Strategi Investasi; di Tengah Bayang-Bayang Ketidakpastian

Strategi Investasi; di Tengah Bayang-Bayang Ketidakpastian

Strategi Investasi; di Tengah Bayang-Bayang Ketidakpastian

Bank Commonwealth berikan tips

Surabaya, Kabarindo- Pasar saham Indonesia terkoreksi cukup dalam dengan IHSG anjlok -5,71% sepanjang Januari 2020, sementara indeks obligasi pemerintah Indonesia (BINDO) menguat sebesar +2,17%.

Dalam kondisi ekonomi yang dibayangi dengan ketidakpastian saat ini, Bank Commonwealth merekomendasikan investor yang memiliki profil risiko moderat untuk sementara dapat menambahkan porsi portofolionya ke dalam instrumen pendapatan tetap yaitu obligasi. Untuk investor yang memiliki profil risiko agresif, dapat memanfaatkan peluang ini untuk menambah porsi aset kelas saham di portofolionya melalui reksa dana saham

Ekspektasi untuk memulai 2020 dengan lebih cerah, yang didukung oleh ditandatanganinya kesepakatan perdagangan fase satu antara AS dan Tiongkok, memudar setelah munculnya wabah virus corona yang menimbulkan kekhawatiran akan memberi dampak negatif terhadap ekonomi global. Banyak ekonom menilai masih terlalu dini untuk menghitung dampak akibat penyebaran wabah virus corona. Namun bagi mitra dagang Tiongkok, berhentinya aktivitas bisnis dan manufaktur akibat penyebaran virus tersebut dapat menghambat rantai pasokan secara luas.

Selain itu dengan berkurangnya konsumsi dari masyarakat Tiongkok yang saat ini ekonomi Tiongkok lebih ditopang oleh konsumsi, dikhawatirkan pertumbuhan ekonomi Tiongkok khususnya pada kuartal I/2020 akan melambat.

“Munculnya virus baru 2019-nCoV atau yang lebih familiar disebut dengan virus corona membawa kekhawatiran pada investor pasar keuangan yang menyebabkan pasar saham global dan domestik anjlok pada bulan lalu dan berlanjut pada pekan pertama Februari,” ujar Head of Wealth Management & Premier Banking Bank Commonwealth, Ivan Jaya.

Dari sisi domestik, perekonomian Indonesia tumbuh 5,02% dan memiliki fundamental yang cukup kuat dengan ditopang perbaikan ekspor dan konsumsi rumah tangga yang cukup baik. Selain itu, Bank Indonesia mempertahankan suku bunga acuan 7 Days Reverse Repo Rate di level 5,0% untuk bulan ketiga, cadangan devisa per akhir Desember 2019 naik USD 2,55 miliar ke level USD 129,18 miliar, dan inflasi Indonesia tahun 2019 tercatat 2,72% yang merupakan level terendah dalam 10 terakhir.

Lembaga pemeringkat Moody’s Investor Service (Moody’s) mengafirmasi peringkat sovereign credit rating Indonesia pada level Baa2/outlook stabil (Investment Grade) pada 10 Februari lalu dan sebelumnya Fitch Ratings mempertahankan peringkat kredit Indonesia di BBB dengan outlook stabil.

Ivan menjelaskan, selain data pertumbuhan PDB dan defisit transaksi berjalan Indonesia sepanjang 2019 yang sudah dirilis, yang perlu diperhatikan pada bulan ini adalah seberapa besar dampak penyebaran wabah virus corona terhadap ekonomi Tiongkok, dunia maupun Indonesia, serta bagaimana pemerintah masing-masing negara mengantisipasi hal tersebut. Juga perkembangan pembahasan RUU Omnibus Law oleh pemerintah dapat segera diberikan ke DPR untuk segera dibahas.

Melihat kondisi tersebut, Ivan melanjutkan, strategi investasi yang dapat dilakukan pada bulan ini adalah dengan menambah portofolio di reksa dana saham bagi investor yang memiliki profil risiko agresif dan menambahkan instrumen pendapatan tetap yaitu obligasi ke dalam portofolio bagi investor yang memiliki profil risiko moderat.

Obligasi, yang merupakan surat utang yang berisi janji dari penerbit surat utang untuk membayar sejumlah imbalan berupa bunga dalam suatu periode tertentu dan akan melunasi pokok utang pada waktu yang telah ditentukan kepada pembeli surat utang tersebut, memberikan tiga keuntungan bagi investor.

Pertama, investor akan mendapatkan kupon secara berkala, yang tingkat kuponnya biasanya lebih tinggi dari bunga deposito. Banyak faktor yang dapat mempengaruhi tingkat kupon seperti kredibilitas penerbit, jangka waktu obligasi, tingkat inflasi dan tingkat suku bunga acuan.

Kedua, berpotensi memperoleh capital gain, jika obligasi tersebut dapat diperdagangkan di pasar sekunder. Ketiga, risiko yang lebih rendah dibandingkan instrumen saham. Harga obligasi di pasar sekunder cenderung memiliki volatilitas yang lebih rendah dibandingkan dengan instrumen saham. Bahkan untuk obligasi yang diterbitkan pemerintah para pelaku pasar sepakat bahwa instrumen tersebut merupakan instrumen yang bebas risiko.

Penulis: Natalia Trijaji