Donor ASI Halal; Dalam Perspektif Islam

Donor ASI Halal; Dalam Perspektif Islam

Jakarta, Kabarindo- Ada suatu kondisi tertentu saat seorang ibu mengalami kesulitan mengeluarkan ASI dari payudaranya.

Dalam kondisi ini, hal yang dapat dilakukan adalah mengikuti program donor ASI atau pergi ke Bank ASI. Namun, ada beberapa orang yang masih mempertanyakan, apakah kegiatan donor ASI diizinkan agama, terutama Islam?

Dalam seminar berjudul "Breastfeeding Update In Daily Practice", Dr Isnawati Rais MA, Dosen Sekolah Pascasarjana UIN menyebutkan bahwa dalam Islam, hukum donor ASI diperbolehkan alias halal. Disebutkan juga, dalam Al Quran surat Al Baqarah ayat 233, waktu yang pas untuk menyusui secara sempurna maksimal 2 tahun. Jika ada kendala, misalnya sang ibu tidak memiliki air susu yang sedikit, dibolehkan kurang dari 2 tahun, asalkan terdapat kesepakatan antara suami dan istri.

"Menurut surat Al Baqarah ayat 233, donor ASI dibolehkan dalam Islam. Selain itu, kegiatan donor tidak selalu diasosiasikan dengan kegiatan sosial atau non-profit. Jadi, ibu pendonor ASI dapat menerima upah atas jasa pemberian ASI, asalkan pembayarannya dengan cara yang patut," ungkap Isnawati, dalam seminar di Hotel Santika Premier, Jakarta, Rabu (28/8).

Salah satu bukti bahwa donor ASI diperbolehkan dalam Islam, menurut Isnawati pula, adalah pengalaman yang dialami oleh Nabi Muhammad SAW di masa kecilnya. Di mana saat itu beliau mempunyai ibu susu bernama Halimah. Kemudian Nabi Muhammad dibawa ke tempat tinggal Halimah di daerah pegunungan, karena saat itu keadaan Mekkah, khususnya kondisi udaranya, tidak lagi ideal bagi kelangsungan hidup bayi.

Isnawati menambahkan, ada dua jenis donor ASI, yaitu langsung dan tidak langsung. Donor langsung artinya sang ibu pendonor susu diketahui jelas identitasnya. Sementara dalam donor tidak langsung, identitas sang ibu pendonor bisa jelas, bisa juga tidak, dan mereka memberikan ASI melalui alat seperti selang atau dot.

Namun menurut Isnawati, ada beberapa hal yang harus digarisbawahi oleh para ibu yang akan melakukan donor ASI, maupun mencari jasa donor ASI. Yaitu ternyata, ada dampak hukum terhadap donor ASI yang melarang atau mengharamkan hubungan pernikahan antara kedua keluarga yang memberikan donor ASI maupun yang menerimanya. Ketentuan itu dinamakan Mahram.

Adapun pengelompokan orang yang diharamkan untuk dinikahi karena sepersusuan yaitu perempuan yang menyusui dan ibunya, anak perempuan dari perempuan yang menyusui, saudara perempuan dari perempuan yang menyusui, anak perempuan dari anak perempuan dari perempuan yang menyusui, ibu dari suami dari perempuan yang menyusui, saudara perempuan dari suami dari perempuan yang menyusui, anak perempuan dari anak laki-laki dari perempuan yang menyusui, anak perempuan dari suami dari wanita yang menyusui, serta istri lain dari suami dari wanita yang menyusui.

Dituturkan pula, banyak pendapat yang telah dilontarkan mengenai Mahram ini. Ada beberapa ulama mengatakan, Mahram sudah terjadi saat penyusuan pertama kalinya. Sementara ulama lain menyebutkan, Mahram baru terjadi setelah 3 kali penyusuan.

Namun sebagian besar ulama menyepakati, kondisi Mahram baru terjadi setelah 5 kali penyusuan yang sempurna dalam waktu dua tahun. Artinya, jika seorang bayi meminum susu dari ibu pendonor yang sama lebih dari lima kali, dan setiap kali meminum ASI bayi itu merasa kenyang atau melepaskan sendiri mulutnya dari puting susu sang ibu, maka terjadi pengharaman hubungan pernikahan di antara kedua keluarganya.

"Jadi, ketika seorang bayi telah 5 kali berturut-turut menerima donor ASI dari ibu yang sama, maka terjadilah hubungan Mahram. Hal ini berlaku pada kedua jenis donor, langsung maupun tidak langsung," kata Isnawati pula seperti dilansir dari laman beritasatu.