Kabupaten Tana Toraja; Siap Punya Bandara Buntu Kuni

Kabupaten Tana Toraja; Siap Punya Bandara Buntu Kuni

Toraja, Sulawesi Selatan, Kabarindo- Gubernur Sulawesi Selatan (Sulsel) Syahrul Yasin Limpo.

Ia berharap, pekerjaan pembangunan Bandar Udara (Bandara) Perintis Buntu Kuni di Kecamatan Mangkendek, Kabupaten Tana Toraja, Sulawesi Selatan (Sulsel) dapat dipercepat karena bandara ini sangat terkait dengan perencanaan pengembangan industri pariwisata di Sulsel, khususnya Tana Toraja.

“Destinasi Toraja akan semakin berkembang jika bandara Buntu Kuni sudah rampung, sebab selama ini animo wisatawan mancanegera untuk berkunjung ke Toraja sangat besar, hanya karena sulitnya akses lewat udara, mereka terpaksa berpaling ke daerah tujuan wisata lain,” ujarnya kepada SP, Minggu (29/3).

Ketua Asosiasi Pemerintahan Provinsi Seluruh Indonesia (APPSI) itu mengatakan, jumlah wisatawan yang berkunjung ke Sulsel masih sangat rendah, padahal Toraja dengan andalan wisata budaya menjadi impian wisatawan.

Syahrul pernah merintis pengembangan pariwisata yang berakses dari Bali ke Toraja, menandatangani naskah kesepakatan dan perjanjian kerja sama kebudayaan dan pariwisata dengan Gubernur Bali I Made Mangku Pastika, di Denpasar.

Saat itu, Made mengatakan, Bali siap menjadi lokomotif yang akan menarik gerbong kepariwisataan Sulsel dan daerah lainnya.

Wisatawan umumnya mengeluh untuk berkunjung ke Toraja sebab dari Bali mereka harus ke Bandara Sultan Hasanuddin, lalu menempuh perjalanan darat yang melelahkan sejauh lebih 320 kilometer.

“Kuncinya adalah bandara, harus segera diselesaikan, paling tidak, tersedia bandara yang dapat didarati pesawat boeing sehingga wisatawan dari Bali bisa lanjut ke Toraja,” katanya.

Bandara Buntu Kuni dirintis sejak 2010. Pemerintah pusat mendanai bandara tersebut sedangkan pembebasan lahannya oleh Pemerintah Daerah (Pemda) Tana Toraja. Panitia sembilan dibentuk Pemda. Mereka bertanggung jawab melakukan pembebasan lahan dan land clearing sejak 2011 dengan sumber dana dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Tana Toraja.

Proses pembebasan lahan itu menyisakan masalah hukum karena beberapa pejabat yang tergabung dalam tim sembilan tersandung kasus korupsi hingga sempat menghambat proses pembebasan lahan.

Kepala Bandara Toraja Alex mengatakan, lokasi Buntu Kuni ini tidak seperti bandara lain. Topografinya agak rumit karena harus membelah gunung, menimbun dan meratakan untuk mendapatkan luasan lahan seperti yang direncanakan yaitu 141 hektare (ha) seperti dilansir dari laman beritasatu.