rendah. Aplikasi ini juga sudah jadi dan diuji coba dengan baik.

“Namun aplikasi ini belum banyak digunakan, karena harganya yang relatif mahal meskipun lebih murah dibandingkan CT-Scan,” ujar dosen yang menyelesaikan studi doktornya di Hiroshima University, Jepang, ini.

Pengembangan teknologi medis yang dilakukan Agus juga menghasilkan perangkat bantu estimasi usia berdasarkan citra radiografi panoramik gigi untuk individu usia dewasa. Hasil penelitian ini sangat penting untuk membantu tenaga ahli odontologi forensik mengidentifikasi usia korban kecelakaan atau bencana melalui fitur gigi.

“Penggunaan gigi ini karena meski tubuh sudah hancur, membusuk, terbakar atau termutilasi masih dapat dilakukan identifikasi,” jelas dosen kelahiran 9 Agustus 1972 ini.

Sedangkan pengembangan sistem untuk mendeteksi parasit malaria pada citra apusan tebal darah berkualitas rendah, diharapkan dapat digunakan untuk proses diagnosis malaria di Indonesia, khususnya di wilayah timur yang memiliki potensi malaria yang tinggi. Penelitian ini, kata Agus, adalah bagian dari kerja sama dengan Badan Pusat Pengkajian Teknologi (BPPT) dan Lembaga Biologi Molekuler Eijkman.

Pemanfaatan kecerdasan artifisial di dunia medis yang dikembangkan Agus diharapkan dapat meminimalisir tingkat kesalahan dalam pengambilan keputusan medis. Sehingga ke depannya dapat berperan meningkatkan kualitas hidup manusia. Replikasi perangkat lunak yang digunakan pun tidak memerlukan biaya tinggi. Hal ini diharapkan dapat menekan biaya layanan kesehatan.

Agus berharap, temuannya tersebut dapat menginspirasi berkembangnya integrasi keilmuan di bidang pengolahan citra digital, visi komputer dan kecerdasan artifisial demi terwujudnya kemandirian dan kedaulatan teknologi alat kesehatan.

“Pada akhirnya akan tercipta peningkatan kualitas hidup manusia, karena keterjangkauan biaya kesehatan dan semakin canggihnya alat kesehatan,” ujarnya.

Penulis: Natalia Trijaji