Art For Autism; Unjuk Kebolehan Anak-Anak Penyandang Autisme

Art For Autism; Unjuk Kebolehan Anak-Anak Penyandang Autisme

Surabaya, Kabarindo- Anak-anak penyandang autisme tak ingin dikasihani, melainkan diperhatikan dan diberi kesempatan untuk berkreasi dan berkarya.

Inilah yang dilakukan anak-anak penyandang autisme dalam event Art For Autism yang diadakanYayasan Advokasi Sadar Autisme (ASA)  di atrium Grand City Mall pada Jumat-Minggu, 4-6 April 2014. Event ini merupakan tahun kedua.

Oky Mia Octaviany, Ketua Yayasan ASA, mengatakan yayasan ini bermula dari komunitas orang tua anak-anak penyandang autisme. Anak-anak ini membutuhkan keterbukaan dan keramahan masyarakat terhadap mereka.

Visi ASA adalah mewujudkannya dengan mendorong semua pihak untuk bekerja sama memenuhi hak-hak mereka sebagai warga negara yang mencakup hak untuk hidup, berekspresi, memperoleh jaminan kesehatan, pendidikan dan hak pilih bagi penyandang autisme dewasa.

Hak untuk berekspresi ini diwujudkan dalam Art For Autism yang menampilkan karya anak-anak penyandang autisme dan seniman yang peduli autisme. Karya mereka berupa lukisan, foto dan hasil kerajinan tangan seperti wadah tisu, telur hias dan lainnya. Anak-anak juga menampilkan musik dan tarian di panggung.

“Art For Autism adalah upaya untuk mengajak masyarakat melihat bahwa penyandang autisme dapat diterima dalam interaksi sosial,” ujar Oky.

Anak-anak tersebut unjuk kebolehan untuk membuktikan bahwa mereka seperti anak-anak normal lainnya yang mampu berekspresi dan berkarya. Ada beberapa anak yang membawakan lagu-lagu, ada pula yang memainkan alat musik. Juga ada sejumlah siswa yang menari Kecak.

Bahkan ada anak lelaki bernama Daniel yang jenius dan meraih rekor MURI karena mampu mengetahui hari-hari dan tahun selama 150 tahun mulai 1900-2050. Ia bisa menyebutkan dengan benar hari kelahiran para pengunjung yang menanyakan kepadanya. Sementara Evelyn Oktavia Lukito memajang wadah tisu hasil karyanya. Gadis kelahiran 5 Oktober 1998 ini tampak bangga dan senang bisa ikut pameran.

Yang mengharukan adalah ungkapan hati seorang anak bernama She She usia 9 tahun di secarik kertas yang diletakkan di atas kerajinan tangan hasil karyanya. Isinya menyebutkan bahwa ia ditinggal di depan pintu sebuah pondok pesantren di Sidoarjo saat berusia 4 tahun. Banyak pengunjung yang matanya berkaca-kaca usai membaca tulisannya.

“Prestasi mereka, sekecil apapun harus dihargai,” ujar Vika Wisnu, ketua panitia Art For Autism.

Event tersebut didukung PT Ladang Lima, produsen tepung Gluten Free yang menawarkan produk sebagai bahan untuk membuat makanan bagi penyandang autisme yang umumnya alergi terhadap gluten (gandum dan turunannya).

“Orang tua perlu memahami produk yang aman dan cara mengolah menu yang tepat bagi anak-anak mereka yang menyandang autisme,” ujar Nisa, Marketing Manager PT Ladang Lima.