31 Mahasiswa Terbaik ASEAN; Ikut Hitachi Young Leaders Initiative (HYLI)

31 Mahasiswa Terbaik ASEAN; Ikut Hitachi Young Leaders Initiative (HYLI)

Jakarta, Kabarindo- Hitachi Young Leaders Initiative (HYLI), program kemasyarakatan Hitachi Asia Ltd telah menerbitkan sebuah  buku putih (white paper) yang berisi ide-ide dan rekomendasi untuk sistem transportasi yang lebih efisien di kawasan ASEAN.
Buku putih (white paper) tersebut disusun berdasarkan acara dan kegiatan yang dilaksanakan sebelum dan selama HYLI ke-13 yang diselenggarakan di Makati, Filipina.

Program HYLI ke-13 mempertemukan 31 mahasiswa dari 8 negara yaitu Indonesia, Filipina, Malaysia, Myanmar, Singapura, Thailand, Vietnam dan Jepang. Indonesia diwakilkan oleh empat mahasiswa terbaik dari tiga universitas ternama di Indonesia; yaitu Sartika Hasirman dan Adeline Tiffanie Suwana dari Universitas Indonesia; Reza Rizky Darmawan dari Institut Teknologi Bandung (ITB), dan Andhanu Surya Ismail dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya.

Para mahasiswa tersebut berinteraksi dengan para ahli dan profesional yang berasal dari sektor publik dan swasta untuk membahas berbagai masalah sesuai tema, "Perspektif ASEAN terhadap Tantangan Sosial dan Lingkungan dalam Merancang dan Mengimplementasikan Sistem Transportasi Umum" (ASEAN Perspectives on the Social and Environmental Challenges of Designing and Implementing Public Transportation Systems), berfokus untuk menemukan solusi inklusif dan berkelanjutan terhadap transportasi umum di negara-negara ASEAN.

Melalui program yang berlangsung selama empat hari ini, para mahasiswa mendapat kesempatan untuk mendengarkan para narasumber ternama yang berbagi pemikiran dan pendapat mereka mengenai berbagai permasalahan yang dihadapi ASEAN di bidang transportasi, dan solusi yang dapat membantu menyelesaikan permalahan tersebut. Berinteraksi dengan masyarakat juga merupakan bagian dari pengalaman berharga karena mereka mendapatkan kesempatan untuk berbaur dengan masyarakat perkotaan di kota Taguig, salah satu distrik tersibuk di Metro Manila.

Salah satu sesi penting selama program tersebut adalah presentasi yang disampaikan oleh para mahasiswa yang menampilkan berbagai hal yang telah mereka pelajari dari para narasumber, mentor, serta dari pengalaman dalam bidang masing-masing. Dengan memadukan pengetahuan yang baru mereka peroleh dengan hasil penelitian mereka mengenai berbagai situasi khusus di masing-masing negara, presentasi mereka membahas keberlanjutan transportasi publik sambil mencari cara terbaik agar solusi yang mereka tawarkan dapat sesuai dengan gaya hidup modern masyarakat.

Presentasi mahasiswa dibagi menjadi empat kelompok. Dua kelompok pertama diberi kesempatan untuk mengeksplorasi ide-ide berdasarkan sub-tema: Gambaran pilihan-pilihan infrastruktur untuk sistem transportasi yang berpusat pada manusia dan ramah lingkungan (An overview of the infrastructural options for people-centric and environment-friendly transportation systems). Pada intinya, kedua kelompok sepakat bahwa keselamatan masyarakat merupakan hal yang penting ketika mendorong penggunaan transportasi umum. Namun sayangnya, kondisi fasilitas umum dan sistem infrastruktur yang kurang baik membuat masyarakat lebih memilih untuk menggunakan kendaraan pribadi. Guna meyakinkan masyarakat untuk menggunakan fasilitas transportasi umum, mahasiswa mengusulkan hub transportasi, sumber daya ramah lingkungan untuk kendaraan, sistem feeder, dan solusi teknologi informasi (IT) terintegrasi.

Melalui sub-tema: Membentuk budaya berbagi: Perubahan gaya hidup untuk transportasi yang efisien (Shaping a culture of sharing: Lifestyle changes for efficient transportation), kelompok 3 dan 4 merujuk pada infrastruktur yang buruk, kurangnya koordinasi antara pemerintah dan sektor swasta, tidak dapat diaksesnya informasi yang tepat, dan kemacetan lalu lintas sebagai alasan utama mengapa masyarakat harus mulai mengadopsi budaya berbagi. Tiga solusi kunci muncul selama presentasi mahasiswa: insentif dari pemerintah kepada perusahaan swasta untuk melakukan promosi naik kendaraan bersama (ride sharing); pengembangan aplikasi mobile dan data analitik yang besar untuk menyediakan informasi yang benar bagi masyarakat; dan telecommuting untuk mengurangi penggunaan transportasi dan mengurangi kemacetan.

“HYLI ke 13 telah memicu serangkaian diskusi aktif antara para mahasiswa, ahli, pemimpin dan masyarakat lokal mengenai tantangan mobilitas inklusif di ASEAN. Buku putih (white paper) ini menggambarkan pendapat mereka yang terkena dampak dari permasalahan transportasi publik dan ingin membuat perbedaan. Dengan demikian, kami ingin berbagi dengan orang-orang yang berpikiran sama," tegas Ichiro Iino, Chief Executive for Asia Pacific, Hitachi, Ltd., dan Chairman, Hitachi Asia Ltd.