KESDM Gandeng Kemenhub; Jalin Kerjasama Aviation Biofuel

KESDM Gandeng Kemenhub; Jalin Kerjasama Aviation Biofuel

Jakarta, Kabarindo- Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (KESDM) cqDirektorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (Ditjen EBTKE) menandatangani kesepakatan bersama (Memorandum of Understanding/MoU) dengan Kementerian Perhubungan dalam hal ini Direktorat Jenderal Perhubungan Udara.

Penandatangan tersebut dilakukan oleh Direktur Jenderal EBTKE, Rida Mulyana dengan Direktur Jenderal Perhubungan Udara, Herry Bakti dan disaksikan langsung oleh Menteri ESDM, Jero Wacik serta Menteri Perhubungan di Gedung Kementerian Perhubungan, Jakarta, akhir pekan ini seperti dilansir dari laman energitoday.

Ruang lingkup kerjasama ini meliputi koordinasi dengan isntansi terkait, pelaksanaan penelitian, pengembangan, uji coba, dan persiapan sertifikasi, penyiapan regulasi terkait, sosialisasi, serta pengawasan penggunaan Aviation Biofuel pada pesawat udara dan energi terbarukan secara berkelanjutan pada bandar udara.

"Saat ini isu penggunaan energi fosil yang tidak ramah lingkungan dan isu perubahan iklim menjadi perhatian bersama. Pemerintah Indonesia telah berkomitmen untuk mengurangi emisi gas rumah kaca pada tahun 2020 sebesar 26 persen dengan upaya sendiri dan 41 persen dengan dukungan internasional. Oleh karena itu peningkatan pemanfaatan energi terbarukan sebagai energi bersih harus dioptimalkan," kata Jero dalam sambutannya di kantor Kementerian Perhubungan, Jakarta, Jumat (27/12).

Menurut dia, Indonesia berpotensi menjadi hubungan lalu lintas udara internasional apabila dapat memanfaatkan sumber bahan baku yang dimiliki untuk menyediakan bioavtur, tidak saja untuk keperluan domestik tetapi juga penerbangan internasional.

Pemanfaatan bioavtur mulai diimplementasikan pada tahun 2016 yaitu dengan mencampur (blending) 2 persen biofuel dengan avtur atau setara dengan 95 ribu kiloliter (KL) dengan proyeksi kebutuhan avtur Pertamina pada tahun tersebut sebesar 4,8 juta KL, sedangkan pada tahun 2020 kebutuhan avtur diperkirakan 5,8 juta KL dan pada tahun 2017 dengan memblending 3 persen biofuel pada avtur ditargetkan produksi bioavtur bisa mencapai 175 ribu KL.

Senada dengan Jero Wacik, Evert Erenst Mangindaan menuturkan kesepakatan ini merupakan tindak lanjut atas kebijakan, strategi dan aksi langkah program rencana aksi gas rumah kaca (RAN-GRK) Kementerian Perhubungan yang telah ditetapkan di dalam Keputusan Menteri Perhubungan No.201 tahun 2013.

"Antara lain mencakup implementasi Aviation Biofuel dengan bauran 2 persen pada tahun 2016 dan target bauran 3 persen pada tahun 2020, demikian juga dengan pemanfaatan energi terbarukan yaitu sebesar 7,5 MW pada bandar udara hingga tahun 2020," pungkasnya mantap.